Sertifikat Pintar, Otak Menyusul

Sertifikat Pintar, Otak Menyusul

Oleh: Ilham Fajar Ramadani

Selamat datang di negeri yang percaya bahwa kecerdasan bisa diukur dengan lembar jawaban berbentuk bulat-bulat hitam. Di sini, anak yang paling pandai mengisi bulatan dengan pensil 2B dianggap lebih unggul daripada anak yang bertanya “kenapa” di tengah pelajaran. Pertanyaan memang berbahaya. Ia memperlambat kurikulum, dan kurikulum, seperti kita tahu, tidak boleh terlambat.

Mari kita mulai dari yang paling mulia: seragam. Pendidikan sejati dimulai dari panjang rok, warna kaos kaki, dan model potongan rambut. Seorang siswa yang rambutnya melewati telinga satu sentimeter akan dipanggil ke depan lapangan, sementara siswa yang menyontek pada ulangan matematika cukup ditegur pelan karena nilainya toh bagus. Prioritas harus jelas. Rambut panjang merusak moral bangsa, sedangkan contekan hanya merusak masa depan, dan masa depan masih jauh.

Lalu ada kurikulum, mahakarya yang berganti setiap kali pejabat berganti. Guru-guru kita adalah pelari maraton yang garis finisnya terus digeser. Baru saja mereka paham cara mengisi satu format perencanaan, format baru turun dari langit dengan nama yang lebih keren dan halaman yang lebih tebal. Tak apa. Guru memang dilahirkan untuk fleksibel, apalagi dengan gaji yang tidak pernah ikut fleksibel. Mereka diminta mencetak generasi emas dengan anggaran yang lebih cocok untuk generasi perak, atau perunggu bila sedang musim kemarau.

Jangan lupakan administrasi, cabang ilmu paling canggih dalam dunia pendidikan. Seorang guru dinilai bukan dari seberapa dalam muridnya memahami pelajaran, melainkan dari seberapa rapi map laporannya. Murid boleh bingung, asal berkas lengkap. Ada guru yang menghabiskan malamnya mengunggah dokumen ke sistem daring yang tersendat, sementara siswanya di kelas esok hari mendapat sisa tenaga yang tinggal separuh. Tapi laporan sudah masuk, dan laporan adalah bukti bahwa belajar telah terjadi.

Sekarang kita sampai pada ujian, upacara suci yang membuat jutaan anak belajar menghafal demi melupakan. Seminggu setelah ujian, tak ada yang ingat rumus apa pun. Namun jangan khawatir, nilai di rapor tetap abadi. Anak-anak diajari bahwa angka adalah harga diri. Yang mendapat sembilan puluh merasa berharga, yang mendapat enam puluh merasa gagal, dan yang mendapat nol karena sakit pada hari ujian dipersilakan mengikuti remedial. Tak ada yang bertanya apakah mereka benar-benar paham. Memahami itu urusan nanti, yang penting lulus sekarang.

Bimbingan belajar pun tumbuh subur sebagai bukti kesuksesan sistem. Bila sekolah sudah berhasil, mengapa orang tua rela membayar tambahan untuk mengajarkan ulang apa yang diajarkan di kelas? Ini bukan tanda kegagalan, melainkan wujud kewirausahaan yang membanggakan. Pendidikan memang harus punya pasar. Semakin mahal, semakin bergengsi, dan semakin yakin kita bahwa kualitas bisa dibeli.

Sementara itu, lulusan kita melangkah keluar dengan ijazah di tangan, dan menemukan bahwa dunia kerja menanyakan hal-hal aneh: bisakah kamu berpikir kritis, bekerja sama, memecahkan masalah yang belum pernah kamu lihat? Mereka tersenyum bingung. Di sekolah, semua soal sudah ada kunci jawabannya. Dunia nyata ternyata tidak mengerti etika itu dan menolak memberi kisi-kisi.

Tentu saja kita tidak boleh pesimis. Setiap tahun, upacara wisuda digelar dengan toga megah dan pidato penuh harapan bahwa pemuda adalah masa depan bangsa. Masa depan itu, kita yakini, akan datang sendiri, lengkap dengan kecerdasan yang entah kapan dipelajari.

Maka mari kita bangga pada sistem ini. Ia mengajarkan kita kesabaran, kepatuhan, dan seni berpura-pura paham. Bila suatu hari ada anak yang berani bertanya “untuk apa semua ini?”, sambutlah dengan hangat, lalu suruh ia duduk kembali. Pertanyaan itu belum masuk silabus.

Author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Facebook
Twitter
WhatsApp

Berita & Karya Terbaru