NADIRSYAH HOSEN: SANTRI KAMPUNG YANG NASAB DAN NASIBNYA LUAR BIASA

sumber gambar: lokadata.id

Oleh: Ahmad Maulana S

Gus Nadir, begitu warga Nahdlatul Ulama
menyapanya. Lahir pada 8 Desember 1973, beliau adalah putra bungsu dari
almarhum Prof. KH. Ibrahim Hosen, seorang ulama besar ahli fikih dan fatwa yang
juga pendiri Perguruan Tinggi Ilmu Al-Qur’an (PTIQ, 1971) dan Institut Ilmu
Al-Qur’an (IIQ, 1977) serta pernah menjabat sebagai ketua komisi fatwa Majelis
Ulama Indonesia (MUI) selama dua dekade (1981-2000).[1]
Dari ayahnya gus nadir belajar tentang ilmu tafsir, fikih, ushul fikih serta
disiplin keilmuan islam tradisional lainnya. Dari jalur ayahnya pula beliau
memiliki sanad keilmuan melalui pesantren buntet, salah satu pesantren yang
terletak di daerah Cirebon, Jawa Barat. Gus Nadir juga pernah belajar kepada
alumni pondok pesantren tebu ireng, yakni almarhum KH. Makki Rafi’i dan
almarhum prof. Dr. KH. Mustofa Ya’qub. Dengan almarhum KH. Makki Rafi’i beliau
belajar disiplin ilmu Ushul Fikih serta mendalami ilmu bahasa arab dan ilmu hadits
kepada almarhum prof. Dr. KH. Mustofa Ya’qub.

Setelah mendapatkan bekal keilmuan dari
nyantri diberbagai tempat, gus Nadir melanjutkan studinya di Jakarta, melamar
di Fakultas Syari’ah dan Hukum Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif
Hidayatullah dengan spesialisasi perbandingan mazhab.[2]
Selepas lulus dari Fakultas Syari’ah dan Hukum UIN Jakarta, gus Nadir
melanjutkan studinya di luar negeri untuk “menaklukkan barat” sesuai dengan
pesan ayahnya. Beliau melanjutkan studi megisternya di dua kampus berbeda di
Australia, yaitu University of New England (Master of Arts) dan Northern
Territory University (Master of Laws). Saking semangatnya untuk
“menaklukkan barat” dua gelar megister akademiknya tak cukup mengobati dahaga
akademiknya, beliau terlanjur haus ilmu dan memilih untuk melanjutkan studi
doktoralnya di dua kampus sekaligus, yaitu di Wollongong University (doktor
hukum) dan di National University of Singapore (doktor hukum islam). Kenyataan
latar belakang pendidikan dari “dua sisi” menjadikan gus Nadir dalam posisi
yang unik, kajian klasik-modern; timur-barat; hukum islam-hukum umum berhasil
beliau kuasai.

Gus nadir dikenal sebagai salah satu tokoh
Nahdlatul Ulama (NU), organisasi masyarakat muslim tradisional terbesar di
Indonesia. Sejak tahun 2005, beliau di amanahi sebagai Rais Syuriah Pengurus
Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) di Australia-New Zealand. Beliau
merupakan satu-satunya orang Indonesia yang menjadi dosen tetap di Monash
University, Melbourne, Australia. Di samping itu beliau juga menjadi pengasuh
di Ma’had Aly Pesantren Raudhatul Muhibbin di Caringin Bogor pimpinan Dr. KH.
Luqman Hakim. Karakter gus Nadir yang ramah, humoris, santun, dan santai
manjadikan beliau sering diundang sebagai pembicara di berbagai seminar
nasional dan internasional. Gus Nadir merupakan salah satu dari sedikit orang
alim yang mau “turun gunung” untuk aktif di media sosial. Beliau berdakwah lewat
twitter, facebook, instagram, ataupun lewat blogspot miliknya. Beliau menyebut
media sosial sebagai “lahan dakwah” yang sangat efektif. Postinganya tak jauh
dari topik agama, terutama soal tafsir dan hukum islam. Penyampain dakwah
beliau yang menggunakan bahasa dan tulisan yang ringan membuatnya disegani followers-nya.

Gus nadir dikenal sebagai akademisi yang aktif
menulis. Beliau telah melahirkan lebih dari 20 artikel yang di muat diberbagai
jurnal internasional, seperti: Nordic Journal of International Law (Lund
University), Asia Pasific Law Review (City University of Hong Kong), Australian
Journal of Asian Law (University of Melbourne), Europan Journal of Law Reform
(Indiana University), Asia Pacific Journals on Human Rights and the Law
(Murdoch University), Journal of Islamic Studies (University of Oxford),
Journal of Asian Studies (Universitas Cambridge).[3]
Selain itu, beliau juga menerbitkan beberapa buku berbahasa Indonesia seperti:
Hidup Kadang Begitu (2020), Saring Sebelum Sharing (2019), Islam Yes, Khilafah
No! (2018), Tafsir Al-qur’an di Medsos (2019), dari Hukum Makanan Tanpa Label
Halal Hingga Memilih Mazhab yang Cocok (2015), Ashabul Kahfi Melek 3 Abad:
Ketika Neurosains dan Kalbu Menjelajah Al-qur’an (2013), Mari Bicara Iman
(2011).

Salah satu karya gus Nadir yang menjadi Best
Seller
di Indonesia adalah karyanya yang berjudul “Tafsir Al-Qur’an di
Medsos
”. Buku yang terbit pada tahun 2019 ini menjadi salah satu langkah
gus Nadir dalam membumikan ajaran islam yang tertera dalam Al-Qur’an kepada
para penggiat media sosial. Lewat buku ini, gus Nadir memberikan gambaran ragam
tafsir mengenai beberapa ayat yang viral di media sosial. Tujuannya tentu untuk
menangkal serta meluruskan penafsiran orang yang sering memelintir maksud dari
ayat suci tersebut.

Satu lagi karya beliau yang juga merupakan Best
Seller
adalah “Saring Sebelum Sharing”. Lewat buku ini beliau
mengajak umat untuk memahami hadits sesuai konteks kehidupan Rasulullah SAW dan
menjadikannya aplikatif untuk zaman ini. Disamping itu beliau mengajak kepada
para pembaca untuk selalu berhati-hati dalam menyaring berita karena sampai
saat ini hoax menjadi hal yang meresahkan bahkan dapat merusak kewarasan
masyarakat.

 



[1] Muammar Fikrie, Nadirsyah Hosen, Kisah
Santri Menaklukkan Barat
, https://lokadata.id/artikel/nadirsyah-hosen-kisah-santri-menaklukkan-barat,
8/31/2021, 1:44 PM.

[2] Nadirsyah Hosen, Kiai Ujang di Negeri
Kanguru
, cet. 2, Bandung: Mizan Media Utama, 2019, hlm. 13.

[3] Prof. Dr. H. Nadirsyah Hosen, LLM, MA
(Hons), Ph. D. https://panrita.id/prof-nadirsyah-hosen/, 8/31/2021, 3:56 PM. 

Pondok Pesantren Darun Nun Malang

Author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Facebook
Twitter
WhatsApp