APA ADANYA ATAU ADA APANYA?

Hasil gambar untuk bersyukur
Oleh : Sandi Ilham Firmansyah

20
hari Belajar bersyukur bersama Pondok Pesantren Darunnun
Menurut Kamus Besar Bahasa
Indonesia, pesantren adalah asrama
tempat santri atau tempat murid-murid belajar mengaji dan sebagainya. Pada
umumnya pesantren terletak di lingkungan perkampungan yang dekat dengan
masyarakat yang
notabene homogen dalam beragama khususnya agama islam. Tapi di kota
malang tepatnya di kelurahan karang besuki terdapat beberapa pondok pesantren
yang berlokasi dalam satu kompleks perumahan, yaitu perumahan Bukit Cemara
Tidar. Kompleks perumahan ini bisa dijuluki dengan kompleks santri. Bagaimana
tidak, di perumahan yang berkependudukan kurang lebih 250 kepala keluarga ini dengan
bermacam macam kepercayaan terdapat dua pondok pesantren yang saling berhadapan
tetapi memiliki fokus bidang yang berbeda.
Yang menajadi fokus kita pada tulisan ini adalah Pondok
pesantren Darunnun. Ponpes yang didirikan oleh Ustad Dr. Halimi Zuhdi, M.Pdi
ini merupakan pondok pesantren modern yang fokus dalam bidang literasi yang
dikuatkan dengan slogannya yakni Berbahasa dan Berkarya. Sekarang ponpes
ini memiki jumlah santri sebanyak 55 santri dengan rincian 25 santri putra dan
30 santri putri. Sebagian besar santri di ponpes darunnun adalah
mahasiswa UIN Maulana Malik Ibrahim Malang walaupun juga ada dari santri putri
yang menempuh pendidikannya di Univesitas Negeri Malang. Ponpes darunnun
menerima santri dari bermacam-macam jurusan tapi mayoritas dari mereka adalah
dari jurusan Bahasa & Sastra Arab dan Pendidikan Bahasa Arab walaupun juga
ada sebagian dari mereka yang jurusan lain seperti Pendidikan Agama Islam,
Matematika, Teknik Informatika, dll. Pondok pesantren ini bergerak dalam bidang
literasi yang mengharuskan kepada santri santrinya untuk berkarya sedemikian
rupa untuk mengeksplorasikan diri yang harapannya nanti tidak canggung ketika
terjun di masyarakat. Karena visi dari ponpes Darunnun adalah menjadi pondok
terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian masyarakat.
Oleh karena itu santri di ponpes ini digalakkan dengan kegiatan menulis .
Santri dibebaskan untuk membuat karya tulisan bebas seperti artikel, opini,
puisi, dan sebagainya. Bahkan mungkin pondok ini merupakan pondok satu satunya
di kota malang yang fokus dalam hal literasi. Mengapa dengan menulis? Apa
manfaatnya dari kegiatan literasi?
Mengutip dari nasihat oleh salah satu pengasuh darunnun yakni
ustadz Halimi yang akrab dipanggil dengan sebutan abi oleh para santri, bahwa
dengan menulis secara tidak langsung kita juga berdakwah. Tapi tidak berdakwah
pada umumnya yang hanya bisa dirasakan oleh orang yang hadir dalam suatu
majelis dakwah tersebut. Tapi jika kita menulis dengan niat berdakwah, cakupan
dakwahnya lebih luas karena dengan menulis tidak hanya orang orang itu saja
yang bisa merasakan isi dakwah tersebut tapi semua bisa membaca lewat tulisan
yang kita buat sehingga bisa dirasakan lebih banyak manfaatnya oleh masyarakat
yang mebaca tulisan kita. Selain itu, dengan menulis kita bisa mengeksplorasikan
diri secara non verbal. Apalagi kita sebagai orang akademis menulis adalah
kewajiban bagi seorang mahasiswa karena mereka diistilahkan sebagai agen of
change
yang nantinya diharapkan mampu menciptakan tulisan tulisan yang
berisi penelitian untuk mendapatkan karya yang signifikan.
Membahas dari sisi lain ponpes ini adalah santri diharuskan
untuk mandiri dalam segala hal. Baik itu menyusun program kerja seperti halnya
memasak, mencuci, dan semua hal yang berkaitan dengan kerumah tanggaan semua
dilakukan dengan sendiri tapi sifatnya bekerja sama. Timbul pertanyaan, kalau
santri putri sih wajar kalau makannya hasil masakan sendiri. Tapi kalau santri
putra? Apa bisa masak sendiri? Gimana rasanya?. Sekarang kita jawab pertanyaan
diatas. Perlu diketahui sebelumnya, penulis disini adalah salah satu santri
putra Ponpes Darunnun yang juga mendapat giliran memasak walapun sebelum
sebelumnya mungkin hanya bisa memasak sebatas masak air dan masak mie atau
telor. Tapi di pondok pesantren darunnun tidak ada yang namanya tidak bisa.
Karena disini kita semua berawal dari latar belakang yang sama yaitu jebolan
MSAA, Istilah ma’had yang berada di UIN malang yang mewajibkan mahasiswa baru
untuk menetap di ma’had selama satu tahun. Di MSAA disediakan kantin untuk
mahasantri yang ingin makan untuk mengisi kekosongan perutnya. Terdapat banyak
menu didalamnya jadi mahasantri tidak akan bosan dengan lauk yang itu itu saja
karena terdapat varian menu yang macam macam. Tapi di ponpes Darunnun sangat
berbanding terbalik dalam segi makanan. Kita diharuskan untuk masak sendiri
walaupun itu hanya sebatas menggoreng tempe ditambah dengan sambal ala ala
santri tapi nikmatnya sangatlah luar biasa menandingi masakan masakan restoran.
karena prinsip di pondok adalah kalau ada ya dinikmati bersama, kalau tidak ada
ya diratapi bersama. Makannya pun tidak individu dengan piring sendiri sendiri
tapi dengan nampan besar yang  berisi 6-7
orang dalam satu nampannya. Hal tersebut yang membuat nikmat dan penuh barokah.
Bagaimana tidak barokah, hanya memasak nasi yang takarannya satu kilo lebih
sedikit dengan lauk apa adanya tapi cukup untuk anak sejumlah 20 orang. Hal ini
yang tidak akan dijumpai diluar sana. Sesuatu yang akan menjadi makna
tersendiri dalam menjalani kehidupan yang nantinya akan menjadi sebuah cerita.
Belajar bersyukur untuk menerima apa adanya, bukan ada apanya.
Untuk tidur pun kami tidak ada ranjang melainkan hanya kasur yabg
kita bawa dari kasur MSAA untuk sebatas meletakkan badan setelah seharian
melakukan aktivitas kuliah maupun kegiatan mengaji di pondok dengan kamar yang
sangat minimalis. Tapi walupun demikian, tidak menjadikan kami mengeluh dengan
apa yang kita terima di pondok ini. Kita sangat bersyukur dipertemukan dengan
teman teman sepejuangan darunnun yang semua bisa menerima apa adanya dari
ponpes ini walapun di depan ponpes kami terdapat pondok tahfidz yang modelnya
seperti apartemen mewah dengan fasilitas yang lebih menonjol daripada pondok
kami. Tapi hal demikian tidak bermaksud untuk membeda bedakan diantara dua
pondok ini. Karena intinya pondok pesantren memiliki visi yang sama untuk
menjadi terdepan dalam hal agama yang nanti akan berguna di masyrakat. Memang
semua sudah qodratullah kita ditetapkan di pondok pesantren darunnun yang
memiki sebuah arti yang tidak terdefinisikan.

Tidak terasa genap 20 hari bersama darunnun yang menyimpan
sejuta makna bagaimana untuk bersyukur dalam menjalani kehidupan walapun hidup
serba pas pasan. Bagaimana menjadi pribadi mandiri untuk bisa mengontrol diri
sendiri. Disini kita belajar dengan hidup yang apa danya kta bisa lebih
merasakan nikmatnya kehidupan. Karena pada hakikatnya hidup adalah sebuah
perjalanan untuk meraih kesuksesan. Dan kesuksesan tidak bisa diraih degan
instan. Sukses adalah sebuah proses untuk menjalani sebuah kehidupan yang
didalamnya terdapat kepahitan yang berakhir dengan kemanisan.  Terimakasih Darunnunku, kau akan menjadi
cerita yang amat luar biasa dalam hidupku. 
26 Juli 2019, SIF. Berlanjut

Pondok Pesantren Darun Nun Malang

Author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Facebook
Twitter
WhatsApp