Di Tanah Rantau, Seorang Pemuda Menjemput Takdirnya
Oleh Ifan Rohmatullah

Ada sebuah kalimat yang berbunyi, “Biarlah pria muda dalam kecemasannya pergi merantau. Jika dia berhasil, kemiskinannya akan berakhir. Namun, jika dia mati dalam perjuangannya, penderitaannya juga berakhir.”
Kalimat itu bukan sekadar rangkaian kata, melainkan gambaran tentang keberanian seorang pemuda yang memilih meninggalkan kenyamanan demi sebuah harapan. Sebab, tidak semua orang memiliki kesempatan untuk tumbuh di tempat yang sama dengan tempat ia dilahirkan. Ada yang harus berjalan jauh, meninggalkan rumah, keluarga, dan segala hal yang selama ini menjadi tempatnya bersandar.
Merantau bukan perkara sederhana. Ada kecemasan yang tidak selalu bisa diceritakan, ada kerinduan yang harus disembunyikan, dan ada kesedihan yang terpaksa ditelan sendirian. Di tanah orang, seorang pemuda belajar memahami arti kehidupan dengan cara yang tidak pernah diajarkan di bangku pendidikan. Ia belajar mengatur pengeluaran, menghadapi kegagalan, menerima penolakan, dan tetap tersenyum meskipun keadaan sedang tidak berpihak kepadanya.
Barangkali, tidak banyak orang mengetahui berapa kali ia menahan keinginannya demi menghemat pengeluaran. Tidak banyak yang tahu bagaimana rasanya menginginkan sesuatu, tetapi harus mengurungkan niat karena keadaan. Bahkan, ada malam-malam ketika pikirannya dipenuhi pertanyaan tentang masa depan, sementara tubuhnya hanya bisa berbaring menatap langit-langit kamar.
Namun, begitulah kehidupan seorang pejuang. Ia tidak selalu memiliki pilihan yang mudah. Terkadang, satu-satunya jalan adalah terus melangkah, sekalipun tidak mengetahui apa yang menantinya di depan.
Ia pergi bukan karena tidak mencintai rumahnya. Justru karena terlalu mencintai orang-orang di dalamnya, ia rela menanggung jarak dan kesulitan. Ada harapan orang tua yang ingin diwujudkan, ada kehidupan yang ingin diperbaiki, dan ada mimpi yang tidak ingin dibiarkan mati sebelum diperjuangkan.
Pada akhirnya, keberhasilan bukan hanya tentang seberapa tinggi seseorang mencapai puncak, melainkan tentang seberapa banyak perjuangan yang telah ia lewati untuk sampai di sana. Jika kelak ia berhasil, biarlah keberhasilan itu menjadi jawaban atas segala pengorbanannya. Jika perjalanan hidupnya tidak berjalan sesuai harapan, setidaknya ia pernah menjadi seseorang yang berani memperjuangkan masa depannya.
Pemuda itu mungkin telah melewati dunia yang fana ini sebagai seorang pejuang. Ia mungkin tidak sempat menyaksikan seluruh hasil dari perjuangannya, tetapi langkah-langkah yang pernah ia tinggalkan akan menjadi cerita bagi mereka yang masih melanjutkan perjalanan.
Sebab, hidup memang sementara, tetapi keberanian untuk berjuang tidak pernah menjadi sesuatu yang sia-sia. Dan bagi setiap pemuda yang sedang merantau, jangan pernah merasa bahwa perjuanganmu tidak berarti. Sebab, di balik segala kecemasan hari ini, mungkin sedang tumbuh masa depan yang selama ini kamu impikan.