SEBATAS MENGADEMKAN DIRI

Oleh: Nurmiati Habibi

Berjalan tak
kunjung usai, sudah terlanjur untuk memutuskan kembali.
Itulah peribahasa yang menggambarkan perjalananku minggu lalu. Kewajiban  kuliah untuk membuat vlog wisata,  mengantarkanku ke kota yang letaknya tak jauh
dari Malang. Memulai perjalanan di siang hari, ditengah terik matahari yang menyengat
kulit  nampaknya sangat berpengaruh
terhadap meleburnya warna kulit tangan dengan dua warna yang terlihat  (alias belang). Pemandangan kota industri
yang menjadi kesan pertama kali aku memasuki kota ini. Kanan-kiri jalan
terbangunlah gedung-gedung perusahaan dengan berbagai produk yang sering
dikonsumsi masyarakat.
            Setelah satu jam perjalanan
sampailah ditujuan utuma yakni Masjid Ceng Ho Pandaan ,Pasuruan, Jawa Timur.
Masjid yang terkenal dengan arsietektur Cina dengan warna merah mencolok
dihiasi dengan ukiran indah kaligrafi di sekeliling dindingnya. Dengan adanya
masjid ini, menandakan adanya akulturasi budaya bangsa Indonesia dan masyarakat
Tionghoa yang menyatu dalam bingkai religius keagamaan.
            Satu, dua, tiga, dan bahkan sudah
tak terhitung lagi berapa video  yang
sudah diabadikan dengani kamera yang kubawa. 
Mencari celah lain keindahan masjid ini dan keramaian pasar wisata yang
menjadi pusat oleh-oleh disana. Ditengah asiknya kami mengambil gambar, video
dan bercerita bersama, tanpa terasa jam sudah menunjukan pukul setengah lima
sore. Menyusuri kembali perjalanan pulang. Ditengah jalan aku bergumam di dalam
hatiku sendiri “ Pingin ngadem ndek makam mbah Hamid”. Akupun berbicara
dengan teman yang kubonceng dan diapun setuju. 
Lanjutlah berputa roda-roda sepeda motorku saat ini. Ditengah jalan
lampu merah yang menandakan untuk berhenti sejenak, melihat dua anak kecil
menghampiri kami
Mbak
minta uang, mbak minta minum”
perkataan yang keluar dari anak kecil tersebut
“Dek
kelas berapa? Kok ada disini, ngapunten minumnya habis”
 aku bertanya pada anak itu.
 Dan nyatanya dia tak menggubris pertanyaanku
dan berpindah lagi ke kendaraan mobil di samping. Aku berkata dalam hati “
Mengapa anak sekecil ini sudah turun dijalan, dimana orang tuanya, andaikan aku
ada di posisi mereka’ Ah nyatanya lampu merah keburu berubah menjadi warna
hijau yang menandakan memulai lagi perjalanan.
            Keluar dari kota pandaan, aku
melihat ada tulisan Pasuruan Kota di papan penujuk arah pinggir jalan. Dengan
jalan yang relatif sepi sehingga begitu mudahnya sepeda motorku meluncur.  Beberapa kilometer sudah kulalaui dan banyak
orang juga sudah kutanya akan tetapi tak kunjung sampai di tempat tujuan kami berdua.
Jalan yang sepi kendaraan, kanan kiri pabrik, hanya terlihat papan penunuk
jalan yang terbaca Pasuruan Kota, Pasuruan Kota lagi. Azan maghribpun
berkumandang matahari mulai tenggelam, kehidupan menjadi petang dan hanya lampu
yang menjadi penerang. Melaju kembali sampailah di keramaian orang yang kukira
sudah dekat, nyatanya baru sampai Bangil dan masih harus lanjut lagi.
Kuberhentikan sejenak untuk menunaikan kewajiban sholat sembari bertanya pada
orang sekiatar yang nyatanya  jaraknya
sekitar 13 Km lagi. Ku menghela napas panjang dengan melanjutkan perjalanan,
bercengkerama dengan kehidupan malam kota santri, melihat laki-laki bersarung
berlalu lalang kesana kemari.
 Setelah beberapa saat
akhirnya sampailah tempat yang aku ingin mengademkan diri. Nyatanya sudah
banyak perubahan dengan keadaan sebelumnya. Berjalan kaki menuju pintu masuk
yang nyatanya sekarang sudah dipisah antara putra dan putri. Melihat orang yang
berjualan di kanan kiri, para pengemis yang menyodorkan mangkoknya dan para
penziarah lain dengan kelompok masing-masing. Rangkaian bacaan tahlil, surat
yasin, dan lantunan sholawat yang mengademkan hati. Entah sejak kapan aku mulai
nyaman dengan keadaa seperti ini. Melihat banyak orang yang berdoa secara
khusyuk nyatanya hal ini bisa menamparkan diriku sendiri dengan mengingat
hal-hal buruk yang telah kuperbuat. Mendengar sholawat yang sudah tak asing
lagi di telingaku.
 “Bu, ngapunten ronbongan sangking pundi nggeh?”
Aku bertanya pada salah seorang ibu.
“Dari
Lampung mbak”
sahut ibu itu. Ah hanya seperti ini saja bahagiaku mendengarnya ,
walau  sebatas kalimat dari Lampung mbak.
Serasa ingin ikut pulang bersama rombongan.

Author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Facebook
Twitter
WhatsApp