45 Hari di Racii

karya NabilaF

Bagian 2 – Riuh Balai Desa dan Keteteran Pagi Hari

Malam pertama di posko berlalu dengan punggung yang terasa sedikit pegal. Tidur berhimpitan di atas karpet tipis dan kasur lipat bertumpuk ditambah suara dengkur halus yang bersahut-sahutan menjadi sambutan hangat betapa nyata dan tanpa sekatnya hidup berbelas-belas orang di bawah satu atap. Namun, tidak ada waktu untuk meratapi pegal-pegal. Pukul enam pagi, posko sudah riuh seperti pasar kaget. Suara ketukan pintu kamar mandi yang tak sabar, aroma kopi murah yang diseduh di dapur, dan helaan napas panik mulai memenuhi udara.

Hari ini adalah hari dengan momen krusial, Pembukaan Resmi KKN Desa Raci Wetan.

Meski acara seremonial baru dijadwalkan mulai pukul sepuluh pagi, instruksi dari koordinator kelompok sudah tegas. Pukul delapan tepat, seluruh anggota KKN yang berjumlah 15 orang itu sudah harus standby di Balai Desa Raci Wetan.

Begitu kaki melangkah keluar posko membawa tumpukan spanduk, kardus air mineral, dan map-map dokumen, kepanikan kecil mulai merayap. Kami pikir persiapan rapat kemarin sudah seratus persen matang, tetapi teori di atas kertas selalu kalah cerdik dari kenyataan di lapangan. Kami keteteran setengah mati.

“Mpus, lakban hitam tadi taruh di mana?” tanya Mpi setengah berteriak sambil memegang ujung spanduk utama yang menjuntai di panggung balai desa.

“Aduh, Mpi, ketinggalan di meja makan posko kayaknya!” sahut Mpus yang sibuk mengelap deretan kursi plastik hijau.

Tidak hanya lakban. Tiba-tiba saja kami menyadari bahwa beberapa keperluan penting belum lengkap mulai dari taplak meja untuk para pejabat desa, taplak mimbar, hingga tambahan piring untuk kudapan tamu VIP. Karena ini hari pertama kami benar-benar bergerak di desa, kami belum paham seluk-beluk wilayah. Kami tidak tahu warung mana yang menjual alat tulis lengkap, atau toko kelontong mana yang sudah buka di jam delapan pagi.

Aksi lari-lari kecil pun tak terelakkan. Hilal dan Mpi terpaksa meminjam motor salah satu anggota untuk keliling desa, mengandalkan petunjuk arah dari warga sekitar yang mereka temui di jalan.

“Permisi, Pak, kalau mau beli lakban sama taplak meja di mana, ya?” tanya hilal dengan napas sedikit terengah saat berhenti di depan seorang ibu-ibu yang sedang menyapu halaman.

Beruntung, keramahan warga desa menyelamatkan kami. Setelah berputar-putar sedikit memutari gang dan area pemukiman, kebutuhan mendadak itu akhirnya terpenuhi. Kembali ke Balai Desa, suasana makin riuh. Anak-anak KKN yang lain sibuk membagikan tugas, ada yang memoles tata letak meja konsumsi, menata kardus snack undangan, mengecek sound system yang sempat berdengung bising, hingga merapikan pakaian masing-masing yang mulai basah oleh keringat.

Menjelang pukul sepuluh, kepanikan itu perlahan berganti menjadi rasa haru yang rapi. Pintu Balai Desa mulai diramaikan oleh kedatangan para tamu undangan. Perangkat desa, para kepala dusun, ketua RT dan RW, hingga tokoh masyarakat setempat datang dengan pakaian rapi dan senyum ramah.

Tepat pukul 10.00 WIB, acara resmi dibuka. Suasana balai desa yang tadinya bising perlahan hening dan khidmat, disusul gaung lagu Indonesia Raya yang dinyanyikan bersama.

Puncak acara penyambutan terasa begitu hangat saat Bapak Kepala Desa memberikan sambutannya. Beliau menyambut kedatangan kami dengan tangan terbuka, menyampaikan harapan-harapan besar untuk desa, sekaligus memberikan nasihat berharga agar kami bisa menjaga etika dan menyatu dengan masyarakat setempat selama 45 hari ke depan. Tepuk tangan riuh bergema di dalam balai desa, menandakan pintu Desa Raci Wetan telah resmi terbuka lebar untuk kami.

Setelah sambutan, tibalah sesi yang paling mendebarkan sekaligus mencairkan suasana, sesi perkenalan.

Satu per satu dari kami yang belasan orang ini maju ke depan panggung. Dari yang bergaya sangat formal dan kaku, hingga yang menyelipkan humor segar saat menyebutkan nama dan jurusan kuliah.

“Nama saya Moana, dari Fakultas MIPA Prodi Pendidikan Matematika” kataku saat mendapat giliran memegang mikrofon, merasakan tatapan ratusan mata warga dan pejabat desa yang menatap penuh rasa ingin tahu namun hangat.

Ikako yang berdiri tak jauh dariku ikut melemparkan senyum menyemangati saat gilirannya tiba. Sesi perkenalan itu berlanjut dua arah. Para tamu undangan dan perangkat desa juga ikut memperkenalkan diri serta tugas mereka masing-masing, membuat garis batas kaku antara “pendatang” dan “tuan rumah” pelan-pelan terkikis.

Acara pembukaan yang meriah itu akhirnya ditutup dengan doa bersama dan sesi ramah tamah sambil menikmati hidangan konsumsi yang tadi pagi sempat membuat kami mandi keringat.

Ketika melangkah pulang kembali ke posko saat siang menjelang, seragam berkerah kami memang sudah lepek dan lelah tak bisa disembunyikan. Namun, rasa canggung kemarin telah menguap. Kami sudah resmi diterima, dan petualangan yang sesungguhnya baru saja dimulai.

bersambung…

Author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Facebook
Twitter
WhatsApp