Aku kagum pada ibu. Seorang perempuan tangguh yang
membesarkan anak-anaknya, mengabdi pada seorang lelaki selama hidupnya dan yang
sering mengorbankan mimpi-mimpinya. Tuhan menciptakan seorang perempuan dengan sempurna,
dengan hati nurani yang lembut dan air mata yang bercahaya.
membesarkan anak-anaknya, mengabdi pada seorang lelaki selama hidupnya dan yang
sering mengorbankan mimpi-mimpinya. Tuhan menciptakan seorang perempuan dengan sempurna,
dengan hati nurani yang lembut dan air mata yang bercahaya.
Aku juga kagum pada bapak. Seorang lelaki tegas yang
bekerja keras demi mulianya seorang perempuan dan buah hatinya. Pundaknya yang
tegar diciptakan dengan sempurna untuk menanggung beban dan tanggung jawab yang
besar. Ia yang mengayomi, memberi rasa aman pada keluarga, dan menyimpan air
matanya.
bekerja keras demi mulianya seorang perempuan dan buah hatinya. Pundaknya yang
tegar diciptakan dengan sempurna untuk menanggung beban dan tanggung jawab yang
besar. Ia yang mengayomi, memberi rasa aman pada keluarga, dan menyimpan air
matanya.
Aku kagum pada ibu, aroma kopi yang ia aduk setiap
pagi menjadi rutinitas yang selamanya akan kuingat. Dan karena itulah aku suka
kopi, ibu yang memberiku kesempatan untuk menyecap rasa dan mencium aromanya
sedari dini. Sering orang bertanya mengapa aku bisa menyukai kopi hitam yang
jarang perempuan senangi. Bahkan aku baik-baik saja meski meminumnya sebelum
sarapan pagi. Aku menjawab bahwa itu karena ibu. Ibu yang membuatku akrab
dengan kopi.
pagi menjadi rutinitas yang selamanya akan kuingat. Dan karena itulah aku suka
kopi, ibu yang memberiku kesempatan untuk menyecap rasa dan mencium aromanya
sedari dini. Sering orang bertanya mengapa aku bisa menyukai kopi hitam yang
jarang perempuan senangi. Bahkan aku baik-baik saja meski meminumnya sebelum
sarapan pagi. Aku menjawab bahwa itu karena ibu. Ibu yang membuatku akrab
dengan kopi.
Aku juga kagum pada bapak. Tawa renyahnya yang dulu
hadir setiap hari membuatku menjadi perempuan yang sering tertawa sendiri saat
kuingat godaanmu pada ibu. Lelucon yang kaubuat mengingatkanku bahwa hidup tidak
perlu dijalani dengan terlalu serius, bercanda adalah salah satu cara untuk
membuat bahagia tercipta dengan sederhana. Karena seringnya aku bercanda di
rumah, kau sempat memarahiku dengan berkata, “Ojo guyon ae!” dengan
nada agak meninggi. Dan ibu akan ikut menimpali, “Mboh, arek kok guyon ae.
Gak ngrungokno daratan!”.
hadir setiap hari membuatku menjadi perempuan yang sering tertawa sendiri saat
kuingat godaanmu pada ibu. Lelucon yang kaubuat mengingatkanku bahwa hidup tidak
perlu dijalani dengan terlalu serius, bercanda adalah salah satu cara untuk
membuat bahagia tercipta dengan sederhana. Karena seringnya aku bercanda di
rumah, kau sempat memarahiku dengan berkata, “Ojo guyon ae!” dengan
nada agak meninggi. Dan ibu akan ikut menimpali, “Mboh, arek kok guyon ae.
Gak ngrungokno daratan!”.
Oh baiklah. Sejak saat itu aku mengurangi intensitas
bercandaku. Tapi aku akan tetap melakukannya saat di luar rumah dengan
orang-orang yang memang ingin kuajak bercanda dan menertawakan hidup kita
bersama. Pak, Bu, jika kau bertanya mengapa aku melakukannya, akan kujawab
dengan sejujurnya.
bercandaku. Tapi aku akan tetap melakukannya saat di luar rumah dengan
orang-orang yang memang ingin kuajak bercanda dan menertawakan hidup kita
bersama. Pak, Bu, jika kau bertanya mengapa aku melakukannya, akan kujawab
dengan sejujurnya.
Hidup manusia modern itu sekarang lucu, Pak.
Orang-orang zaman sekarang itu aneh, Bu. Dan inilah alasan mengapa aku
menertawakan hidup ini. Orang-orang bermimpi punya kerajaan sendiri, punya
kekuasaan wilayah sampai luar negeri. Mereka menobatkan dirinya menjadi raja
atau ratu yang mempunyai banyak pengabdi. Padahal sejatinya mereka hanya
seorang hamba biasa yang sedang tidur pulas dalam angannya sendiri.
Orang-orang zaman sekarang itu aneh, Bu. Dan inilah alasan mengapa aku
menertawakan hidup ini. Orang-orang bermimpi punya kerajaan sendiri, punya
kekuasaan wilayah sampai luar negeri. Mereka menobatkan dirinya menjadi raja
atau ratu yang mempunyai banyak pengabdi. Padahal sejatinya mereka hanya
seorang hamba biasa yang sedang tidur pulas dalam angannya sendiri.
Tidak hanya itu, orang-orang berlomba mencari
perhatian agar dikenal masyarakat luas. Mereka mencari simpati, membangun citra
di atas rebasan air mata orang-orang di sekitarnya. Ada juga yang ingin menjadi
pemimpin negeri, mengejar tahta yang punya potensi besar untuk memberhanguskan
diri. Pak, Bu, bukankah itu hal yang lucu?
perhatian agar dikenal masyarakat luas. Mereka mencari simpati, membangun citra
di atas rebasan air mata orang-orang di sekitarnya. Ada juga yang ingin menjadi
pemimpin negeri, mengejar tahta yang punya potensi besar untuk memberhanguskan
diri. Pak, Bu, bukankah itu hal yang lucu?
Tapi saat aku menertawakan mereka, aku pun sadar
diri, Pak. Aku juga meraba diriku sendiri, Bu. Aku tak bisa melakukan apa-apa
untuk negeri yang sering membuatku gelisah ini. Aku prihatin melihat banyak
peristiwa yang sangsi, ironi. Dan aku tidak bisa melawan karena terbatasnya
ilmu pengetahuan.
diri, Pak. Aku juga meraba diriku sendiri, Bu. Aku tak bisa melakukan apa-apa
untuk negeri yang sering membuatku gelisah ini. Aku prihatin melihat banyak
peristiwa yang sangsi, ironi. Dan aku tidak bisa melawan karena terbatasnya
ilmu pengetahuan.
Pada akhirnya, aku tertawa untuk diriku sendiri.
Pada keberanian yang gagal kubangun, pada ketakutan yang masih menuntun. Dewasa
semakin membuatku terpenjara dalam gelisah, melawan atau bungkam. Bertahan atau
menentang. Patuh atau bersikukuh. Idealis atau realistis. Tapi tenang, Pak, Bu,
aku tak akan pernah gelisah karena kekagumanku padamu.
Pada keberanian yang gagal kubangun, pada ketakutan yang masih menuntun. Dewasa
semakin membuatku terpenjara dalam gelisah, melawan atau bungkam. Bertahan atau
menentang. Patuh atau bersikukuh. Idealis atau realistis. Tapi tenang, Pak, Bu,
aku tak akan pernah gelisah karena kekagumanku padamu.
Caramu menjalani hidup bisa tetap kutiru, meski
kehidupan kini sudah tak sama lagi. Hidup kini lebih rumit, kejahatan bisa
kapan saja menjegal, fitnah bisa di mana saja menyebar, kebencian bisa
seenaknya saja mencekal. Hari-hari harus dijalani dengan hati-hati dan mawas
diri. Tak lupa untuk mengaduk kopi di pagi hari dan tertawa di sela-sela celah
kehidupan yang semakin memuja kelam ini.
kehidupan kini sudah tak sama lagi. Hidup kini lebih rumit, kejahatan bisa
kapan saja menjegal, fitnah bisa di mana saja menyebar, kebencian bisa
seenaknya saja mencekal. Hari-hari harus dijalani dengan hati-hati dan mawas
diri. Tak lupa untuk mengaduk kopi di pagi hari dan tertawa di sela-sela celah
kehidupan yang semakin memuja kelam ini.
Pondok Pesantren Darun Nun Malang



