Media Sosial: Membawa Kebebasan atau menjadi Standar yang Mengekang?

Media Sosial: Membawa Kebebasan atau menjadi Standar yang Mengekang?
Ditulis oleh Rizal Rafid Ariqoh

Per april 2026, pengguna media sosial mencapai 5,79 miliar pengguna. Hal ini menunjukkan lebih dari 2 per 3 penduduk di bumi menggunakan media sosial. Bahkan, 94,5% pengguna media sosial berusia 18-56 tahun. Data tersebut menunjukkan bahwa hari ini, media sosial tidak hanya sekedar sarana untuk berkomunikasi semata. Melainkan sudah menjadi sesuatu yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia di era digital ini.

Saat ini terdapat lebih dari 100 platform media sosial yang beredar. Dipimpin oleh Facebook dalam urutan pertama dengan lebih dari 3 miliar pengguna tiap bulannya. Dilanjutkan dengan Instagram dan Whatsapp yang masing-masing memiliki lebih dari 3 miliar pengguna .. Disusul setelahnya Youtube dengan total 2,5-2,8 miliar pengguna. Menempati posisi kelima yaitu Tiktok dengan 2 miliar pengguna. Jumlah tersebut menunjukkan begitu masifnya manusia dalam menggunakan media sosial.

Media sosial tidak hanya digunakan sebagai sarana untuk berkomunikasi semata. Tetapi ia telah berubah lebih daripada itu. Media sosial telah beralih menjadi penghubung antara manusia, menghilangkan konsep jarak secara real-time, serta menjadi tempat dimana budaya, tren bahkan bisnis itu tumbuh dan berkembang secara pesat. Budaya yang diciptakan dengan munculnya tren yang silih berganti. Bisnis dan peluang yang hadir dari fitur serta lingkungan yang tercipta dari interaksi antara pengguna.

Namun, pertanyaan yang muncul hari ini adalah apakah media sosial ini membawa kebebasan atau justru menjadi standar yang mengekang? Seperti yang kita ketahui, banyak sekali tren-tren yang bermunculan.  Mulai dari tren berjoget, challenge, atau kegiatan lain yang muncul karena kehadiran media sosial. Tidak hanya itu, hadirnya media sosial juga membawa suatu standar yang menjadi hal yang diikuti kebanyakan orang. Fenomena media sosial menjadi sebuah standar bukan sesuatu yang asing di telinga kita. Bahkan di negara kita indonesia, sering kita mendengar ”standar tiktok”. Istilah ini tidak hanya sekali atau dua kali kita mendengarnya, seringkali kita mendengarnya.

Lantas fenomena media sosial ini sebagai standar apakah sebuah hal baik atau buruk? Ketika kita mengatakan media sosial dapat membawa pandangan baru, pola pikir baru, dan mengenalkan dunia yang lebih luas kepada manusia. Tentu, kita akan mengatakan setuju. Tetapi, fenomena hari ini, media sosial tidak terbatas menjadi hal itu. Media sosial dengan kemudahan aksesnya, terutama bagi mereka yang mempunya gadget menjadikan segala macam jenis informasi tersebar secara masif. Mulai dari ekonomi, olahraga, politik, entertainment, bahkan sampai gaya hidup. Tidak ada hal yang bisa membatasi hal itu, semua tersebar begitu saja di media sosial.

Semua konten yang tersebar dengan variasinya, dengan kemudahan aksesnya menjadikan semua kalangan bisa mengaksesnya. Golongan kaum bawah yang melihat gaya hidup kaum elit, yang kemudian membandingkan kehidupan dengan mereka. Orang yang sedang susah melihat bagaimana orang lain terlihat bahagia padahal berada pada keadaan yang sama. Pemuda yang berada pada fase mencari jatidiri melihat pemuda lainnya yang sedang sukses. Dengan bebasnya orang mengakses pada segala jenis konten. Munculnya kejadian dan pertanyaan ”kenapa aku tidak bisa mencapai apa yang dia capai saat ini?”, ”Ternyata syarat kecantikan adalah seperti ini?”, ”Umur 25 ternyata kita harus punya uang 100 juta untuk hidup ya?” dan masih banyak pertanyaaan lainnya.

Sebenarnya munculnya media sosial tidak menjadi permasalahan. Akan tetapi perbedaan kehidupan yang tertampil disana, antara yang sehat dan saki, pintar dan bodh, kaya dan miskin, ganteng dan cantik menjadikan semua hal yang kontras itu muncul dengan saling bersilangan. Hal ini menjadikan, sedikit banyak manusia akan saling membanding-bandingkan. Menbandingkan kenapa ia belum mencapai titik itu. Membandingkan kenapa ia tidak bisa mencapai hal itu. Membandingkan dirinya dengan kriteria orang lain, yang padahal dirinya punya kriteria sendiri. Fenomena ini, sekarang tidak hanya sekedar satu atau dua orang mengalaminya. Tapi banyak orang sudah mulai mengalami hal ini dan muncul kegelisahan didalam diri mereka. Lantas, sejatinya apakah media sosial ini benar-benar menjadi suatu standar yang mengekang kita atau membawa kebebasan dalam diri?

Author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Facebook
Twitter
WhatsApp