Sampai Aku Mengerti

Oleh Nafisah

Bagaimana aku bisa menyebut diriku seorang manusia? Apakah cukup dengan sekedar hidup mengalir seperti air sambil menunggu akhir yang di tentukan? Lalu, apa hakikat dari hidup yang sebenarnya tersembunyi di balik dingin nya malam dan basahnya bekas hujan. Waktu terus berjalan dan aku lagi-lagi hanya terpaku meratapi kenyataan yang bahkan tak berkembang, keraguan itu perlahan datang, menggerogoti keyakinan seorang remaja yang baru berusia 17 tahun saat itu, apakah aku bisa? Apakah aku akan berada pada kalimat sukses yang sering kali orang ucapkan.

 

Jati diri itu hilang, atau mungkin memang belum aku dapatkan sedari awal? Lalu apa yang harus aku lakukan? Haruskah aku menangis kejar meminta tolong, atau membiarkan diriku tenggelam dalam ketidak pastian yang menyesakkan, sebenarnya apa itu tujuan yang sampai membuat semua orang tertatih untuk benar-benar menggapainya, apakah sepenting itu? Bolehkah aku menyerah bahkan sebelum aku mencoba…

 

Pada akhirnya, aku memutuskan untuk terus belajar, mendalami apa arti kehidupan sampai keyakinan itu beranggapan bahwa aku pantas untuk paham, selama waktu yang kubutuhkan, aku pasrahkan pada tuhan. Akan ku buat diriku menjadi hamba yang benar-benar menerima dan mencoba mengerti maksud dari setiap cobaan yang datang, menjalaninya dengan penuh hormat  dan tabah, demi kewarasan jiwaku yang lelah, dan demi keimanan ku yang mudah goyah.

 

Author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Facebook
Twitter
WhatsApp