CINTA SEORANG SANTRI

Oleh : FIKRI ARRIZKI

Suara adzan subuh mulai berkumandang, dingin yang menyentuh permukaan kulit seakan berteriak untuk terus menutup diri dengan selimut hangat yang sedari malam telah membungkus badan. Namun berbeda dengan seorang santri bernama Wahid. Wahid, itulah namanya. Nama yang singkat tanpa nama depan apalagi nama yang tersemat dibelakang. Melawan hawa dingin yang menyengat dan memilih menolak menuruti kantuk yang amat sangat berat, Wahid bangun dari tempat tidurnya dan memilih untuk sujud mengahadap tuhan.
Wahid merupakan salah satu santri yang paling rajin diantara yang lainnya. Mengikuti semua pengajian di pondok pesantren tanpa terlewat satu kajian pun. Tak cukup hanya menerima ilmu dari kajian yang selalu dia ikuti, Wahid juga selalu mengulang dan terus membaca kitab lusuh yang sudah robek karena terus dibuka. Selalu rajin untuk mengikuti sholat berjamaah dimasjid. Tak heran bahwa dia dikenal sebagai santri yang lurus, diamana tak ada kegiatan yang dia lakuakan selalu itu-itu saja.
Tak ada yang istimewa dari keseharian seorang santri bernama Wahid. Semua berjalan seperti biasa, berangkat mengaji, sholat berjamaah, dan membaca kitab dan menelaahnya. Sampai pada suatu  hari ketika Wahid diminta untuk memasuki pondok putri untuk mengantarkan sayur kepondok putri karena pak kyai telah mendapat banyak sayur dari salah satu alumni pondok. Disinilah awal lembaran baru seorang santri bernama Wahid dimulai. 

Author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Facebook
Twitter
WhatsApp