Yang Mulia dari Sebuah Pinjaman

Oleh  Ilman Mahbubillah

Ada satu fenomena khas masyarakat kita yang kadang menarik diamati: orang Indonesia itu sebenarnya lumayan dermawan, tapi sering bingung membedakan antara sedekah, bantuan, dan utang. Akibatnya, ada yang niat awalnya menolong, ujung-ujungnya malah jadi takut buka WhatsApp sendiri. Semua bermula dari satu kalimat sederhana: “Tenang aja, nanti saya ganti”. Kalimat yang kalau terlalu sering diucapkan, auranya mulai mirip trailer film horor psikologis.

Padahal dalam tradisi Islam, memberi utang justru punya posisi yang cukup istimewa. Ibnu Umar pernah mengatakan bahwa pahala sedekah dicatat ketika sedekah itu diberikan, sedangkan pahala memberi pinjaman terus mengalir selama uang itu masih berada di tangan orang yang berutang. Artinya, selama utangnya belum lunas, pahala si pemberi masih berjalan terus. Kalau dipikir-pikir, ini seperti deposito akhirat, cuma bedanya tidak ada aplikasi mobile banking-nya.

Pandangan ini bahkan dijadikan dasar oleh sebagian ulama bahwa mengutangi orang bisa lebih utama daripada bersedekah. Dan ternyata alasannya cukup masuk akal. Dalam sebuah hadis disebutkan bahwa saat peristiwa Isra Mi’raj, Nabi melihat tulisan di pintu surga:

إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ رَأَى لَيْلَةَ أُسْرِيَ بِهِ مَكْتُوبًا عَلَى بَابِ الْجَنَّةِ: دِرْهَمُ الْقَرْضِ بِثَمَانِيَةَ عَشَرَ، وَدِرْهَمُ الصَّدَقَةِ بِعَشْرٍ

“Satu dirham yang dipinjamkan dilipatgandakan delapan belas kali, sedangkan satu dirham sedekah dilipatgandakan sepuluh kali.

Lalu Nabi bertanya kepada Jibril mengapa pahala memberi pinjaman lebih besar daripada sedekah. Dan jawaban Jibril ini menarik sekali:

لِأَنَّ السَّائِلَ يَسْأَلُ وَعِنْدَهُ، وَالْمُقْتَرِضُ لَا يَقْتَرِضُ إِلَّا مِنْ حَاجَةٍ

“Karena orang yang meminta sedekah terkadang masih memiliki sesuatu, sedangkan orang yang berutang tidak akan berutang kecuali karena benar-benar membutuhkan”. (HR. Ibnu Majah)

Di sini kita mulai sadar bahwa memberi utang bukan sekadar transaksi uang. Ada dimensi menjaga martabat manusia di dalamnya. Tidak semua orang kuat meminta-minta secara langsung. Ada orang yang rela menahan lapar, tapi gengsi untuk mengemis. Maka ketika kita memberi pinjaman, sebenarnya kita sedang membantu sambil tetap menjaga harga dirinya agar tidak runtuh di depan orang lain.

Makanya, budaya utang dalam masyarakat kita itu unik. Kadang orang lebih nyaman bilang, “Pinjam dulu ya”, daripada “Minta ya”, Bukan karena mau licik, tapi karena masih ada sisa rasa malu dalam dirinya. Dan rasa malu seperti ini justru sesuatu yang sehat. Bayangkan kalau semua orang tiba-tiba hilang malunya, mungkin grup keluarga sudah berubah jadi proposal bantuan sosial berjalan.

Tapi tentu saja, pembahasan tentang mulianya memberi utang ini jangan buru-buru dijadikan pembenaran oleh pihak yang berutang. Karena aneh juga kalau ada orang baca tulisan begini lalu mendadak merasa dirinya sedang membantu pahala orang lain dengan cara belum bayar-bayar. Ini bukan simbiosis mutualisme syariah. Pemberi utang dapat pahala karena menolong, bukan karena dipaksa menjadi debt collector spiritual.

Masalahnya, sebagian orang sekarang memperlakukan utang seperti fitur pay later yang terlalu filosofis. Minjamnya cepat, bayarnya memakai konsep takdir. Ketika ditagih, jawabannya mulai masuk wilayah tasawuf: “Rezeki sudah ada yang ngatur”. Padahal yang nagih juga percaya takdir, cuma tagihan tetap harus jalan.

Karena itu, Islam bukan cuma memuliakan orang yang memberi pinjaman, tapi juga sangat keras dalam urusan membayar utang. Bahkan Nabi Muhammad SAW pernah enggan menyalatkan jenazah yang masih memiliki utang sebelum ada kepastian pelunasannya. Ini menunjukkan bahwa utang bukan perkara receh. Ia bukan sekedar hubungan finansial, tapi juga menyangkut amanah dan tanggung jawab moral.

Mungkin justru di situlah indahnya ajaran Islam soal muamalah. Yang ditolong dijaga martabatnya, yang menolong dijaga pahalanya, dan yang berutang tetap diingatkan tanggung jawabnya. Jadi semuanya tetap manusiawi, tanpa kehilangan nilai etiknya. Sebab kadang, yang membuat hubungan rusak bukan nominal utangnya, tapi hilangnya rasa tahu diri setelahnya.

Dan di zaman sekarang, rasa tahu diri itu memang mulai mahal. Lebih mahal daripada kopi literan yang dibeli pakai uang hasil ngutang tadi.

Author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Facebook
Twitter
WhatsApp