Oleh: Silvia Izzatul Maula
Sudah lama sekali saya tidak melihat sepeda itu.
Sepeda tua berwarna biru yang biasanya berada di belakang rumah. Catnya sudah banyak yang mengelupas dan beberapa bagian besinya mulai berkarat. Ban belakangnya juga sudah tidak berisi angin.
Dulu, sepeda itu sering saya gunakan.
Setiap sore, ketika masih kecil, saya biasanya mengambil sepeda itu tanpa banyak berpikir. Saya akan berkeliling di sekitar rumah bersama teman-teman.
“Jangan jauh-jauh!” teriak Ibu dari depan rumah.
“Iya, Bu!” jawab saya.
Setelah itu saya langsung pergi.
Waktu itu rasanya menyenangkan sekali. Kami hanya berkeliling, berhenti di warung, membeli jajanan, lalu pulang ketika hari mulai sore. Tidak ada tugas, tidak ada banyak pikiran, dan tidak perlu memikirkan apa yang akan terjadi besok.
Sekarang semuanya sudah berbeda.
Saya sudah jarang melihat sepeda itu. Kesibukan membuat saya hampir lupa kalau sepeda tersebut masih ada di belakang rumah.
Suatu hari ketika sedang mencari barang, saya tidak sengaja melihatnya lagi.
Saya berhenti sebentar.
Sepeda itu masih berada di tempat yang sama.
Saya membersihkan sedikit debu yang menempel di bagian setangnya. Saat memegang sepeda itu, saya tiba-tiba teringat masa kecil.
Teringat bagaimana dulu saya sering memakainya.
Teringat teman-teman yang sekarang sudah sibuk dengan kehidupan masing-masing.
Dan yang paling saya ingat adalah suara Ibu setiap kali mengingatkan saya untuk tidak pergi terlalu jauh.
Saya tersenyum sendiri.
“Ibu, sepeda ini masih ada ternyata,” kata saya ketika masuk ke rumah.
Ibu yang sedang duduk kemudian melihat ke arah saya.
“Masih. Mau dipakai lagi?”
Saya tertawa kecil.
“Kayaknya udah nggak bisa dipakai, Bu.”
Ibu ikut tertawa.
“Dulu kamu tiap sore pakai itu.”
“Iya. Dulu masih kecil.”
Ibu kemudian bercerita tentang masa ketika saya sering bermain sepeda. Ternyata Ibu masih mengingat beberapa hal yang bahkan sudah saya lupakan.
Saya jadi berpikir, ternyata masa kecil memang cepat sekali berlalu.
Dulu saya ingin cepat besar. Saya ingin bisa melakukan banyak hal sendiri. Saya pikir menjadi dewasa akan menyenangkan karena bisa bebas menentukan apa yang saya mau.
Sekarang, ketika sudah mulai besar, saya justru kadang ingin kembali ke masa itu.
Bukan untuk mengulang semuanya, tetapi hanya ingin merasakan lagi kehidupan yang sederhana. Saat masalah terbesar saya mungkin hanya dimarahi karena bermain terlalu jauh atau diminta segera pulang sebelum hari gelap.
Saya kembali melihat sepeda itu.
Sepeda tersebut memang sudah tua dan mungkin tidak akan bisa digunakan lagi. Tetapi melihatnya membuat saya sadar bahwa ada banyak hal dari masa kecil yang perlahan saya tinggalkan.
Teman-teman saya sudah memiliki kesibukan masing-masing. Saya juga sudah mempunyai kegiatan dan tanggung jawab yang berbeda.
Tidak ada lagi sore yang dihabiskan dengan berkeliling menggunakan sepeda.
Tidak ada lagi suara teman yang memanggil dari depan rumah.
Dan tidak ada lagi saya yang pulang ketika hari mulai gelap hanya karena takut dimarahi Ibu.
Namun, semua itu tetap menjadi bagian dari hidup saya.
Saya mengambil satu foto sepeda itu sebelum meninggalkannya. Entah kenapa saya ingin menyimpannya.
Mungkin suatu hari nanti saya akan melihat foto itu lagi dan kembali mengingat masa kecil.
Saya akhirnya mengerti bahwa waktu memang tidak bisa diulang. Kita akan terus tumbuh dan meninggalkan beberapa kebiasaan yang dulu sering kita lakukan.
Tetapi bukan berarti semua yang sudah berlalu harus dilupakan.
Ada kenangan yang memang cukup disimpan.
Seperti sepeda tua di belakang rumah itu.
Ia mungkin sudah tidak digunakan lagi, tetapi tetap menjadi pengingat bahwa dulu pernah ada seorang anak kecil yang setiap sore mengendarainya tanpa memikirkan apa-apa.
Dan anak kecil itu adalah saya.







