PERTAMA KALI

 Oleh: Ahmad Zahrowi Danial A.B 

Sinar pagi telah mengintip melalui celah-celah paviliun rumah.
Kukedipkan sebentar mataku sembari bangun dan melepaskan seluruh kantuk tadi
malam. Pagi ini kulekas untuk menekuni harian seperti biasa ke sekolah. Kuakui
aku bukan orang serajin temanku Fares tapi setidaknya kita selalu berteman
dalam apapun alasannya.
           
Tapi berangkat pagi-pagi ini sangat berbeda dari hari biasanya.
Bukan karena aku tidak bersama temanku Zen, melainkan ada suatu hal yang
membuatku berbeda hari ini, entah itu apa. Sesampainya di depan sekolah
terlihat seorang gadis sebaya yang tingginya semampai tergesa-gesa menuju pintu
gerbang sekolah, kulihat-lihat dia seperti murid baru di sekolah ini.
           
Sesaat setelah Bel berbunyi, gadis tadi itu juga memasuki ruang kelasku
dan sontak seluruh siswa laki-laki berdehem.
            “ Ssuit…..ssuit.” ( bersiul )
“Ihh.. cantik kali tuh orang, pake kerudung pula, macam baru mekar aja tuh
wajah”
.timpal Zen anak rantau yang rese nya minta ampun.
           
“Sssttt…lambemu iku lho” . balas Nuri yang terkenal dengan nama
Copeng.
           
“Udah…udah kalian kalo suka bilang aja”. Kataku sambil tersenyum
geli.
           
Akhirnya keduanya terdiam, Setelah dia memperkenalkan diri dan
mulai mencari tempat duduk, mereka berdua saling berebutan mengosongi bangku
sebelah mereka. Tapi mereka pasrah karna gadis itu memilih duduk di bangku
Imel, yang paling cerewet di kelasku. Dan mereka berdua nggak berani
ngapa-ngapain ke gadis itu berhubung si Imel disampingnya.
           
Waktu istirahat telah tiba, seperti biasanya Aku,Nuri dan Zen selalu
istiqomah ke kantin. “Woy…kau jadi apa enggak nih  nraktir kita, berhubung kemaren kau ultah.
Hemm..hem..
”. celetuk Zen sembari mengangkat sebelah alisnya.
           
“Dasar tukang nagih !, Aku nggak bawa dompet nih”. Balasku.
           
“Ya elah…nih pake uangku dulu!”. Jawab Nuri sembari menodongkan
uang nominal 100rb.
           
“Gua ganti nggk nih?”

           

“Yaelah…opo kudu tak jelasno disek?”.

           

“He… he…”. Jawabku sambil cengengesan.
Akhirnya Aku memesan 3 mangkuk bakso super kemudian membayar
pesanannya, tak sadar disebelahku berdiri sosok gadis yang tadi dikelas.
“Eh.. kamu anak baru yang tadi itu ya”.

“iya, emang kenapa?” .
“Nggak ada apa-apa, Cuma mau minta maaf karena tadi temenku
rese”.“Oh iya, kenalkan namaku Bazz. Namamu siapa..? ”.

“Nggak papa udah aku maafin. Namaku Clarissa panggil aja Risa.
Ngomong-ngomong kalian ngapain kok ribut tadi”.

“Oh tadi, nggak usah diributkan biasa anak-anak suka jail. Oh iya
maaf  temenku udah nunggu tuh, kapan –
kapan ketemu lagi ya.”.
“Mmm…iya deh terserah, sekalian ku ajak itu si Imel. Bye….”.
Kulihat dari jauh mereka seperti cengar-cengir melihatku ketemu
sama si Anak baru itu. Kukembali ke meja yang kita udah pesen sambil tersenyum
melihat ekspresi mereka berdua.
Datang-datang pasang muka dewan, huidih mentang-mentang udah
kenalan duluan”
.  Kata Zen dengan raut
muka jengkel.
“iya nih, kau pikir kita nggak bisa? ”.” Nggak kuat kulihat “.  Balas 
Nuri dengan muka sinis.
Sambil tersenyum pertanda nggak tahan denger omelan mereka, kuhabiskan
bakso tersebut dan tak peduli dengan apa yang mereka bicarakan. Setelah itu
kita pun kembali ke kelas setelah bel masuk berbunyi.
##############

Author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Facebook
Twitter
WhatsApp