KENAPA INGIN MENJADI PENULIS?

 Oleh: Astri
Liyana
Nurmala S.


Ketika ditanya “Kenapa ingin menjadi penulis?”
jawabku, entahlah. keinginan tersebut muncul ketika berada di Pondok Pesantren
Darun Nun yang memiliki motto “Berbahasa Dan Berkarya”. Setiap santri diharuskan
untuk mengirim tulisannya ke web Darun Nun setiap minggu, sehingga mau tidak
mau harus melakukannya. Melalui tugas tersebut, tanpa sadar aku terbiasa
menulis, apapun itu yang penting menulis.

Keinginan menjadi penulis tidak pernah terpikirkan
sebelumnya. Hanya saja, Ustadz Halimi Zuhdy sebagai Pengasuh Pesantren selalu
memotivasi kami untuk menulis, menulis, dan menulis. Hingga pada suatu hari
beliau mengatakan, “jika kalian menulis, maka kalian akan kekal”. Sebuah
tulisan memang tidak pernah mati, meskipun penulisnya tiada. Tulisan akan
menjadi amal jariyah yang mengalir terus-menerus. 

 Motivasi
lainnya datang dari seorang Ustadz yang mengajar taklim kepenulisan di Darun
Nun. Beliau memerintahkan setiap santri untuk menulis. Ketika itu, banyak dari
kami yang enggan mengikuti taklimnya ‘malas’ namun kami tetap melakukannya.
Sepertinya beliau menyadari hal tersebut, hingga beliau mengucapkan sepenggal
kalimat, “Saya tidak peduli akan diri saya, tidak peduli juga kepada kalian,
tapi kita harus memedulikan masa depan, kita menulis untuk masa depan”. Awalnya
aku tidak terlalu memikirkan kata-katanya dan tidak menyadari bahwa kata-kata
tersebut memiliki makna yang berarti. Namun, lama-kelamaan kalimat tersebut
makin mengena dengan rutinitas yang kujalani, kok bisa?

Misal, ketika mengerjakan tugas, aku membaca
sebuah jurnal dan mendapatkan jawaban yang kubutuhkan. Tanpa sadar aku berbicara
pada diri sendiri, “seandainya beliau tidak menulis ini, maka aku tidak akan
menemukan jawaban
”. Kemudian, ketika membaca artikel di internet
dan memberikan pengetahuan baru, aku berkata,
“seandainya beliau tidak menulis ini, maka aku
tidak mengetahuinya
”. Ketika membaca buku yang sangat inspiratif, aku
kembali berkata,
“jika beliau tidak menulisnya, maka aku tidak
mengetahuinya. Jika beliau tidak menulisnya, maka aku tidak menyadarinya
”. Ketika kutelusuri
pengarangnya, ternyata beliau telah wafat jauh sebelum aku membaca bukunya.

Begitulah, kenapa harus menulis dari sekarang,
semata-mata untuk masa depan. Kenapa? Karena aku tidak akan ta
hu, bahwa sesuatu
yang kutulis saat ini, memberikan dampak yang luar biasa bagi orang lain di
masa mendatang. Oleh karena itulah, aku menyadari betapa dahsyatnya jadi
penulis. Betapa luar biasanya jadi penulis. Betapa bermanfaatnya jadi penulis.
Barulah muncul di benakku keinginan menjadi penulis.

 

Pondok Pesantren Darun Nun Malang

Perum. Bukit Tidar F3, No. 4

Darunnun.com

Author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Facebook
Twitter
WhatsApp

Berita & Karya Terbaru