SANTRI NAKAL YANG BERUNTUNG DI DUNIA DAN AKHIRAT

Oleh: Muhammad Hadiyan Ihkam
  

Zambil
namanya, hidup sebagai seorang santri nakal di Mekah. Ia sering membuat
keonaran dengan tingkah nakalnya. Tak heran jika ia tidak disukai oleh orang
lain. Suatu hari, Zambil melihat seorang perempuan yang sangat cantik. Dia
takjub dengan kecantikan perempuan tersebut. Tak cukup satu menit dia pandang.
Dia semakin merasa ingin tahu, siapa sebenarnya perempuan tersebut. Rasa ingin
tahunya ini membawanya untuk mengikuti arah langkah perempuan tersebut. Akhirnya
si perempuan tersebut masuk ke dalam rumah seorang Syeikh. Ternyata si
perempuan tersebut anak dari Syeikh tersebut.
Zambil
berpikir bagaimana caranya untuk mendekati perempuan tersebut. Dalam benaknya
berpikir, menjadi tukang jual air mungkin akan berhasil. Karena kondisi di
Mekah saat itu tukang jual air merupakan hal yang dibutuhkan masyarakat Mekah.
Akhirnya
Zambil menjual air kepada Syeikh tersebut. Air yang jualnya pun lebih murah
dibandingkan harga jual air yang lain. Dan Syeikh pun senang dengan Zambil
karena dia menjual dengan harga murah. Seorang tukang air pasti akan mengisikan
air di kamar mandi dan tempat-tempat yang butuh air. Nah di sinilah
kesempatanya untuk melihat si perempuan tersebut. Hingga dia pernah tidak
sengaja melihat perempuan tersebut tanpa hijab. Hal ini pun terjadi
berkali-kali. Namun lama kelamaan Syeikh tahu apa maksud Zambil menjual air
yang murah.
”nak,
kalau kamu mau menjadi menantuku tidak harus jualan air seperti ini.”
“Iya Syeikh,
saya hanya menjual air untuk menyambung hidup saya. Bukan bermaksud apa-apa.”
“Saya
punya beberapa syarat jika kamu mau menikah dengan anak saya. Kamu harus sholat
jamaah di masjidil haram shof paling depan selama 40 hari tanpa jeda. Jika kamu
sudah melakukannya menghadaplah kepadaku.”
Sambil
berpikir bingung Zambil menjawab “Iya Syeikh akan saya lakukan”
Mulailah
Zambil sholat jamaah di masjidil haram shof depan. Di hari pertama dia
menggerutu, merasa berat, namun dia teringat dengan konsekuensi jika bisa
melaksanakan persyaratan Syeikh akan mendapat puterinya yang cantik tersebut.
Hari kedua masih belum bisa ikhlas jamaah karena Allah. Hingga berhari-hari
Zambil belum bisa ikhlas berjamaah. Hampir mendekati hari keempatpuluh, Zambil
bisa merasakan nikmatnya sholat berjamaah. Dia tidak lagi ingin dibayar dengan
menikah. Karena dia ingat dalam hadist dijelaskan bahwa sholat jamaah selama 40
hari tanpa jeda akan terhindar dari api neraka.
Syeikh pun
berpikir dalam hati “Kenapa Zambil tidak menghadap. Bukankah ini sudah hari
keempatpuluh.” Akhirnya Syeikh mencari Zambil dan akhirnya bertemu di masjidil
haram setelah sholat berjamaah.
“Ayo nak
ikut saya pulang!”
“Pulang ke
mana Syeikh?”
“Ke rumah,
saya nikahkan dengan anak saya”
“Astaghfirullah
Syeikh, saya sholat berjamaah bukan karena ingin mendapat puteri Anda. Saya
lillahi ta’ala. ”
Syeikh pun
terkejud dengan jawaban Zambil, seolah-olah Zambil merasa tersinggung dengan
perkataannya.
“saya
ingin mendapat menantu yang ikhlas seperti kamu, nak” sambil memohon dan
memelas
Akhirnya
Zambil menuruti apa yang diminta Syeikh tersebut dan akhirnya menikah dengan
Puteri Syeikh tersebut.
(cerita
ini dinukil dari pengajian Gus Baha’
)

Author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Facebook
Twitter
WhatsApp