45 Hari di Raci Wetan

Oleh :Nabila.F

Bagian 3 – Panik Massal di Masjid dan Kejutan Ibu-Ibu

Hari ketiga di Desa Raci dibuka dengan rutinitas baru yang makin terasa ritmenya. Jika hari sebelumnya dipenuhi ketegangan acara seremonial, hari ini tensinya sedikit mereda, bergeser ke urusan dapur dan perbekalan hidup. Sebagai bendahara kelompok, tugas utamaku sebenarnya berkutat dengan pencatatan keuangan dan memegang uang kas. Penanggung jawab divisi konsumsi yang sebenarnya adalah Mine dan Aca. Namun pagi itu, Aca berhalangan karena ada urusan lain yang tak bisa ditinggalkan. Tak tega membiarkan Mine kerepotan sendirian menjamin ketersediaan gizi belasan isi kepala di posko, aku pun turun tangan menemani, sekalian mengawasi pengeluaran kas posko secara langsung.

Lepas subuh dan merapikan tempat tidur, aku dan Mine sudah bersiap meluncur. Tujuan pertama kami adalah Qoffmart, minimarket terdekat untuk berburu kebutuhan pokok yang tidak bisa dibeli di pasar kaget seperti minyak goreng, bumbu instan, sabun cuci piring, hingga stok kopi untuk anak-anak cowok yang hobi begadang. Berkeliling di lorong minimarket sambil mendorong troli membawa kepuasan tersendiri. Sebagai bendahara, aku menghitung setiap barang yang masuk ke troli dengan cermat agar tidak membengkakkan anggaran mingguan kami.

Selesai dari sana, kami tidak langsung pulang. Perjalanan dilanjutkan dengan mencari tukang sayur keliling yang biasa mangkal di persimpangan dusun. Ini momen yang tak kalah seru. Mengingat status kami sebagai anak KKN baru, kehadiran kami di sekitar gerobak sayur langsung memancing perhatian ibu-ibu desa. Sambil memilih kangkung, tempe, cabai rawit, dan bawang, kami terlibat obrolan hangat. Mine yang luwes tanpa ragu menawar harga dengan bahasa lokal seadanya, memancing tawa hangat ibu-ibu sekitar. Senang rasanya bisa berbelanja sekaligus merintis komunikasi dengan warga.

Sesampainya di posko, dapur langsung berubah menjadi area paling riuh. Suara pisau beradu dengan talenan, minyak panas yang mendesis di atas wajan, serta candaan Ily dan teman-teman lain yang ikut membantu memotong sayur menjadi musik latar pagi itu. Kami memasak menu sederhana, namun rasa kebersamaan membuatnya terasa jauh lebih nikmat dari hidangan restoran mana pun.

Siang hingga sore harinya, kami menyempatkan diri mengelilingi gang-gang Raci Wetan untuk melariskan UMKM lokal. Mulai dari membeli pentol hangat di pinggir jalan, es wawan, hingga jajanan buatan warga setempat. Ini bukan cuma soal mengenyangkan perut, melainkan strategi kecil kami untuk mendukung perekonomian warga sekaligus makin mengakrabkan diri dengan lingkungan sekitar.

Namun, puncak cerita hari ketiga ini terjadi ketika malam menjelang. Usai shalat Isya, kami mendapat undangan kehormatan dari pengurus takmir untuk menghadiri acara Lailatul Ijtima’ di masjid utama desa. Acara ini merupakan tradisi keagamaan bulanan warga Raci Wetan yang sangat dinanti. Tanpa berpikir panjang, kami sepakat berangkat bersama-sama dengan pakaian rapi.

Suasana masjid malam itu terasa begitu megah dan hangat. Karpet hijau terhampar luas, lampu kristal gantung memancarkan cahaya keemasan, dan aroma minyak wangi menyeruak halus di udara. Jamaah terbagi menjadi dua kelompok besar, jamaah putra di barisan masjid utama dekat mimbar, dan jamaah putri di area masjid samping yang dibatasi tirai pembatas.

Acara inti malam itu adalah pembacaan Maulid Diba’i atau yang biasa kami sebut ‘dibaan’. Suara lantunan syair pujian mulai bergema saat jamaah putra memegang mikrofon secara bergantian. Suaranya merdu, berirama khas, dan diikuti oleh seluruh jamaah dengan khusyuk. Kami yang duduk manis di barisan depan putri ikut menyimak sambil manggut-manggut menikmati ketenangan suasana.

Sampai akhirnya, giliran pembacaan berpindah ke barisan jamaah putri.

Di sinilah drama sebenarnya dimulai. Aku dan anak-anak cewek KKN lainnya yang tadinya hanya berniat menjadi pendengar yang baik, mendadak kaku bagai patung. Seorang ibu-ibu pengurus masjid dengan senyum sangat ramah berjalan mendekati tempat duduk kami, lalu tanpa basa-basi menyerahkan mikrofon nirkabel tepat ke pangkuan kami!

“Ayo, Mbak-Mbak KKN, giliran yang muda melanjutkan bait selanjutnya,” bisik ibu tersebut penuh harapan.

Seketika itu juga, kepanikan massal melanda kelompok kami secara senyap. Mata kami saling belalak dalam diam. Jantungku serasa melompat ke tenggorokan. Bagaimana tidak panik? Sebagian besar dari kami berasal dari universitas negeri yang jujur saja sangat jarang terlibat dalam tradisi ‘diba’an’ berirama khusus seperti ini di lingkungan kampus. Membaca teks Arabnya saja mungkin bisa, tetapi melantunkannya dengan nada khas Maulid Diba’i yang cepat dan berlekuk-lekuk adalah ujian tingkat tinggi.

“Duh, gimana ini? Aku nggak hafal nadanya!” bisik win di sebelahku dengan wajah pucat.

Di tengah situasi kritis dan heningnya ruang masjid yang menunggu suara kami, Mine mendadak muncul sebagai penyelamat. Dengan ketenangan luar biasa yang patut diacungi dua jempol, Mine mengambil alih mikrofon. Tanpa ragu sedikit pun, dia menarik napas dalam-dalam lalu mulai melantunkan bait Maulid Diba’i dengan nada yang begitu pas dan fasih!

Melihat keberanian Mine, aku dan teman-teman lainnya mendadak mendapat suntikan kepercayaan diri. Kami langsung merapat, ikut menyahut bagian reff dan membaca teks kitab di tangan Mine dengan suara lantang. Kepanikan yang sempat menyergap berganti menjadi kolaborasi dadakan yang luar biasa mulus. Tantangan Maulid Diba’i malam itu resmi kami taklukkan dengan sukses!

Ibu-ibu jamaah putri tampak tersenyum bangga melihat ketangguhan anak-anak mahasiswa ini. Setelah pembacaan maulid selesai dan doa penutup dikumandangkan, suasana berubah menjadi lebih santai. Acara dilanjutkan dengan sesi foto bersama di dalam masjid. Kami berfoto ria dengan berbagai gaya bersama para ibu-ibu yang sangat ramah.

Saat kami mulai merapikan barang bawaan dan bersiap-siap pamit untuk kembali ke posko, sebuah kejadian tak terduga kembali menahan langkah kami.

“Mbak Bila! Mbak Frozen! Sebentar, mampir sini dulu!” panggil seorang ibu dengan nada setengah berteriak dari arah dapur masjid.

Kami pun menoleh dan menghampiri. Betapa terkejutnya kami saat melihat apa yang sudah disiapkan ibu-ibu untuk kami. Di atas meja kayu panjang, sudah menumpuk puluhan kantong plastik dan kantong besek berisi beragam jajanan pasar, kue basah, hingga makanan berat hasil dari acara malam itu.

“Ini dibawakan buat anak-anak di posko, ya. Harus dihabiskan, biar enggak masak lagi nanti malam!” ucap ibu-ibu tersebut sambil menjejalkan kantong-kantong berukuran besar itu ke pelukan kami satu per satu.

Tangan kami sampai tak sanggup menampung begitu banyaknya bingkisan yang diberikan. Ada rasa hangat yang membuncah di dalam dada. Ketakutan akan salah nada saat dibaan tadi terbayar lunas dengan limpahan kasih sayang dan makanan lezat yang berlimpah. Kami berjalan pulang menyusuri jalanan desa yang sepi sambil tertawa lepas dan membawa buah tangan yang menggunung. Hari ketiga di Raci tidak hanya mengenyangkan perut, melainkan juga mengenyangkan hati.

bersambung…

Author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Facebook
Twitter
WhatsApp