Tarian adat adalah salah satu kekayaan budaya yang di sampaikan secara turun- temurun dari nenek moyang. Tarian adat memiliki pesan dan makna yang luhur. Salah satunya ada pada taruan lego-lego dari kabupaten Alor , Nusa Tenggara Timur.
Tarian ini di tujukan untuk mengajak masyarakatnya bersatu membangun kampong dan negeri . Pada masing-masing kawasan di Alor terdapat gaya tari dan lagu yang berbeda, namun formasinya tetap sama berbentuk lingkaran. Masing-masing lagu dan pantun yang diungkapkan saat menari memiliki arti dan harapan yang berbeda-beda, beberapa literatur yang menyatakan tarian ini sempat menjadi tari perang dan sekarang tarian ini digunakan untuk untuk menyambut tamu. Tamu tersebut disambut oleh masyarakat disana dan dibawa ke bawa pohon besar, dengan beberapa perempuan yg berpegangan tangan melingkari pohon. Tamu tersebut dipersilahkan untuk ikut salam tarian tersebut dengan gerakan kaki yg sudah diatur sedemikian rupa dan penari akan bergerak mengelilingi pohon. Pada saat itu sirih pinang dan minuman sopi ditawarkan. Gerakan kaki dan lagu bisa saja berbeda di setiap daerah, akan tetapi bentuk formasi lingkaran dan komponen tradisional lainnya tetap sama.
Di dalam lingkaran ada tiga laki-laki yang memiliki tugas berbeda-beda, ada yang pemukul gong yang nadanya akan digunakan untuk menghitung langkah penari, kemudian ada yang tugasnya bernyanyi dan mengucapkan pantun, dan ada yang membagikan sirih pinang dan minuman sopi.
Selain menjadi identitas suku, tarian ini menjadi salah satu identitas mempersatu masyarakat Alor yang mempunyai harapan agar masyarakan dan pendatang terus bersatu membangun kampong serta negeri.
Malang, 13 Oktober 2020
Pondok Pesantren Darun Nun







