Oleh Dinda Novita Sari
Jika saja takdir bisa ku ubah sendiri mungkin aku
lebih memilih untuk tidak akan mau menjalani takdir kehidupan yang seperti ini
yang rumit, memuakkan, dan penuh akan drama. Aku akan lebih memilih untuk lari
mencari bahagia yang ku inginkan dan menjadi egois tanpa harus memikirkan
siapapun. Tapi sayang takdir tak akan pernah menurut denga apa yang kita
inginkan. Karena semua sekenario yang ada telah tertulis dalam naskah sutradara
kehidupan.
Aku ingin menjadi egois tanpa harus memikirkan
siapapapun, menjadi egois dan bisa memilih apapun yang ku inginkan, menjadi
egois dan mejauh dari mereka yang memuakkan. Aku lelah harus selalu mengalah, lelah
pura-pura bahagia di antara tumpukan luka yang ada, lelah pura-pura tersenyum
di saat mata ingin menangis. Aku Lelah dengan semua itu, memendam rasa sendiri
tanpa ada yang memahami.
Aku hanyalah seorang gadis ceroboh dan pelupa yang
ingin mencari bahagianya. Berharap pada tuhan untuk tak lagi memberi cobaan
yang membuatku ingin mengakhiri semua ini. Aku bukan sosok kuat yang akan baik-baik
saja di saat semua luka itu membuatku semakin hancur. Aku hanya sosok hamba
yang menghibah pada Tuhannya untuk segera mengakhiri segala kesakitan ini.
Dikecewakan, diabaikani, dan terlupakan bukan lagi
hal baru bagiku. Sudah terlalu sering aku merasakan-nya. Bahkan semua luka itu
sudah ada di saat aku sendiri belum mengerti arti dari bahagia. Aku tak ingin
menyalahkan Tuhan yang telah menciptakan sekenario dalam kehidupan ini. Namun
sebagai seorang hamba tak ada salahnya untukku mengeluh bukan.
Aku hanya ingin bercerita sedikit mengenai luka yang
selama ini ku pendam sendiri. Berharap bisa mengurangi beban yang menyesakkan
dada. Aku sadar mungkin banyak di luar sana yang memiliki cobaan yang lebih
berat dari yang ku rasakan. Namun sekali lagi ku katakana aku hanya ingin
bercerita tidak untuk memandingkan.
Ada yang pernah bertanya pada ku “hal apa yang
membuatmu iri di dunia ini?”. Ku katakana padanya “di dunia ini ada dua hal
yang membuatku iri. Pertama keluarga yang harmonis, dan yang kedua
memiliki sahabat yang selalu ada”. Lalu ia kembali bertanya “kenapa?”. Tak ku
jawab pertanyaanya saat itu karena aku tak ingin ada yang melihatku menangis
dan terlihat lemah.
Mereka bilang keluarga yang harmonis adalah keluarga
yang utuh ada ayah, ibu, dan anak yang saling melengkapi. Tapi bagiku itu semua
hanyalah angan yang tak akan menjadi nyata. Semuanya telah hancur hanya karena
sebuah kepercayaan yang telah terhianati. Sosok yang seharusnya menjadi cinta
pertama untuk anak perempuannya namun dia sendiri yang telah mematahkan cinta
itu. Memberikan luka dan trauma bagiku yang mungkin tak akan bisa terlupakan.
Saat itu mungkin masih terlalu kecil bagiku untuk
bisa memahami semuanya. Namun aku bisa merasakan “mungkin setelah ini semuanya tak
akan pernah sama lagi”. Yah, dan itu semua benar terjadi seakan langit telah
runtuh dan memporak-porandakan segalanya. Yang kulakukan saat itu hanya diam
menangis dalam sunyi seakan tak mengerti apapun. Aku marah pada keadaan
menyalahkan Tuhan atas apa yang terjadi “Tuhan apa yang Kau lakukan, mengapa Kau
memisahkan keluarga ku. Mengapa Kau sangat jahat sekali?”.
Gadis kecil yang seharusnya bermain dipaksa untuk
menajdi lebih dewasa oleh keadaan, menjadikannya korban dari sebuah keegoisan. Tak
ada yang bisa ia lakukan di saat semuanya pergi begitu saja satu-persatu.
Meninggalkan ia sendiri dengan air mata yang menetes. Tak ada yang bertanya
apakah ia baik-baik saja. Mereka hanya sibuk dengan diri mereka sendiri
memaksanya untuk lebih mengerti akan keadaan yang ada. Membuatnya harus menjadi
gadis baik dan penurut agar tak menyusahkan banyak orang.
Mungki semua itu telah berlalu, gadis kecil yang
malang telah tumbuh menjadi seorang gadis dengan setumpuk lukanya. Terlalu
banyak rintangan yang harus ia lalui untuk bisa ada di titik ini. Mencoba untuk
mengabaikan luka-luka yang ada dan menatap masa depan yang menanti di depan
mata.
Aku iri dengan mereka yang bisa mengekspresikan diri
dengan begitu mudahnya. Bisa bercertia dengan teman ataupun sahabat yang mereka
punya. Lalu bagaimana denganku tak ada teman ataupun sahabat yang bisa ku ajak
untuk bercerita. Bukan karena aku yang tak ingin bergaul. Namun ada saja cemohan
yang kuterima setiap kali berada di antara mereka.
Ku amati mereka di bawah sana berlalu lalang dengan
kesibukan yang ada. Ada yang datang dan pergi dengan senyum ataupun dengan raut
lelah yang menghiasi wajah. Berbeda dengan ku yang menepi di antara sudut ruang
dengan banyaknya buku. Aku pernah bertanya pada diriku sendiri “apa salahku
hingga mereka semua seolah tak menyukaiku dan membenciku?” maka biarlah jika
mereka tidak menyukaiku berada di antara mereka, biar aku menepi di ruang yang
bisa menerimaku dengan apa adanya.
Seiring dengan berjalannya waktu aku sadar bahwa
tidak ada yang lebih mencintaiku selain diriku sendiri. Tak ada yang lebih peduli padaku selain diriku
sendiri. Dan tak ada yang bisa lebih memahamiku selain diriku sendiri. Maka Tuhan
berilah aku kekuatan untuk bisa menghadapi segala cobaan yang ada dan beri aku
kekuatan agar aku tak lemah oleh keadaan.
Pondok Pesantren Darun Nun Malang







