“Dan betapa banyak Nabi yang berperang didampingi sejumlah besar dari pengikut(nya) yang bertakwa. Mereka tidak (menjadi) lemah karena bencana yang menimpanya dijalan Allah, tidak patah semangat, dan tidak (pula) menyerah (kepada musuh). Dan Allah mencintai orang-orang yang sabar” (Ali Imran 149)
Iman dan semangat adalah analogi dari hand phone yang sering kita gunakan, jika baterainya mulai melemah, maka harus recharge agar bisa dioperasikan. Begitupun dengan iman dan semangat, maka tidak heran jika manusia terkadang merasa sulit mengendalikan hati. Saat ini manusia dihadapkan dengan keadaan yang dimana sebagian besar dari kita belum bisa beradaptasi dengannya. Roda perekonomian sangat sulit untuk berputar,yang dibawah semakin membumi, dan yang diatas semakin melangit. Sebagai seorang muslim, kita tidak boleh tenggelam dalam keterpurukan, tidak pula melayang dalam kebahagiaan, karena kita percaya ada hikmah yang Allah selipkan dibalik musibah ini. Kita menjadi, terlatih agar bisa berpikir lebih kritis, logis,kreatif dan inovatif. Kita tidak bisa menunggu sampai pandemik ini berakhir, detik ini adalah waktu yang tepat untuk kembali melangkah. Melangkah menyusun segala hal yang sempat berubah. Iman dan semangat sangat menunjang kita untuk bisa melakukannya.
Selama langkah kaki, gerakan tangan, hembusan nafas, dan perasaan hati lillahi ta’ala janaganlah merasa resah dan gundah, bukankah Allah sudsh berjanji;
واللذين جاهدوا فينا لنهدينهم سبلنا
“Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) kami, benar-benar akan kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan kami”
Melakukan proses-proses terbaik merupakan ikhtiar, semua akan berakhir dengan hal yang tidak terduga tapi begitu indah.Teruntuk kita semua yang sedang berjuang dijalan masing-masing, semoga Allah meridhoi.
Malang, 3 November 2020
Pondok Pesantren Darun Nun







