Dia juga Jagoan Keluarganya Lho

Dia juga Jagoan Keluarganya Lho

Oleh Rizal Rafid Ariqoh

Pernah terpikir dalam benak kita, ”kenapa sih orang ini sifatnya begitu?”, ”kok bisa dia melakukan hal itu?”, ”gitu aja masa dia ngga bisa, padahal gampang lho?”, dan hal-hal lainnya yang kita pikirkan tentang orang lain ketika mereka berbeda dengan kita. Mengapa kita terkadang terlalu mudah menjustifikasi orang lain. Dengan gampangnya kita memberikan stereotip mereka begini dan begitu. Padahal, kita sendiri tidak tau apa yang menjadikannya sosok seperti sekarang ini.

Jika ingin, berkata jujur. Penulis juga pernah dan terkadang masih seperti itu. Namun, tidak juga membenarkan hal ini. Sedikit apa yang ingin penulis bagikan adalah bagaimana kita seharusnya bersikap terhadap fenomena ini. Bagaimana kita, yang notabene adalah ”orang asing” dengan dampangnya memberikan stereotip seseorang. Melabeli bahwasanya dia adalah orang yang seperti ini dan seperti itu. Lantas, apa yang harus kita lakukan ketika mereka memang berbeda atau bahkan ”aneh” bagi kita.

Pertama, setiap orang mempunyai hak dalam bereskpresi. Hak mereka juga termasuk dalam bagaimana mereka menunjukkan jati diri mereka. Hak mereka juga dalam bagaimana mereka menjalani kehidupan. Kita hanya perlu mensikapinya seperlunya, selama hal itu tidak mengusik kehidupan kita. Namun, ketika hal itu memang benar-benar mengusik. Sedikit banyak kita berhak untuk paling tidak mengomentari hal itu.

Akan tetapi, komentar yang kita berikan tidak boleh sampai pada kita memaksakan kehendak kita agar mereka berubah. Semua orang mempunya hak dan proses menuju hal itu. Mereka punya hak untuk menentukan langkah. Jadi, lebih baik menganggap kita memberikan saran atau rekomendasi kepada mereka bagaimana mereka seharusnya. Dengan menggaris bawahi bahwa apa yang kita sampaikan juga tidak harus mereka laksanakan.

Kedua, mereka adalah anak dari kedua orang tua mereka. Mereka tumbuh dan berkembang dari kasih sayang dan didikan orangtuanya. Bagaimana mereka bersikap sekarang itu adalah hasil dari didikan orangtua. Dan jangan lupakan bahwa mereka adalah jagoan dari orangtua masing-masing. Sosok yang kadang pernah kita remehkan, pernah kita labeli, atau bahkan pernah kita mengusiknya, atau mengganggunya. Mereka semua adalah jagoan dari ayah ibunya. Jagoan dimana setiap momen yang mereka raih, hasil yang mereka dapatkan adalah sebuah kebanggaan bagi orangtuanya.

Jadi, apa yang kiranya menurut kita kecil, belum tentu bagi mereka juga kecil. Mungkin kita yang sudah di fase bisa memberikan orangtua uang adalah sebuah pencapaian yang hebat. Kemudian melihat orang lain yang hanya mentraktir orangtua kita melihat hal itu sebuah hal remeh. Padahal, kita tidak tau bagaimana ia berusaha untuk memperoleh hal itu. Bagaimana ia rela berjemur di bawah terik matahari, banting tulang kesana kemari hanya untuk mengupayakan hal itu. Mengupayakan hal yang kita kira kecil padahal besar, hal yang kita kira biasa ternyata bagi mereka luarbiasa, hal yang kita kira remeh ternyata hal yang berharga.

Semua hal itu patut menjadi pertimbangan kita agar tidak dengan gampangnya memberikan stereotip pada seseorang. Ketika suatu momen kita ingin melabeli seseorang, ingat bahwasanya mereka adalah ”jagoan” orangtuanya. Mereka adalah sosok yang dibanggakan dalam keluarganya. Apa yang menurut kita kecil, belum tentu menurut mereka juga kecil. Bisa jadi, hal itu justru sesuatu yang besar atau bahkan hal yang hebat bagi mereka. Apa yang menurut kita hebat mungkin menjadi kecil bagi orang lain.

Author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Facebook
Twitter
WhatsApp