Biografi Syekh Mustaqim bin Husein

Oleh: Chusbi Aura

Syekh Mustaqim bin Kiai Muhammad Husein merupakan salah satu tokoh agama yang dikenal dalam sejarah perkembangan keagamaan di Tulungagung. Beliau dikenal sebagai pendiri Pondok Pesulukan Thoriqot Agung atau yang lebih dikenal dengan sebutan Pondok PETA. Perjalanan hidup beliau tidak hanya berkaitan dengan pendidikan agama, tetapi juga dengan dakwah, pengajaran tarekat, dan pembinaan para murid. Melalui perjuangannya, ajaran yang beliau ajarkan kemudian diteruskan oleh generasi setelahnya.

Syekh Mustaqim lahir pada tahun 1901. Beberapa sumber mencatat tempat kelahirannya secara berbeda, tetapi sumber sejarah Pondok PETA yang banyak digunakan menyebut bahwa beliau berasal dari wilayah Tulungagung. Sejak masih muda, beliau sudah diarahkan untuk mempelajari ilmu agama. Ketika berusia sekitar 12 tahun, Syekh Mustaqim belajar kepada Kiai Zarkasyi di Kauman, Tulungagung. Di sana beliau mempelajari berbagai ilmu agama seperti Al-Qur’an, hadis, fikih, akhlak, dan tauhid. Selain belajar, beliau juga membantu keluarga dan lingkungan pesantren sebagai bentuk pengabdian kepada gurunya.

Sekitar tahun 1916, ketika masih remaja, Syekh Mustaqim melanjutkan perjalanan menuntut ilmunya ke Malangbong, Garut. Di sana beliau berguru kepada Kiai Khudlori untuk memperdalam ilmu agama dan ilmu rohani. Dari gurunya tersebut, beliau memperoleh ijazah Tarekat Qodiriyah wan Naqsyabandiyah dan Tarekat Naqsyabandiyah. Perjalanan belajar ini menjadi salah satu bagian penting yang membentuk pemahaman keagamaan dan perjalanan spiritual Syekh Mustaqim.

Setelah mendapatkan ilmu dari para gurunya, Syekh Mustaqim kembali ke Tulungagung dan mulai menjalani kehidupan bersama masyarakat. Beliau kemudian menikah dengan Nyai Halimatus Sa’diyah, putri dari Kiai Haji Rois. Pernikahan tersebut berlangsung sekitar tahun 1924 ketika Syekh Mustaqim berusia sekitar 23 tahun. Dari pernikahan tersebut, beliau dan Nyai Halimatus Sa’diyah dikaruniai 16 anak. Namun, sebagian anak mereka meninggal ketika masih kecil atau sebelum lahir, sehingga tujuh orang anak yang tumbuh hingga dewasa tercatat dalam sumber penelitian tersebut.

Ketujuh anak Syekh Mustaqim dan Nyai Halimatus Sa’diyah yang disebut dalam penelitian tersebut adalah Nyai Thowilah Sumarantem Mustaqim, KH. Arif Mustaqim, KH. Abdul Ghofur Mustaqim, Nyai Hj. Anni Siti Fatimah Mustaqim, Kiai Ali Murtadlo Mustaqim, KH. Abdul Djalil Mustaqim, dan Nyai Hj. Siti Mahfiyah Mustaqim. Salah satu putra beliau yang kemudian dikenal dalam perkembangan Pondok PETA adalah KH. Abdul Djalil Mustaqim.

Setelah kembali ke Tulungagung, Syekh Mustaqim mulai mengajarkan ilmu yang telah diperolehnya kepada masyarakat. Kegiatan dakwah dan pembinaan yang dilakukan beliau semakin berkembang karena semakin banyak masyarakat yang tertarik untuk belajar. Sekitar tahun 1930, kegiatan pembinaan agama dan kerohanian yang dilakukan Syekh Mustaqim semakin berkembang. Para murid tidak hanya belajar ilmu agama, tetapi juga mendapatkan pembinaan mengenai tasawuf, penyucian hati, zikir, dan tarekat. Pada masa itu, tempat tersebut masih lebih dikenal sebagai Pondok Kauman dan belum berbentuk seperti Pondok PETA yang dikenal sekarang.

Beberapa tahun kemudian, sekitar 1933, kegiatan pembinaan rohani dilakukan dengan lebih intensif, termasuk melalui kegiatan wirid secara berjamaah. Dalam mengajarkan tarekat, Syekh Mustaqim menekankan pentingnya mendekatkan diri kepada Allah. Para murid diarahkan agar setiap kegiatan dan ibadah dilakukan dengan niat yang baik serta tidak hanya mengejar kepentingan duniawi. Ajaran tentang zikir, penyucian hati, dan usaha mendekatkan diri kepada Allah menjadi bagian penting dari pembinaan yang diberikan kepada para murid.

Perjalanan Syekh Mustaqim dalam mengembangkan ajaran tarekat juga berkaitan dengan Syekh Abdurrozaq bin Abdullah At-Turmusy dari Tremas, Pacitan. Pada sekitar tahun 1936, keduanya disebut bertemu dan saling bertukar ilmu serta wirid. Syekh Abdurrozaq kemudian memberikan ijazah wirid Tarekat Syadziliyah kepada Syekh Mustaqim dan mendorongnya untuk mengembangkan serta menyebarkan tarekat tersebut. Sejak saat itu, Tarekat Syadziliyah menjadi salah satu bagian penting dalam perkembangan ajaran di Pondok PETA.

Nama Pondok PETA sendiri mulai lebih dikenal pada tahun 1963. Saat itu Tulungagung menjadi tempat pelaksanaan Muktamar Jam’iyah Ahlith Thoriqoh al-Mu’tabaroh (JATMAN) ke-III. Sebelumnya, pondok yang dirintis Syekh Mustaqim lebih dikenal dengan sebutan Pondok Kauman. Perkembangan tersebut membuat nama Pondok Pesulukan Thoriqot Agung atau Pondok PETA semakin dikenal oleh masyarakat luas.

Syekh Mustaqim kemudian menjadi tokoh penting dalam perkembangan Pondok PETA dan pembelajaran tarekat di Tulungagung. Setelah beliau wafat pada tahun 1970, perjuangan dan ajaran yang telah dirintisnya diteruskan oleh generasi berikutnya, termasuk putranya, KH. Abdul Djalil Mustaqim. Dengan begitu, perjuangan Syekh Mustaqim tidak berhenti ketika beliau meninggal, tetapi terus berkembang melalui para murid dan penerusnya.

Dari perjalanan hidup Syekh Mustaqim, dapat dilihat bahwa perjuangannya tidak hanya dilakukan melalui pengajaran di lingkungan pesantren. Beliau juga berdakwah dengan pendekatan yang dekat dengan masyarakat dan memberikan pembinaan secara bertahap kepada para murid. Dari kegiatan sederhana di Kauman, kemudian berkembang menjadi sebuah pusat pembelajaran spiritual yang dikenal sebagai Pondok PETA. Karena itu, Syekh Mustaqim menjadi salah satu tokoh yang memiliki peran penting dalam sejarah perkembangan keagamaan dan tarekat di Tulungagung.

Author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Facebook
Twitter
WhatsApp