SECANGKIR KOPI UNTUK PENJIWA DINGIN

(Oleh. Charirotut Tohiroh)



Malam berkelabut angin, dingin menusuk sukma. Hujan yang telah mengucuri kota
dingin ini melahirkan segerombolan air yang bertakung, membanjiri seluruh
adimarga. Hening nan lengang dibaluti malam yang semakin hitam, mataku terpacu
pada cerminan banyangan pada genangan itu.

_”mbak pesanannya sudah siap”_

Sejenak titik lidah pelayan di cafe itu melengahkan lamunanku. secangkir kopi
panas menemani nada-nada sunyiku. Aku sadar bahwa sampai detik ini hidupku
masih rumit, hari-hariku dibernasi kesendirian, nyenyat tanpa penghangat.

Kuteguk kemolekan kopi yang berada di hadapanku. Manisnya seperti kembang gula.
Andai kata hidupku seperti secangkir kopi ini, meski panas tapi balasannya
dingin menimbulkan kecerlangan menyegarkan hati dan pikiran.

Di tengah-tengah gemerlapnya malam, aku teringat ucapannya yang sempat
membuatku merenung
“Kamu tidak akan merasakan kebahagiaan!”, tegasnya.

Entah apa yang membuatku memutuskan kehendak sekilat itu. Hatiku sendu mataku
layu pikiranku kacau seakan-akan aku harus bersembunyi di dalam lautan dasar.
Kusangka memutuskan hubunganku dengannya adalah tindakan yang sangat tepat.

Namun kenyataannya, segenap langkahku lalu justru membuat hidupku berkaru.
Bayangan terhadap wujudnya selalu membancangi setiap gerakanku. Aku menyesali
seluruh perbuatanku. Tapi apalah daya aku, semesta tidak mudah dirubah, waktu
selalu berjalan, bumi selalu mengitari matahari tanpa berbalik ke arah
sebelumnya. Begitupun aku, tak mungkin bagiku untuk berjalan ke belakang. Kini
saatnya aku bangkit dan membuka lembaran baru.



Author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Facebook
Twitter
WhatsApp