Melihat atau Merasa

Sumber: www.storage.nu.or.id

Oleh: Indah Mawaddah Rahmasita

            “Kehidupan indah tapi menyakitkan dan kehidupan
sepi dalam kehampaan tapi menyenangkan

            Pernah terpikir “apakah kehidupan yang
sesungguhnya seperti ini ?”. Entah apa jawaban yang pantas untuk hal tersebut.
Kadang kala, manusia itu berubah-ubah. Perubahan manusia itu bermacam-macam.
Misalnya, ada seseorang yang terkenal baik ternyata setelah kenal dunia luar seseorang
tersebut berubah menjadi orang asing. Entah indikator apa yang merubahnya.

            Perubahan ini ada yang negativ dan ada yang
positif. Ketika perubahan itu bersifat negativ, maka perubahan ini tidak bisa
melihat mana kawan dan mana lawan. Sehingga seseorang yang berubah ke negativ
maka sulit untuk disadarkan. Tetapi hal ini bisa ditepis dengan kesabaran orang-orang
disekitarnya atau dibiarkan saja sampai ketemu dengan kehampaan yang paling
dalam.Ketika perubahan itu bersifat positif, maka kebaikan akan datang
kepadanya tanpa ada orang yang tersakiti di sekitarnya.

            Lantas apa hubungannya dengan kalimat pembuka
diatas?. Hubungannya adalah ketika sebuah jasad memiliki ruh, maka dia hidup.
Tetapi kehidupan yang seperti apa ?, kehidupan disini ialah kehidupan yang
damai. Dimana semua indra bisa berfungsi dengan baik. Misalnya, bisa melihat
tapi tidak bisa merasa percuma atau bisa merasa tapi tidak bisa melihat juga
percuma, yang ada hanyalah kehampaan.

            Tidak bisa dipilih antara melihat dan merasa,
sebab kedua hal itu sangat berhubungan. Hubungan yang seperti apa ?.
hubungannya yaitu dalam berkehidupan. Manusia adalah makhluk sosial,
membutuhkan satu sama lain. Tetapi ketika manusia itu individu maka belum
terbentuk sebuah kehidupan.

            Melihat dan merasa sangat dibutuhkan saat
makhluk sosial berinteraksi satu sama lain. Interaksi ini bisa berwujud
seperti  halnya pertemanan. Manusia itu ketika indra melihat dan merasanya
berfungsi dengan baik, maka manusia itu bisa dikatakan peka. Tetapi ketika
indra itu berfungsi dan tidak peka. Maka ada yang salah dengan interaksinya.

            Pertemanan adalah hal yang lumrah. Pertemanan
juga hal indah tetapi bisa jadi celaka. Ketika pertemanan dibumbui dengan
sebuah rasa ambisi, dendam dan pencitraan yang menghasilkan sebuah pertikaian.
Tetapi akan lebih sakit lagi ketika dilupakan.

            Manusia adalah makhluk yang rapuh ketika
dihadapkan dengan sebuah perasaan. Entah apa yang membuatnya seperti itu.
Tetapi kerapuhan bisa ditutupi dengan ketegaran. Ketegaran yang seperti apa ?,
ketegaran dimana rasa sesak diwarnai dengan senyuman keramahan.

            Keramahan adalah obat untuk kenyataan yang
menyakitkan, ketika melihat dan merasa tidak berfungsi dengan baik. Keramahan
adalah bentuk dari ekspresi kekecewaan yang teramat dalam. Keramahan juga
bentuk dari etika dalam berkehidupan.

            Melihat dan merasa seperti halnya inti dari
kehidupan. Dengan melihat dan merasa bisa menghasilkan sebuah keharmonisan.
Meskipun tidak semua orang mengalaminya sebab diera sekarang adalah era yang
hanya menggunakan salah satu indra melihat atau merasa. Diera yang sangat minim
kesadaran dalam berkehidupan. Merasa setia pun tidak cukup meski bisa melihat
kenyataan atas kebenaran.

            Memang benar akal itu harus digunakan tetapi
kalau menyakiti apalah guna akal itu. Terciptanya kedamaian tidak harus menoton
menggunakan akal. Akal yang dimaksud ialah intektual-intelektual kaum muda maupun
tua. Tidak semua aspek berkehidupan itu berintektual tetapi intelektual akan
berfungsi baik ketika bisa menyadarkan seseorang atau sekelompok orang.

            Diera sekarang adalah era kurangnya kesadaran
dan kepekaan. Entah apa yang menyebabkan hal ini. Tetapi diera sekarang sangat
dibutuhkan kesadaran yang sangat besar dimana bisa membentuk pribadi
berkehidupan yang damai tanpa pertikaian serta menjatuhkan.

Ketika tuhan berfirman,

Lantunan ayat yang indah menggema,

Membentuk, membentur

Tiap-tiap kemunafikan

Melihat seolahnya menghina

Merasa bak kerisauan dada

Mengukir tiap-tiap bait tanpa rasa

Kehampaan yang tersisa

Cinta kasihmu tiada tara,

Tuhan

Umat-Mu kini porak-poranda

Dalam sendu aku berdoa

Semoga kelak kedamaian datang

 

Pondok Pesantren Darun Nun Malang

Author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Facebook
Twitter
WhatsApp