Mengajar Bukan Sekadar Menyampaikan
Oleh Alvian Izzul Fikri

Menjadi pendidik, pemateri, guru, atau siapa pun yang bertugas, berkewajiban menyampaikan ilmu, ternyata bukan hanya soal seberapa banyak yang kita tahu, tetapi juga seberapa baik kita menjelaskan apa yang kita tahu kepada orang lain.
Kadang kita merasa sudah menjelaskan sesuatu dengan lengkap. Namun, setelah selesai, orang yang mendengarkan justru masih bingung. Bukan karena mereka tidak mampu memahami, tetapi bisa jadi karena cara kita menyampaikan terlalu panjang sejak awal, terlalu banyak cabang, atau tidak memberikan gambaran yang jelas tentang apa yang sedang dibahas.
Syeik Abdul Fattah Abu Ghadah, di dalam kitabnya “Ar Rasul Al Mualim wa Asalibuhu fi At Talim” menyebutkan salah satu cara yang kemudian diaplikasikan di dalam mengajarkan ilmu kepada sahabatnya adalah
إجمالُه صلى الله عليه وسلم للمعدودات ثم تفصيلُها
Yaitu kemampuan beliau menyampaikan sesuatu secara global terlebih dahulu, kemudian menjelaskannya secra terperinci.
Hal ini dapat kita lihat dalam salah satu hadis yang beliau nukil:
اغتنم خمسًا قبل خمس
“Manfaatkanlah lima perkara sebelum datang lima perkara.”
Belio terlebih dahulu menyebutkan bahwa ada lima perkara, kemudian beliau menjelaskannya satu per satu: masa muda sebelum tua, kesehatan sebelum sakit, kecukupan sebelum kekurangan, waktu luang sebelum kesibukan, dan kehidupan sebelum kematian.
Cara seperti ini terlihat sederhana, tetapi memiliki pengaruh besar dalam proses belajar. Ketika pendengar mengetahui gambaran besar pembahasan sejak awal, mereka akan lebih mudah mengikuti penjelasan berikutnya. Mereka memiliki semacam “peta” sehingga tidak mudah kehilangan arah.
Dari sini kita belajar bahwa seorang pengajar tidak cukup hanya bertanya, “Apa yang ingin saya sampaikan?” tetapi juga perlu bertanya, “Apa yang perlu dipahami oleh mereka?”
Kadang kita memiliki banyak ilmu dan banyak hal yang ingin disampaikan. Namun, semuanya tidak harus diberikan sekaligus. Terlalu banyak penjelasan tanpa alur justru dapat membuat pendengar bingung dan sulit mengingat inti pembahasan.
Karena itu, sebelum mengajar, kita bisa memulai dengan memberikan gambaran umum: “Ada tiga hal yang akan kita bahas.” Setelah itu, jelaskan bagian pertama, kedua, dan ketiga secara bertahap.
Pada akhirnya, menjadi pengajar bukan tentang seberapa panjang kita berbicara, tetapi seberapa jelas orang lain memahami apa yang kita sampaikan.
Ilmu yang baik perlu disampaikan dengan cara yang baik. Sebab tugas seorang pendidik bukan sekadar membuat orang mendengar, tetapi membantu mereka memahami. Wallahu alam bisshawab.






