BANGKIT DARI LUKA
Oleh Siti Rahmatillah
Oleh: Siti Rahmatillah
Kita adalah orang yang harus mengikhlaskan beberapa hal, termasuk kehilangan. Semua itu bukan milik kita. Terkadang kita terlalu lupa sebelum semuanya sirna, kita terlalu jahat untuk mengabaikan kenangan. Sesuatu yang harusnya kita hargai, cintai tak layak untuk diabaikan. Jangan menunda-menunda lagi, jangan mengharapkan nanti jika bisa dilakukan sekarang. Dan setelah semuanya pergi, dan sudah cukup lelah untuk dilihat kembali, sisanya kita merasakan amat kehilangan dan penuh penyesalan. Ini menyakitkan bukan?
Bagi seorang pengusaha pernah mengalami bangkrut, bagi seorang selebgram pernah dihujat, bagi seorang pekerja pernah dipecat, bagi seorang guru pernah dihina dan bagi seorang penulis pernah kehilangan idenya; bahkan semua naskah tulisan yang ia susah payah untuk dituliskan. Semua profesi pernah mengalami kehancuran sesuai porsinya. Kata orang “seorang pengendara motor belum bisa dikatakan lihai apabila belum pernah terjatuh”. Pun dengan seorang yang mengabadikan ide dalam tulisan, kehilangan naskah tulisan adalah hal wajar yang sangat menyakitkan. Di sinilah lika liku penulis itu diuji coba.
Lalu, bagaimana dengan hal demikian? Apakah kita harus menyerah, berhenti dan berlarut-larut dalam ketidakberdayaan. Sakit? Tentu sudah pasti. Tapi jangan bermimpi untuk mencapai kesuksesan jika tidak mampu berdamai dengan permasalahan. Tidak sedikit orang yang mudah mendapatkan kesuksesan tanpa melalui rintangan dan pengorbanan. Dan juga tidak sedikit air mata dan luka yang mengiringi asa. Oleh karenanya, balas dendam terbaik atas beberapa naskah yang hilang adalah menerbitkan buku dengan kualitas tulisan yang lebih baik dari yang sudah hilang.
Luka yang dihadirkan atas perginya naskah tulisan tidak ada obatnya, melainkan dengan semangat berkarya yang terus terjaga. Dan bagi seorang penulis, tidak ada yang lebih bahagia ketika tulisannya dibaca dan diterima. Dibaca saja sudah bahagia, belum lagi diapresiasi. Bukan berarti gila pujian, tetapi dengan adanya hal demikian menjadikan lelahnya dalam berpikir terbayarkan, dan semangat dalam menulis semakin digencarkan; semangat. Apapun bentuk lukanya; bangkitlah, semesta terlalu sibuk untuk sekedar melihat sedihnya kita, bahkan seberapa kuat kita bangkit semesta tetap tidak peduli. Hanya diri kita sendiri yang bertanggungjawab atas rasa yang tengah kita rasakan. Minimal, kita terbebas dari luka yang menyakitkan.
Souce image: http://lecture.id
Pondok Pasantren Darun Nun Malang







