Elegi Pulang ke Pangkuan Bumi
Oleh : Syabrina Wahyuni
Di persimpangan sunyi yang diukir waktu,
aku menitipkan rindu pada desau angin senja,
yang berarak membawa aroma tanah basah
dan kenangan purba yang terpahat di sudut bilik tua.
Langkah-langkah tertatih di belantara asing,
terpekur di antara riuh megapolitan yang hampa warna.
Di sini, bintang-bintang segan menyapa,
tertutup tirai mega yang angkuh dan kelabu,
berbeda dengan langit kampung halaman—
tempat rembulan setia menenun damai di beranda rumah.
Duhai relung jiwa yang merapuh dalam jarak,
ingatlah pelukan hangat yang tak lekang oleh musim,
deru ombak atau bisik lereng bukit yang mengalun syahdu,
menjadi kompas abadi penuntun arah pulang.
Sebab sejauh apa pun saujana mata memandang,
pulang adalah dermaga akhir bagi setiap asa yang lelah berperang.