Sekejap hilir keringat terasa panas
Dikala terik surya yang gagah
Sekedar asa yang terasah
Seketika mencuat melepaskan penat
Getar dalam rongga-rongga
Melilit pita kenyataan pasti
Dalam liku suri tauladan
Aku hina
Bahkan paling hina
Menghempaskan yang tak bersalah
Menusuk jiwa bagai panah
Serta yang hatinya bersih ternoda
Terasa sepenggal hati hilang
Entah pergi dimana
Semalam takut nista nestapa
Dan enggan megungkapkan
Sebuah kenyataan
Wahai dikau yang terpuruk sumpah
Hening rubuh tertimpa sembilu
Perih menyayat raga yang lumpuh
Bagai janji yang teringkari
Waktu demi waktu
Berat nya pun seakan terbeban
Oleh rasa salahku yang bermuka
Dalam dua makna tersimpan
Menyiratkan keegoisan jiwa








