Oleh: Charirotut Thohiroh
Malam berkelabut angin,
dingin menusuk sukma. Hujan yang telah mencucuri kota dingin ini melahirkan
segerombolan air yang bertakung, membanjiri seluruh adimarga. Hening nan lengang
dibaluti malam yang semakin hitam, mataku terpacu pada cerminan bayangan pada
genangan itu.
dingin menusuk sukma. Hujan yang telah mencucuri kota dingin ini melahirkan
segerombolan air yang bertakung, membanjiri seluruh adimarga. Hening nan lengang
dibaluti malam yang semakin hitam, mataku terpacu pada cerminan bayangan pada
genangan itu.
“Mbak pesanannya sudah siap”
Sejenak titik lidah
pelayan di cafe itu melengahkan lamunanku. Secangkir kopi panas menemani
nada-nada sunyiku. Aku sadar bahwa sampai detik ini hidupku masih rumit,
hari-hariku dibernasi kesendirian, nyenyat tanpa penghangat.
pelayan di cafe itu melengahkan lamunanku. Secangkir kopi panas menemani
nada-nada sunyiku. Aku sadar bahwa sampai detik ini hidupku masih rumit,
hari-hariku dibernasi kesendirian, nyenyat tanpa penghangat.
Kuteguk kemolekan kopi
yang berada di hadapanku. Manisnya seperti kembang gula. Andai kata hidupku
seperti secangkir kopi ini, meski panas tapi balasannya dingin menimbulkan
kecerlangan menyegarkan hati dan pikiran.
yang berada di hadapanku. Manisnya seperti kembang gula. Andai kata hidupku
seperti secangkir kopi ini, meski panas tapi balasannya dingin menimbulkan
kecerlangan menyegarkan hati dan pikiran.








