
MASA TRANSISI
By; Zid-ly Auliana
Hari ini hari Senin, hari pertamaku sekolah di MAN 1 TANGERANG. Kebetulan rumahku jauh dari sekolah, sehingga aku menempati gedung asrama sekolah. Namun wabah covid-19 merajalela membuatku bersekolah dari rumah dan berhadapan dengan beragam layar.
Kubuka Whatsapp, kulihat aku sudah berada dalam grup kelas dengan nomor-nomor yang tidak kukenal. Sebuah pesan masuk dalam handphone, rupanya itu adalah wali kelas yang sedang memperkenalkan diri. Setelah memperkenalkan diri, beliau mempersilahkan Kami sebagai murid untuk satu persatu berkenalan di grup. Aku mulai mempekenalkan diri.
“Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh
Perkenalkan, nama saya Salia Ananta biasa dipanggil Lia, dari SMP 1 Bekasi”
Senang rasanya dapat berkenalan dengan teman-teman, kebanyakan Mereka juga jauh-jauh rumahnya. Satu-satunya anak yang kukenal dalam kelas hanya Anisa, karena hanya Anisa yang satu sekolah ketika SMP.
Hari demi berganti, adanya tugas kelompok sepasang-sepasang hingga berjumlah empat sampai lima orang berbeda mata pelajaran. Aku biasanya selalu berkelompok dengan Senja, meskipun dahulu aku satu sekolah dengan Anisa, aku jarang bersamanya sekarang. Mungkin karena Anisa sudah memiliki teman dekat baru, Zahra.
Daring membuat kami dekat hanya sebatas antar layar, semua berlandas virtual. Pembelajaran kurang efektif, bagaimana tidak? Jika dari jam empat pagi hingga jam dua belas siang menatap layar laptop. Sekolah pada umumnya dimulai jam tujuh pagi, namun karena aku bertempat tinggal di asrama jadi ada pembelajaran dari asrama sendiri yang dimulai jam empat pagi. Hanya sekedar membaca quran dan belajar agama yang disebut dengan taklim. Belum lagi pemerintah melarang keluar rumah bila tidak ada sesuatu yang teramat penting.
Dilarangnya keluar rumah, sedikitnya kegiatan aktif, membuat aku jenuh berdiam diri di rumah. Belajarpun menjadi bosan karena hanya layar dan layar yang setiap hari bertemu. Tidak aku saja yang merasakan kejenuhan ini, hampir semua orang, tidak memandang tua atau muda juga jenuh dengan rotasi kehidupan yang seperti ini setiap harinya. Suara sirine ambulan tak henti pagi hinga malam, kabar meninggal dimana-mana, dikurungnya di dalam rumah membuat stress dan depresi. Sedikit demi sedikit orang sekitarku keluar rumah, termasuk sebagian besar merupakan teman sekelasku. Meski tidak terlalu berkepentingan hanya untuk meredam rasa bosan.
Aturan pemerintah dilanggar, akibatnya mayoritas mereka yang keluar rumah tanpa berkepentingan terkena sakit batuk, pilek, dan panas. Terlebih mereka yang tidak mematuhi protokol kesehatan. Untungnya hanya tanda-tanda covid saja, tidak sampai terkena covidnya.
#
Setahun bersekolah daring, akhirnya naik ke kelas sebelas juga, pembelajaran berjalan sebagaimana daring biasanya. Pertengahan semester tiba-tiba muncul notifikasi yang dikirim dari ketua kelas ke grup kelas. Aku membuka group yang sudah ramai teman-teman membalas chat tersebut.
“Innalillahi wa inna ilaihi rojiun, telah wafat bapak dari teman kita atas nama Zahra Malina. Semoga amal ibadahnya diterima Allah swt. Amin.”
Banyak yang berempati kepada Zahra atas kehilangan bapak Zahra. Kami selaku teman juga saling mendoakan, mengucapkan innalillahi wa inna ilaihi rojiun, menyumbangkan sejumlah uang, dan melaksanakan tahlil online tiga angkatan mulai kelas sepuluh hingga dua belas selama tujuh hari berturut-turut.
Tak lama berselang sekitar satu bulan lebih setelah wafatnya bapak Zahra, keluar surat edaran dari sekolah yang mengabarkan bahwa akan dilaksanakan pembelajaran tatap muka tak lama lagi, dengan aturan yang masuk selang-seling sehari-sehari antara anak asrama dan non asrama.
Seminggu sebelum berangkat menuju Tangerang aku sudah mempersiapkan barang-barang yang akan kubawa mulai dari seragam, baju bebas, alat mandi, serta buku, dan alat tulis. Tibalah waktu untuk berangkat, aku sudah memesan tiket kereta digital dan segera berangkat ke stasiun. Banyak kursi kosong didalam kereta, sepi, kalaupun ada orang pasti menjaga jarak. Bosan sekali selama di dalam kereta tanpa adanya yang diajak bicara, hanya petugas kereta yang berkeliling untuk berjualan. Satu cup mi panas yang menemaniku selama perjalanan tidak sebanding dengan kebersamaan. Aku rindu kebersamaan dengan teman.
Selama hampir tiga jam di dalam kereta, akhirnya sampai ke tujuan stasiun Tangerang. Aku berangkat dari rumah hingga sampai ke asrama sendiri, tidak ditemani orang tua karena mereka sedang repot masalah pekerjaan yang harus bolak-balik ke luar kota. Sampailah aku di kamar 104, lelah sekali, kuusap sesekali peluh di keningku. Napasku terengah-engah, lelah membawa banyak barang tanpa adanya pawang.
Masih jam delapan pagi, namun teman-temanku sudah banyak yang datang. Sekamar berisi delapan orang, delapan orang di kamar 103, empat anak sekamar denganku, sisanya tidak tinggal di asrama berjumlah empat anak.
Di kamar 103 ada Dina, Via, Fila, Arilla, Kosya, Anisa, Caca, dan Andhara. Kamar 104 ada Aku, Cici, Senja, dan Bryna. Kami masih belum dekat antar sesama, hanya di lingkup kamar saja meski kami sekelas.
Kami mulai adaptasi dengan kegiatan asrama yang sebelumnya di rumah hanya rebahan. Dimulai jam empat pagi salat subuh, dilanjut dengan membaca Alquran kemudian taklim sampai jam lima. Jam lima ada waktu yang bisa digunakan untuk mandi, makan, hingga persiapan sekolah. Jam setengah tujuh mulai berangkat sekolah dan hari ini adalah waktu murid yang berada di asrama bertatap muka. Pulang sekolah jam dua belas siang, langsung saja kami salat zuhur di masjid yang jaraknya tidak jauh dari sekolah, tinggal berjalan kaki. Setelah zuhur free sampai magrib, ketika magrib salat berjamaah di asrama dan dilanjut dengan taklim malam, lanjut salat isya dan yang terakhir makan malam. Selepas makan malam ada waktu free lagi yang bisa digunakan untuk bermain laptop, nugas, ataupun tidur.
Besoknya kegiatan dimulai dari subuh sama seperti kemarin, hanya saja ketika berangkat sekolah kami tetap berada di asrama karena sekarang jadwal murid yang tinggal di asrama daring. Tidak seperti di rumah yang satu laptop satu anak, kami menggunakannya satu laptop untuk bersama. minimal satu laptop untuk sekamar, namun ada juga temanku yang memisahkan diri keluar kamar untuk mencari sinyal.
Hari demi hari berlalu hingga edaran perubahan jadwal keluar. Muncul dari notifikasi sebuah pdf, sistem daring dan luring kini bukan lagi asrama dan non asrama, melainkan ganjil genap. Di samping itu pula datangnya Zahra ke asrama yang telat, tidak sama seperti teman-teman lainnya sesuai jadwal dikarenakan masih berduka dengan keadaan keluarga.
Zahra ke asrama diantar ibunya, data kamar Zahra tercantum pada kamar 103. Namun karena Zahra datangnya terlambat selama hampir dua minggu lebih, sisa kasur dan lemari yang kosong telah di tempati anak lain yang tidak sekelas dengan kami, yaitu anak IPS. Sehingga Zahra dipindah di kamar 102 dan tidak ada yang dikenalinya karena tidak ada yang sekelas di kamar tersebut.
Kami menghampiri ibu Zahra yang membawa barang-barang milik Zahra dilanjut dengan bersalaman.
“Titip Zahra ya”, ucap ibu Zahra ramah.
“Iya bu”, jawabku.
Ibu Zahra bersalaman dengan anaknya kemudian pulang. Zahra segera membereskan barang bawaannya di kamar. Menata baju, buku, dan alat mandi. Karena merasa asing dengan teman kamarnya, tanpa berkenalan Zahra langsung menuju ke kamar sebelah, kamar 103. Zahra masuk ke kamarku dan disambut dengan kita yang sekelas saja, anak IPS tidak menghiraukan karena tidak mengenal. Aku mengajaknya berbincang-bincang di kasur.
“Kamu kok telatnya lama banget?”, tanyaku.
”Iya, aku masih sedih banget kehilangan ayahku. Aku di rumah bantu-bantuin ibuku, kasihan ibuku sekarang sendirian. Aku juga sebenarnya kepingin pindah sekolah”, jawab Zahra dengan nada melas.
“Loh, iya?”, tanyaku kaget.
“Iya”.
“Terus kamu mau pindah ke mana?”, tanyaku penasaran.
“Ya sekitar kotaku aja, di Mojokerto”.
“Terus gimana?”
“Ya aku udah bilang ke ibuku, ‘bu, aku mau pindah sekolah, aku mau bantu ibu disini’ tapi kata ibu nggak usah, lanjutin aja di sekolah yang sekarang, nanggung udah kelas sebelas habis ini lulus. Bahkan aku sebenarnya udah pingin pindah dari kelas sepuluh…”.
“Ha? Kenapa?”, tanyaku memutus pembicaraan Zahra.
“Ya nggak papa, cuma pingin pindah aja, tapi aku nggak bilang kalo kelas sepuluh pingin pindah”, jawab Zahra singkat.
Setelah mengobrol cukup lama, Zahra berpamitan keluar menuju kamar 104, “udah dulu ya, aku mau ke kamar sebelah”.
Itulah kegiatan sehari-hari Zahra, berkunjung ke kamar 103 dan 104 karena merasa asing dengan teman kamarnya sampai pada akhirnya Zahra jarang ke kamarku dan lebih sering ke kamar 104 karena sama-sama asing juga dengan anak IPS di kamarku, Zahra menganggap tidak bisa leluasa berekspresi di kamar 103. Mungkin Zahra ke kamarku sesekali, itu pun hanya bercerita kepadaku ataupun yang lebih sering menjadi tampungan cerita Zahra adalah Cici.
Setelah lama tidak berkunjung ke kamarku, akhirnya Zahra datang juga dengan membawa cerita. Dengan nada julid Zahra mulai bercerita, “Eh, Lia, aku ceritain. Itu loh si Kosya beli-beli skincare mulu, boros banget dia”.
“Emang beli apa aja dia?”, tanyaku merespons.
“Ya banyak, sabun muka itu Kosya belum habis udah beli lagi, scrub, serumnya berbotol-botol dan masih penuh, haduuhhh boroslah pokoknya”, jawab Zahra kesal melihat tingkah Kosya.
#
Besok penilaian akhir semester, aku tipe anak yang kalau belajar harus sepi, jadi aku memilih tempat untuk sendiri. Di tengah aku belajar, datanglah Zahra. aku merasa terganggu dengan kehadiran Zahra, bukan tanpa alasan, Zahra datang untuk bercerita sedangkan keadaanku belajar. Aku pun juga tidak bisa memutus cerita Zahra, karena namanya orang butuh curhat tidak bisa disela, sehingga terpaksa aku harus mendengarkan.
“Anak 104 loh, boros-boros, mereka go food hampir setiap hari, uangku jadi habis kalo kaya gini. Mereka apa mikir ekonomi di rumah gimana? Aku ya mikir rumah, mikir sekolah, mikir ekonomi gimana”, curhat Zahra memelas.
Aku sebenarnya membatin ‘kalau kamu bisa berhemat dan nggak gampang ikut mereka sebenarnya kamu bisa kok mengelola uang’, namun aku tetap merespons dengan baik, “terus kamu gimana kalo uangnya udah habis?”.
“Ya aku minta ibuku, dibilangin ‘di hemat ya’, aku jawab iya, aku udah berusaha hemat”.
Lagi-lagi aku membatin, ‘jika kamu memang berusaha benar-benar hemat, lantas mengapa aku melihatmu ketika anak 104 membeli kamu juga ikut membeli dan itu berkelanjutan? Tidak sesekali.’ Aku melihat Zahra ketika itu istirahat pertama makan di kantin, istirahat ke dua makan bakso karena anak 104 pada makan bakso sehingga Zahra ikut-ikutan, bahkan pulang sekolah pun masih sempatnya go food. Jangan bersikap gengsi jika tidak membeli hal yang sama dengan anak 104, mereka beli karena keinginan mereka sendiri, lagi pula mereka tidak pernah mengeluh setelah membeli.







