Nur Sholikhah
Suatu
saat nanti di pagi hari
Kau
duduk di sebelahku dengan secangkir kopi
Di
teras depan rumah tanpa kursi-kursi
Memandang
bunga-bunga bermekaran yang sengaja kutanam
Agar
kupu warna-warni tak segan bertandang
Aku dan
kau bercengkrama mengumbar kata-kata
Kau
ceritakan betapa hari kerjamu membosankan
Kukisahkan
betapa cerita fiksiku berantakan
Kita
sama-sama mengadu
Mengurai
dan mencari celah untuk tidak bersiteru
Kau
bilang bahwa kita masih punya Tuhan
Kubalas
bahwa hidup memang penuh kejutan
Lalu
kita sama-sama tertawa
Sadar
kita hanya manusia biasa dengan sejuta perkara
Dan
secangkir kopimu telah tandas
Menyisakan
ampas hitam di dasar gelas
Begitupun
keluh kesahmu dan pengaduanku
Selesai
terungkap menyeluruh tanpa kaku
Lalu
aku berkata dengan mataku yang menyala
“Aku
bahagia Tuhan memberiku rumah, tempat untuk pulang menepis luka-luka”
“Aku
bahagia Tuhan memberiku rasa cinta, karena dengan cinta aku bisa menemukan
kebaikan di mana-mana”
Dan kau
pun tersenyum sangat sederhana
Sesederhana
aku mengingat Tuhan dalam dirimu yang tak sempurna
Kini
aku percaya perkataan Rumi bahwa cintalah yang menerangkan dirinya sendiri
Terima
kasih orang baik,
Terima
kasih Tuhan atas nikmat yang setiap hari bisa kupetik
Pondok Pesantren Darun Nun Malang
