Langkah Kecil di Jalan yang Panjang

Langkah Kecil di Jalan yang Panjang
Oleh: Salma Salsabila

Di sebuah desa kecil yang dikelilingi sawah dan kebun tebu, hiduplah seorang anak laki-laki bernama Fahmi. Ia tinggal bersama ibunya di sebuah rumah sederhana berdinding bata yang belum seluruhnya diplester. Ayahnya telah lama meninggal ketika Fahmi masih duduk di sekolah dasar.

Setiap pagi, sebelum berangkat sekolah, Fahmi membantu ibunya mengantarkan nasi ke warung milik tetangga. Setelah itu ia berjalan kaki hampir dua kilometer menuju sekolah.

Fahmi bukan anak yang memiliki banyak barang. Sepatunya sudah beberapa kali dijahit. Tasnya merupakan pemberian sepupunya. Bahkan buku tulisnya sering menggunakan sisi kosong dari buku lama milik kakaknya.

Namun ada satu hal yang selalu ia jaga: salatnya.

Sejak kecil, ibunya selalu berkata,

“Mi, Ibu mungkin tidak bisa memberikanmu banyak harta. Tapi Ibu ingin memberikanmu satu bekal yang tidak akan habis: ilmu dan iman.”

Kalimat itu selalu teringat oleh Fahmi.

Setiap sore, setelah membantu ibunya, Fahmi pergi ke musala kecil di ujung desa. Di sanalah ia belajar mengaji kepada Ustadz Rahman.

Musala itu sederhana. Cat temboknya mulai mengelupas, kipas anginnya hanya berputar jika sedang tidak macet, dan karpetnya sudah berulang kali ditambal.

Tetapi bagi Fahmi, musala itu adalah tempat yang istimewa.

Di sana ia belajar membaca Al-Qur’an, menghafal hadis, belajar fikih, dan yang paling sering diingatkan Ustadz Rahman: adab.

“Anak-anak,” kata Ustadz Rahman suatu sore, “ilmu itu penting. Tetapi ilmu tanpa adab bisa membuat seseorang merasa lebih tinggi daripada orang lain.”

Fahmi mengangguk.

“Lalu apa gunanya ilmu kalau tidak membuat kita menjadi manusia yang lebih baik?” lanjut Ustadz.

Pertanyaan itu membuat Fahmi diam cukup lama.

Beberapa bulan kemudian, sekolah Fahmi mengadakan pengumuman tentang lomba cerdas cermat antar sekolah. Pemenangnya akan mendapatkan beasiswa.

Fahmi sangat ingin mengikutinya.

Ia ingin mendapatkan beasiswa itu agar bisa mengurangi beban ibunya.

Namun Fahmi sadar bahwa ia harus bersaing dengan anak-anak yang memiliki buku lebih banyak, les tambahan, dan fasilitas belajar yang lebih lengkap.

Ia mulai belajar lebih giat.

Sepulang sekolah, ia membaca buku di bawah lampu ruang tamu. Ketika listrik padam, ia belajar di dekat jendela dengan cahaya lampu dari rumah tetangga.

Suatu malam, ibunya melihat Fahmi masih belajar.

“Sudah malam, Mi.”

“Sebentar lagi, Bu.”

“Istirahatlah.”

Fahmi menutup bukunya.

“Bu, kalau Fahmi dapat beasiswa, nanti uangnya bisa untuk membantu Ibu.”

Ibunya tersenyum.

“Belajarlah karena Allah, bukan hanya karena beasiswa.”

Fahmi terdiam.

“Kalau kamu belajar karena Allah, hasilnya apa pun tidak akan sia-sia. Kalau kamu hanya mengejar hasil, kamu akan mudah kecewa ketika hasilnya tidak sesuai harapan.”

Malam itu Fahmi kembali membuka bukunya.

Tetapi kali ini niatnya berbeda.

Hari perlombaan tiba.

Fahmi datang dengan seragam yang telah disetrika ibunya sejak malam sebelumnya.

Babak pertama berjalan lancar.

Babak kedua juga.

Hingga akhirnya tersisa dua sekolah.

Pada pertanyaan terakhir, Fahmi mengetahui jawabannya.

Namun ia melihat salah satu peserta dari sekolah lawan tampak kebingungan. Anak itu terlihat pucat dan gugup.

Fahmi sebenarnya bisa langsung menekan tombol jawaban.

Tetapi ia teringat sebuah hadis yang pernah disampaikan Ustadz Rahman tentang pentingnya menyayangi sesama.

Ia juga teringat perkataan ibunya:

“Jangan sampai keberhasilanmu membuat orang lain kehilangan harga dirinya.”

Fahmi akhirnya tidak menekan tombol secepat yang ia bisa.

Kesempatan itu terlewat.

Sekolah Fahmi kalah.

Dalam perjalanan pulang, Fahmi hanya diam.

Ia merasa telah mengecewakan gurunya dan ibunya.

Sesampainya di rumah, ia meletakkan tasnya.

“Fahmi kalah, Bu.”

Ibunya tidak marah.

Ia justru tersenyum dan memeluk anaknya.

“Tidak apa-apa.”

“Tapi Fahmi tahu jawabannya, Bu.”

“Ibu tahu.”

“Kalau Fahmi cepat menjawab, mungkin kita menang.”

Ibunya mengusap kepala Fahmi.

“Menang itu ada banyak bentuknya.”

Fahmi menatap ibunya.

“Kamu mungkin kalah dalam perlombaan hari ini. Tetapi kalau karena kekalahan itu kamu tetap memilih menjadi anak yang jujur, tidak sombong, dan tidak merendahkan orang lain, Ibu yakin kamu tidak benar-benar kalah.”

Air mata Fahmi mulai jatuh.

Keesokan harinya, Fahmi pergi ke musala seperti biasa.

Ia menceritakan semuanya kepada Ustadz Rahman.

Ustadz hanya tersenyum.

“Fahmi, kamu tahu mengapa Allah memberikan manusia akal?”

“Agar bisa berpikir?”

“Betul. Tapi bukan hanya untuk mencari cara agar kita menang. Akal juga diberikan agar kita bisa membedakan mana yang benar dan mana yang hanya menguntungkan diri sendiri.”

Fahmi menunduk.

“Ustadz kecewa karena Fahmi kalah?”

“Tidak.”

“Kenapa?”

“Karena Ustadz lebih takut melihat murid Ustadz menang tetapi kehilangan akhlaknya, daripada kalah tetapi masih menjaga hatinya.”

Fahmi terdiam.

Untuk pertama kalinya, ia memahami bahwa pendidikan yang selama ini ia dapatkan ternyata bukan hanya tentang membaca buku, menghafal ayat, atau mendapatkan nilai tinggi.

Pendidikan adalah tentang siapa dirinya ketika tidak ada orang yang melihat.

Bertahun-tahun berlalu.

Fahmi tumbuh menjadi pemuda yang tetap sederhana. Ia berhasil mendapatkan beasiswa pada kesempatan berikutnya dan melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi.

Setiap kali pulang ke desa, ia selalu menyempatkan diri datang ke musala kecil di ujung desa.

Di sana kini ia tidak lagi duduk sebagai murid.

Ia berdiri di depan anak-anak kecil yang baru belajar membaca Al-Qur’an.

“Ustadz,” tanya seorang anak suatu sore, “kalau kita miskin, apakah kita bisa sukses?”

Fahmi tersenyum.

“Bisa.”

“Bagaimana caranya?”

Fahmi menunjuk Al-Qur’an yang berada di atas meja.

“Jadikan ilmu sebagai temanmu dan Allah sebagai tujuanmu.”

Anak-anak itu diam memperhatikan.

Fahmi melanjutkan,

“Jangan malu menjadi anak desa. Jangan malu memakai sandal sederhana. Jangan malu belajar dari guru yang sederhana. Yang harus kalian takutkan adalah menjadi orang berilmu tetapi tidak punya akhlak.”

Angin sore masuk melalui jendela musala.

Dari kejauhan terdengar suara azan Magrib.

Fahmi menghentikan pelajarannya.

“Sudah waktunya salat.”

Anak-anak bergegas berdiri.

Sebelum keluar, seorang anak kecil bertanya,

“Ustadz Fahmi, setelah salat kita belajar lagi?”

Fahmi tersenyum.

“Tentu.”

“Belajar apa?”

Fahmi memandang langit yang mulai berwarna jingga.

“Belajar menjadi manusia.”

Anak itu tersenyum, lalu berlari menuju tempat wudu.

Fahmi berdiri sejenak di depan pintu musala.

Ia teringat ibunya.

Teringat Ustadz Rahman.

Teringat perlombaan yang pernah membuatnya merasa kalah.

Kini ia mengerti.

Ada kemenangan yang tidak diumumkan di atas panggung.

Ada keberhasilan yang tidak diberikan dalam bentuk piala.

Dan ada pendidikan yang tidak selalu menghasilkan nilai tinggi, tetapi perlahan membentuk manusia agar tahu kepada siapa ia harus bersujud, kepada siapa ia harus berbuat baik, dan untuk apa sebenarnya ia hidup.

Di desa kecil itu, Fahmi akhirnya memahami satu hal:

Kemiskinan mungkin membuat langkah seseorang berjalan lebih lambat, tetapi iman, ilmu, dan akhlak dapat membuat langkah kecil itu memiliki arah.

Dan selama seseorang tahu ke mana ia harus berjalan, ia tidak perlu malu berjalan pelan.

Sebab yang terpenting bukan seberapa cepat ia sampai, tetapi apakah langkahnya masih berada di jalan yang diridai Allah.

Kalau mau, cerpen ini juga bisa dibuat lebih emosional dan “nendang” di bagian akhir, misalnya dengan konflik tentang ibu, kemiskinan, atau pengorbanan Fahmi agar pesan pendidikan Islamnya terasa lebih membekas.

 

Author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Facebook
Twitter
WhatsApp