MANUSIA YANG BISA BERENCANA DAN TAKDIR KAN MENJAWABNYA

Oleh: Siti Laila ‘Ainur Rohmah

     Ketika olah rasa dan fikir menyatu, predikat manusia kan tertuju. Siapa yang menyangka akan terjadinya sesuatu, karna hakikatnya Allahlah yang maha tahu. Semua kejadian berada dalam kuasa-Nya (Allah swt). Manusia sebagai seorang hamba, hanya mampu berikhtiar dan berdo’a. Oleh karena itu, mau kemana lagi manusia kan mengadu, kalau tidak kepada tuhannya (Allah swt). Karna tiada daya dan upaya bagi manusia, kecuali atas pertolongan Allah swt.

     Manusia yang tak lekang dari masalah, terkadang mereka pun mampu menemukan solusinya.  Begitupun sebaliknya, tak sedikit pula yang menyerah terhadap keadaan. Apalagi ketika musibah datang, saat itulah sebenarnya manusia sedang mendapat ujian. Sejauh mana tingkat keimanan seseorang pada rabb-nya, akan terlihat ketika dia sedang ditimpa musibah dan mendapat ujian.

     Seperti contoh, ada pasangan suami istri yang belum lama menikah. Kemudian istrinya sedang mengandung anak pertama mereka. Layaknya pengantin baru yang akan segera punya anak, pasti mereka sangat senang dan berusaha yang terbaik untuk menyambut kedatangan buah hatinya di dunia. Pada saat itu, sampailah pas hari kelahiran anaknya yang pertama. Ternyata bayinya yang dinanti sudah tak bernyawa. Bisa kita bayangkan, bagaimana pecahnya kesedihan pasangan suami istri tersebut, terlebih lagi bagi seorang ibu yang telah mengandungnya.

     Begitulah sedikit gambaran kisah yang dapat kita ambil hikmah. Bahwasanya manusia hanya bisa berencana. Sebaik apapun rencana yang dibuat olehnya, kembali terpatahkan dengan takdir Allah swt yang pasti. Meskipun ada takdir yang bisa diusahakan dan dirubah oleh manusia (takdir muallaq). Namun ingatlah hai manusia, takdir mubram (sejak zaman azali) yang tidak dapat dirubah juga kan datang menghampiri. 

Author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Facebook
Twitter
WhatsApp