Ada yang Belum Selesai dari Sebuah Kepergian
Oleh Mahrotul Fithonah
Ada masa ketika kita harus pergi meski hati masih ingin menetap. Bukan karena tempat itu tak lagi nyaman atau orang-orang di dalamnya tak lagi berarti. Hanya saja hidup terkadang membawa kita pada keadaan yang mengharuskan kita melangkah meski sebagian hati masih ingin tinggal lebih lama.
Di sana masih ada percakapan yang belum selesai. Masih ada tawa yang ingin sekali lagi didengar dan kebiasaan kecil yang dahulu terasa biasa saja. Namun saat waktu untuk berpisah semakin dekat semua itu justru terasa begitu berharga. Kita mulai menyadari bahwa sesuatu yang biasa bisa menjadi istimewa ketika tak lagi bisa kita temui.
Barangkali begitulah waktu bekerja. Ia terus berjalan tanpa menunggu kita siap dan membawa kita menuju hari-hari yang belum kita kenal. Hingga tiba saatnya kita harus mengemasi barang-barang dan merapikan kenangan. Kita berpamitan sambil mencoba tersenyum seperti biasa. Padahal jauh di dalam hati ada sesuatu yang belum benar-benar siap kita tinggalkan.
Sebab tak semua yang pergi benar-benar ingin beranjak. Ada yang melangkah karena keadaan, ada yang menjauh karena tuntutan kehidupan, ada pula yang harus melepaskan sesuatu yang masih begitu dicintainya. Begitulah perpisahan, kaki membawa kita menjauh sementara hati membutuhkan waktu lebih lama untuk menyusul.




