MASIH SAMA

Oleh:
Nur Sholikhah
          Aku
masih menunggu di tempat yang sama, di sebuah persimpangan jalan, di depan
warung kopi yang telah lama tidak membuka pintunya. Suasananya pun masih sama,
hiruk pikuk suara kendaraan, gurih aroma kuah bakso menyedapkan, dan polusi
udara yang tak terkendalikan.
          Aku
masih dengan rasa yang sama, rasa berat karena harus meninggalkan rumah. Meski
telah berkali-kali kejadian yang sama berulang, entah aku tak pernah bisa
dengan mudahnya melepas senyum mereka.
          Menunggu
sebuah alat transportasi yang akan membawaku ke sebuah kota yang dulu katanya
dingin. Menunggu untuk beberapa menit, menghabiskan sisa-sisa rindu dengan
menatap jalanan yang kian sempit. Jika bus itu sudah tampak, lega rasanya hati.
Beban ini ingin segera kulepas, perlahan-lahan, mengarungi udara di kota yang
tak lagi sama.
          Ingatanku
kembali pada masa lama, saat pertama kali kuputuskan untuk menjauh, membuat
jarak agar tercipta rindu. Setiap kali kaki ini menginjakkan alas bus yang
terbuat dari besi, saat itu pula aku harus melepas semuanya. Kubuang jauh-jauh
rasa kecewa, kutitipkan pada angin lewat celah-celah jendela. Lalu kernet bus
akan menutupnya rapat-rapat, menyalakan AC yang segera menghembuskan kesejukan
yang tak alami itu.
          Di
sepanjang perjalanan, aku akan membayangkan masa depan. Lulus kuliah, pulang
kembali ke kampung halaman, bekerja selayaknya dan hidup berkecukupan. Selalu
itu yang aku bayangkan hingga aku benar-benar lulus dari semua rutinitas yang
terkadang membosankan.
          Kini
aku hidup bebas, tapi mimpi itu belum sempat terwujudkan. Hingga aku harus
kembali ke kota yang sudah empat tahun lebih menompang hidupku. Berharap
pulang, tapi belum tersampaikan.
Ah, bicara apa aku tadi. Biar aku
kembali.
          Aku
masih dengan rasa yang sama, bimbang. Tapi kini aku tak lagi bersama
orang-orang yang sama, yang dahulu sempat mengisi ruang kosong di setiap
lembaran hidupku. Lambat laun, aku mulai sadar bahwa satu persatu akan pergi
menyisakan rasanya masing-masing. Dan tak akan ada lagi yang ditinggalkan, kecuali
kenangan dan bayangan.
Ah, omong kosong apa lagi ini.
          Sudahlah.
Aku hanya ingin mengumbar rasa lewat kata-kata. Menceritakan kegelisahan hati
karena bimbang memilih antara dua pilihan. Masihkah ada waktu untuk menimbang?
Atau hanya diriku saja yang merasa waktu begitu menekan?

      Hai sesama insan, aku masih tetap percaya
bahwa Tuhan tak akan pernah meningg

Author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Facebook
Twitter
WhatsApp