Mengapa Saya Memilih Menjadi Santri
Oleh Royan Hana Nurfikri
Menjadi santri adalah sebuah pilihan yang saya ambil bukan hanya untuk menuntut ilmu agama, tetapi juga untuk belajar tentang kehidupan. Bagi saya, menjadi santri berarti bersedia menjalani proses untuk menjadi pribadi yang lebih baik, lebih disiplin, dan lebih bertanggung jawab. Keputusan ini tentu tidak selalu mudah, karena kehidupan sebagai santri memiliki banyak aturan dan tuntutan yang berbeda dengan kehidupan pada umumnya.
Salah satu alasan saya memilih menjadi santri adalah keinginan untuk memperdalam ilmu agama. Saya menyadari bahwa pendidikan tidak hanya berkaitan dengan ilmu pengetahuan umum, tetapi juga tentang bagaimana seseorang memahami nilai-nilai yang menjadi pedoman dalam menjalani kehidupan. Dengan menjadi santri, saya memiliki kesempatan untuk mempelajari Al-Qur’an, hadis, akhlak, serta berbagai ilmu keislaman secara lebih dekat. Saya berharap ilmu tersebut tidak hanya berhenti sebagai pengetahuan, tetapi dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Selain ilmu agama, kehidupan pesantren juga mengajarkan saya tentang kedisiplinan. Sebagai
santri, saya harus mengikuti berbagai kegiatan dan mematuhi aturan yang telah ditetapkan.
Mulai dari bangun pagi, mengikuti kegiatan belajar, beribadah, hingga menyelesaikan tugas
dan menjaga kebersihan. Pada awalnya, rutinitas tersebut mungkin terasa berat dan
membosankan. Namun, seiring berjalannya waktu, saya mulai memahami bahwa kedisiplinan
tidak bertujuan untuk membatasi kebebasan, melainkan melatih saya agar mampu mengatur
waktu dan bertanggung jawab terhadap kewajiban.
Menjadi santri juga membuat saya belajar hidup bersama orang lain. Di pesantren, saya bertemu dengan teman-teman yang memiliki latar belakang, kebiasaan, dan karakter yang berbeda. Perbedaan tersebut mengajarkan saya untuk belajar menghargai, memahami, dan mengendalikan diri. Tidak semua hal dapat berjalan sesuai dengan keinginan saya. Terkadang muncul perbedaan pendapat, kesalahpahaman, atau masalah kecil dalam kehidupan sehari hari. Dari situlah saya belajar bahwa hidup bersama membutuhkan kesabaran, toleransi, dan kemauan untuk saling memahami.
Saya juga menyadari bahwa menjadi santri bukan berarti saya sudah menjadi seseorang yang baik dan sempurna. Justru menjadi santri membuat saya semakin sadar bahwa masih banyak hal dalam diri saya yang perlu diperbaiki. Saya masih bisa melakukan kesalahan, masih memiliki kekurangan, dan masih harus banyak belajar.
Bagi saya, menjadi santri adalah sebuah perjalanan. Perjalanan untuk belajar, berproses, melakukan kesalahan, memperbaiki diri, dan menjadi pribadi yang lebih matang. Saya mungkin belum tahu akan menjadi seperti apa diri saya di masa depan, tetapi saya percaya bahwa pengalaman sebagai santri akan menjadi bagian penting dalam membentuk diri saya.



