Marun An-Nuqasy merupakan pelopor di bidang seni drama dalam kesusastraan arab pada abad ke-19. Ia lahir di Shoida (Lebanon) pada tahun 1817 M, kemudian pada tahun 1825 M beliau pindah ke Beirut bersama ayahnya untuk mencari ilmu mengenai kebudayaan dari abad ke abad. Marun mahir dalam multilingual, seperti bahasa Turki, Italia, dan Perancis sebagaimana mahir dalam bermain musik. Di Beirut, Marun An-Nuqasy bekerja di pemerintahan yaitu menjabat sebagai Kepala Petugas Bea Cukai Beirut. Akan tetapi, ia meninggalkan pekerjaan dan jabatannya untuk pergi berdagang dengan sangat ambisius untuk berdagang.
Setelah dari Beirut, Marun kembali berpergian ke Damaskus, Iskandariah, Mesir, dan berakhir di Italia. Ketika di Eropa, Marun mendapatkan kecondongan terhadap sastra dan seni ketika ia tahu di sana terdapat seni drama atau teater dan ia menyaksikan pemeran-pemeran teater dan opera. Di tahun 1845 M, ia pergi ke Thursus untuk berdagang yang menghabiskan waktu selama 8 bulan hingga akhirnya pulang ke tanah kelahirannya kembali. Di tahun 1855 M, ia terkena musibah atau penyakit demam tinggi yang menyebabkan kematiannya.
Marun An-Nuqasy adalah seorang pelopo teater arab, ia memiliki 3 tema teater atau drama, diantaranya yang berjudul al-Bakhil (si kikir), Abu al-Hasan al-Mughoffal (Abu Hasan si “Bodoh”), dan al-Hasud al-Salith (si dengki yang tidak sopan). Marun memandang bahwa terdapat pesan yang disampaikan dari seni teater adalah teater itu kesenangan atau kebahagiaan dan nasihat. Itu sebabnya, ia mengambil kecenderungan etis dalam pekerjaannya. Ia berkata: “dengan teater ini segala aib manusia terbongkar, maka perlu diperhatikan kecerdasan dan berhati-hatilah”.
Adapun beberapa drama yang berhasil ia pelopori diantaranya adalah; Al-Bakhil, drama ini dirilis pada tahun 1847 M dari karyanya Muller dari Perancis, adapun judulnya “Berupaya untuk Gagal Nikah”. Dan untuk pemeran utamanya adalah Qurad dan Hindun. Kedua, Abu Al-Hasan Al-Mughoffal, Drama ini dirilis pada tahun 1849 M dengan berjudul “1001 malam”. Pemeran utamanya adalah Abu al-Hasan (si “Bodoh”) dan Ar-Rasyid (Kepala Negara). Ketiga, Al-Hasud Al-Salith/As-Salith Al-Hasud, drama ini dirilis pada tahun 1851 M, drama ini mengankat tema atau judul mengenai masyarakat Mesir yang tak lepas dari kejadian-kejadian atau masalah-masalah. Pemeran utamanya adalah Al-Hasud Al-Salith yang dinamai Sam’an dan Rohil binti Isa asy-Syami yang dicintai oleh Sam’an.
Source: Al-Fakhuri, Hanna. (1986). Al-Jami’ Fi Tarikhi Al-Adabi Al-‘Arobiyyi Al-Adabu Al-Haditsu. Beirut: Daar Al-Jaili.
Malang, 5 Oktober 2020
Pondok Pesantren Darun Nun







