Oleh: Muhammad Thoriq abdul jabbar
Mie instan adalah sebuah sebuah makan yang tidak asing di masyarakat indonesia, bahkan di dunia sekalipun. Popularitasnya meluas dari sabang hingga merauke, dan merambah ke seluruh lapisan sosial. Kenapa bisa begitu? Bentuknya yang panjang menggelombang, Rasanya yg gurih dan memanjakan lidah, Harganya yang terjangkau, serta penyajiannya yang praktis dan ramah di kantong membuat mie ini disukai banayak orang. Proses pembuatannya yang unik dari tepung terigu, air, garam, penguat rasa (MSG), dan minyak (biasanya minyak sawit) dalam proses produksinya membuat ia tahan lama. Setelah dicetak mie ini kemudian mengalami proses penggorengan dan pengeringan agar lebih tahan lama dan siap disajikan setelah diseduh dengan air panas membuat mie instan menjadi makan yang sangat praktis bagi banyak orang, mulai anak kos, pekerja sibuk, hingga keluarga. Ia sering di gunakan untuk lauk makan yang disajikan dengan nasi, Ia juaga buakan hanya sekedar makanan, melainkan juga menjadi budaya moderen yang serba sat set tanpa ribet.
Namun, di balik kenikmatan dan kemudahanya mie instan memiliki dilema kesehat di baliknya yang tidak bisa di abaikan dengan sepele. Sebagian besar mie instan diproses dengan cara penggoreng yang membuat kandungan lemaknya tinggi. Bumbu penyedapnya juga mengandung natrisium, MSG, dan bahan kimia lainya yang jika di konsumsian secara berlebihan dapat membahayakan tubuh, mengkonsumsi mie instan yang berlebih bisa memicu berbagai kesehatan serius, seperti hipertensi, darah tinggi, penyakit jantung, dan juga obesitas. Selain itu juga mie instan memiliki nilai gizi yang minim. Pasalnya dalam proses produksinya, makanan ini telah melewati beberapa tahapmulai dari pendinginna, pemasakan, pemanasan, hingga pengeringan yang menghilangkan sebagian besar nutrisi alaminya. Makanan ini tidak menyediakan vitamin, mineral, atau serat yang cukup untuk memenuhi kebutuhan tubuh. Sedangkan kebutuhan kita akan hal itu sangat besar untuk menjaga daya tahan tubuh kita dalam melakukan kegiatan sehari-hari. Tubuh kita butuh asupan yang seimbang, bukan sekedar karbohidrat dan lemak.
Mie instan bisa di ibaratkan seperti pedang bermata dua. Di satu sisi, ia sebagai solusi cepat dikala sedang lapar dan menjadi penyelamat disaat genting. Ia hadir disaat kantong menipis, waktu yang terbatas, atau saat tak ada pilihan lain. Di sisi lain, ia sebagai contoh nyata bagai kemudahan mendatangakan harga yang mahal bagi kesehtan kita. Perlu kita sadari bahwasanya mie instan tidak di jadikan sebagai makan pokok apalagi sebagai pengganti nasi karbohidrat bagi tubuh. Menyandarkan pola makanan pada mie instan sama saja mengabaikan kebutuhan nutrisi tubuh. Kita perlu menyadari hal ini dan mulai bijak dalam mengkonsumsinya. Untuk meminimalkan risiko kesehatan, nikmatilah mie instan sesekali saja. Namun, untuk meminimalkan dampak buruknya, ada baiknya Jika kita menambahkan sesekali memakai sawi, wortel, brokoli untuk menambahkan serat dan vitamin. Tambahkan protein dari telor, daging, atau pun yang lain agar bisa menambah protein dan sejenisnya. Dengan cara ini, kita tidak hanya mendapatkan kenikmatan dari rasanya, tetapi juga memastikan tubuh mendapatkan nutrisi yang lebih seimbang. Jangan sampai kita mengorbankan kesehatan jangka panjang dengan kenikmatan yang sesaat belaka.
Jadi, bagaimana menurut anda, para penikmat mie instan? Apakah anda masih menganggap mie instan sebagai penyelamat tanpa sarat atau sebaliknya? Saran saya, batasi konsumsi mie instan. Tubuh anda berhak mendapatkan yang terbaik.
Refrensi
Mukarromah, I., Agnesia, D., & Rahma, A. (2021). Pengaruh substitusi daun kelor dan tulang ikan bandeng terhadap evaluasi sensori dan kandungan gizi mie instan. Ghidza Media Jurnal, 3(1), 215-225.
Katmawanti, S. (2016). Analisis faktor yang mempengaruhi pola konsumsi mi instant pada mahasiswa di universitas negeri malang. Preventia: The Indonesian Journal of Public Health.







