MENJADI DEWASA


Hasil gambar untuk muslimah

Oleh : Ira Safira Haerullah
Tua itu pasti, dewasa
itu pilihan.
Mari…
Mengurangi
kesedihan
Menambah
semangat
Membagikan kebahagiaan
Dan jangan jadi
dewasa yang menyebalkan
Ingat dewasamu
karena waktu, bukan karena aku ‘hiyak
Waktu
kecil kita selalu berpikir bahwa fase hidup terbaik adalah menjadi dewasa,
karena sering kali kita melihat saudara, om, tante bahkan tetangga kita yang
sudah dewasa bisa mendapatkan apa saja yang mereka mau dan tidak dikekang
seperti anak kecil. Untuk itu kita ingin cepat – cepat menjadi dewasa. Pernah
berpikir seperti ini ? sama, saya juga pernah. Pemikiran seperti itu membuat
kita hancur dengan harapan yang dibangun sendiri, karena realita tidak sesuai
dengan ekspektasi dan nyatanya dewasa tak seindah cerita.
Seiring
berjalan waktu, bertambah usia, melewati berbagai kejadian dan mulai memasuki
fase menjadi dewasa adalah hal yang menurut kita membosankan. Bagaimana tidak,
dulu waktu bocah ingusan kita bermain sambil tertawa lepas dan tidur tanpa
beban, makan tinggal ke dapur, minta ini itu dituruti, asik sekali masa – masa
itu. namun semakin dewasa , aktivitas terbatas, dituntut untuk bekerja keras,
pikiranmu akan terbebani dan harus mengesampingkan kesenangan demi  kepentingan orang lain.
. Nyatanya
menjadi dewasa juga menjadi fase menyebalkan. Terkadang orang dewasa bertingkah
lebih kekanak –kanakan dari pada anak – anak itu sendiri bahkan terlihat lebih
konyol. Bagaimana tidak, contoh kecilnya seperti  ketika anak – anak bermain dan  salah satu dari mereka berkelahi atau saling
mengejek kemudian ada yang marah bahkan menangis merengek, keesokan harinya
mereka tetap bermain tanpa memikirkan kejadian kemarin. Namun kita seorang yang
dikatakan sudah dewasa ketika bersalah kepada orang lain atau secara tidak
langsung menyakiti orang lain jarang sekali meminta maaf karena gengsi sudah
setinggi langit dan merasa diri sudah paling benar diantara yang lain. Kekanak –
kanakan sekali kita.
Tingkah
laku anak kecil memang murni tak seperti orang dewasa saat ini yang lebih suka
bersembunyi dalam begana – begini. Seperti halnya ketika si anak terluka dia
akan blak – blakan mengungkapkan tanpa melihat keadaan bahkan berpikir panjang,
berbeda dengan orang dewasa yang harus menyembunyikan luka agar terlihat baik –
baik saja di depan orang lain. Padahal waktu kecil kita diajari untuk
tidak  berbohong kepada orang lain,
nyatanya saat dewasa kita sering kali membohongi teman, kerabat, keluarga
bahkan diri sendiri.
Ketika
kita menjadi dewasa setiap gerak gerik kita akan menjadi sorotan dan akan
menjadi tolak ukur yang menentukan apakah kita sudah bisa dikatakan dewasa atau
belum, untuk itu banyak orang yang berpura – pura terlihat dewasa dan tidak
jarang dari kita tidak mau tampil apa adanya karena takut dikategorikan sebagai
bocah ingusan yang masih bau kencur. Padahal menjadi dirimu sendiri salah satu
sikap yang menunjukan sikap bahwa kamu sudah dewasa tanpa menjadi orang lain.
            Pada umumnya orang akan berpikir
bahwa bertambah usia berarti bertambah dewasa. Ya, kita dituntut oleh
lingkungan untuk menjadi dewasa saat kita memasuki usia yang dikatakan dewasa
padahal tolak ukur seseorang dikatakan dewasa bukan dari usianya karena
sejatinya menjadi dewasa adalah soal sikap. Persoalan sikap bagaimana kita bisa
menempatkan diri dalam berbagai kondisi, bukan lagi anak kecil yang belum bisa
mengontrol emosi. Dan persoalan sikap kita bagaimana bertanggung jawab atas
segala keputusan yang kita  buat sendiri,
bukan lagi anak kecil yang menjatuhkan vas lalu melarikan diri.  
Kanak
– anak memang merupakan masa terbaik. Sayangnya kita menyadari setelah kita
melewati masa itu. Yah memang seperti itulah manusia selalu menyesali dan
mencari yang terbaik sampai lupa mensyukuri yang ada hari ini. Untuk itu,
mendewasakan diri itu memang perlu tanpa harus menyesali yang terjadi. Mari
menjadi pribadi dewasa yang lebih baik dan jangan pernah menjadi pribadi dewasa
yang menyebalkan. Jalani, nikmati, dan mensyukuri.
Seorang
menjadi cerdas karena edukasi, menjadi paham karena mengalami, menjadi dewasa
karena melewati dan menjadi kuat karena dilalui. – kata mbahku.

Author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Facebook
Twitter
WhatsApp