Mengapa Hidup Terasa Melelahkan?
Oleh Alvian Izzul Fikri

Pernahkah Kita merasa bahwa hidup seolah tidak pernah memberi kesempatan untuk benar-benar beristirahat? Kita bangun dalam keadaan lelah, menjalani hari dengan berbagai beban, lalu kembali tidur dengan pikiran yang masih dipenuhi persoalan. Belum selesai satu urusan, sudah datang urusan lainnya. Ada tanggung jawab yang harus ditunaikan, kebutuhan yang harus dipenuhi, dan harapan yang terus diperjuangkan.
Di tengah keadaan seperti itu, terkadang kita bertanya-tanya, mengapa hidup terasa begitu melelahkan? Mengapa selalu ada sesuatu yang harus diperjuangkan?
Hal itu mengingatkan kita akan firman Allah SWT:
لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ فِي كَبَدٍ
“Sungguh, Kami benar-benar telah menciptakan manusia berada dalam susah payah.”
Imam Jalaluddin al-Mahalli dalam Tafsir Jalalain menjelaskan kata kabad dengan ungkapan:
نَصَبٍ وَشِدَّةٍ، يُكَابِدُ مَصَائِبَ الدُّنْيَا وَشَدَائِدَ الْآخِرَةِ
Artinya, kepayahan dan kesulitan. Manusia senantiasa menghadapi berbagai musibah kehidupan dunia dan kesulitan-kesulitan di akhirat.
Penjelasan ini menarik untuk kita renungkan. Ternyata, kepayahan yang dimaksud bukan hanya tentang rasa lelah ketika bekerja, sulitnya memenuhi kebutuhan hidup, atau beratnya menghadapi persoalan sehari-hari. Lebih dari itu, manusia juga akan menghadapi berbagai kesulitan yang berkaitan dengan kehidupan akhirat.
Coba kita perhatikan kehidupan sehari-hari. Ada seseorang yang lelah bekerja demi memenuhi kebutuhan keluarganya. Ada orang tua yang rela mengurangi waktu tidurnya demi mengurus anak-anaknya. Ada beberapa mahasiswa yang harus mengorbankan waktu istirahat untuk menyelesaikan tugas-tugas perkuliahannya. Bahkan, ada seseorang yang sedang berjuang melawan dirinya sendiri, menahan keinginan untuk melakukan dosa dan berusaha istiqamah dalam kebaikan.
Semua itu merupakan bagian dari kepayahan hidup manusia. Tidak semua kelelahan terlihat oleh orang lain. Ada yang lelah secara fisik, ada yang kelelahan karena pikiran, dan ada pula yang sedang berjuang dalam diam menghadapi pergulatan batinnya sendiri.
Namun, penjelasan Tafsir Jalalain mengajak kita melihat lebih jauh. Jika di dunia saja kita sudah menghadapi berbagai macam kepayahan, jangan sampai kita melupakan bahwa kehidupan akhirat juga memiliki kesulitan yang harus kita pertanggungjawabkan. Kita tidak hanya perlu memikirkan bagaimana memenuhi kebutuhan hidup hari ini, tetapi juga bagaimana mempersiapkan kehidupan setelah kematian.
Karena itu, tidak semua kelelahan berarti kesia-siaan. Ada lelah yang bernilai ibadah, ada kesulitan yang menjadi jalan penghapus dosa, dan ada kesabaran yang mengangkat derajat seseorang di sisi Allah. Rasulullah saw juga menjelaskan bahwa kelelahan, kesedihan, kesusahan, bahkan duri yang menusuk seorang muslim dapat menjadi sebab dihapuskannya sebagian dosa-dosanya.
Maka, jika hari ini kita sedang lelah, beristirahatlah sejenak, tetapi jangan menyerah. Jika sedang menghadapi kesulitan, carilah jalan keluar, tetapi jangan kehilangan harapan. Dan jika sedang berjuang menjadi lebih baik, teruslah melangkah meskipun perlahan.
Sebab, kita memang diciptakan untuk menjalani kehidupan ini dengan kelelahan. Dunia adalah tempat kita berjuang dan mengumpulkan bekal, sedangkan akhirat adalah tempat kita mempertanggungjawabkan apa yang telah kita kerjakan. Jangan sampai kita terlalu sibuk menghadapi kepayahan dunia, tetapi lupa mempersiapkan diri menghadapi kehidupan akhirat.
Berjuang, bersabar, dan terus memperbaiki diri, sebab perjalanan tidak hanya berkhir di dunia saja, tapi stasiun akhir kita bukan disini, tapi perjelanan setelah ini, karena itu mari kita berusaha, memperjuangkan, untuk memesan dan membeli tiket terbaik untuk kita tinggali kelak di akhirat nanti. Wallahu alam bisshawab.