oleh : Kamila Maryam Kotta
Ketika
memutuskan untuk sekolah diluar kota diumur yang masih terbilang sangat muda
adalah hal yang akan selalu saya ingat. Bagaimna tidak, saya tau bahwa tidak
mudah untuk bisa menuntut ilmu dinegri orang, ada banyak hal yang akan saya
hadapi kedepannya, banyak resiko yang harus diterima. Namun dibalik semua itu
saya harus tetap berpikir bahwa ini
hanyalah kerikil-kerikil kecil yang wujud keberadaannya untuk menguatkan roda
perjalanan saya.
memutuskan untuk sekolah diluar kota diumur yang masih terbilang sangat muda
adalah hal yang akan selalu saya ingat. Bagaimna tidak, saya tau bahwa tidak
mudah untuk bisa menuntut ilmu dinegri orang, ada banyak hal yang akan saya
hadapi kedepannya, banyak resiko yang harus diterima. Namun dibalik semua itu
saya harus tetap berpikir bahwa ini
hanyalah kerikil-kerikil kecil yang wujud keberadaannya untuk menguatkan roda
perjalanan saya.
Ini
bukan pertama kalinya saya menginjakan kaki di kota ini, namun ini adalah
pijakan pertama saya dengan tujuan untuk menuntut ilmu. Ketika itu saya
ditemani oleh mama, lima hari kami lewati dengan berjalan-jalan sembari membeli
peralatan sekolah. Namun mama tak dapat menemani saya hingga masuk ke pondok,
karena beliau harus balik ke Ambon tepat waktu. Dan akhirnya saya pun masuk
kepondok ditemani oleh nenek.
bukan pertama kalinya saya menginjakan kaki di kota ini, namun ini adalah
pijakan pertama saya dengan tujuan untuk menuntut ilmu. Ketika itu saya
ditemani oleh mama, lima hari kami lewati dengan berjalan-jalan sembari membeli
peralatan sekolah. Namun mama tak dapat menemani saya hingga masuk ke pondok,
karena beliau harus balik ke Ambon tepat waktu. Dan akhirnya saya pun masuk
kepondok ditemani oleh nenek.
Pertama
kali saya masuk pondok banyak wajah-wajah asing yang saya lihat, terdengar
banyak orang yang bercengkrama menggunakan bahasa daerahnya masing-masing,
semuanya akan serba baru bagi saya. Ketika masuk kedalam asrama rasanya seperti
memiliki rumah baru, ada rasa sedih ,
canggung serta takut. Dan yang ada dalam pikiran saya apakah saya bisa
bertahan ditempat ini dengan waktu yang lama? Tak ada yang bisa menjawabnya
kecuali diri saya sendiri dan kenyataan lah yang akan membuktikannya.
kali saya masuk pondok banyak wajah-wajah asing yang saya lihat, terdengar
banyak orang yang bercengkrama menggunakan bahasa daerahnya masing-masing,
semuanya akan serba baru bagi saya. Ketika masuk kedalam asrama rasanya seperti
memiliki rumah baru, ada rasa sedih ,
canggung serta takut. Dan yang ada dalam pikiran saya apakah saya bisa
bertahan ditempat ini dengan waktu yang lama? Tak ada yang bisa menjawabnya
kecuali diri saya sendiri dan kenyataan lah yang akan membuktikannya.
Tahun
pertama dipondok terasa sangat berat,
saya harus melewati masa adaptasi dengan teman, guru, makanan, lingkungan serta
banyak hal lainnya. Ditahun pertama tak terhitung berapa kali kata-kata “ingin
pindah” saya utarakan dengan berbagai macam alasan, entah itu sakit, karena
pelajaran, atau rindu keluarga. Namun orang tua saya selalu membalas dengan
berkata “sabar kak, perjalanan orang menuntut ilmu itu ngga mudah, banyak hal
yang harus dikorbakan karena yang ia cari dan yang nanti ia dapatkan bukan
suatu hal yang biasa, mama papa akan selalu mendokan kaka dari sini”. Dan doa
orang tua itu tidak dapat dipungkiri Al-hamdulillah selama enam tahun saya dipondok
selalu dikelilingi oleh orang-orang baik. Allah mengabulkan doa orang tua saya
melalui mereka.
pertama dipondok terasa sangat berat,
saya harus melewati masa adaptasi dengan teman, guru, makanan, lingkungan serta
banyak hal lainnya. Ditahun pertama tak terhitung berapa kali kata-kata “ingin
pindah” saya utarakan dengan berbagai macam alasan, entah itu sakit, karena
pelajaran, atau rindu keluarga. Namun orang tua saya selalu membalas dengan
berkata “sabar kak, perjalanan orang menuntut ilmu itu ngga mudah, banyak hal
yang harus dikorbakan karena yang ia cari dan yang nanti ia dapatkan bukan
suatu hal yang biasa, mama papa akan selalu mendokan kaka dari sini”. Dan doa
orang tua itu tidak dapat dipungkiri Al-hamdulillah selama enam tahun saya dipondok
selalu dikelilingi oleh orang-orang baik. Allah mengabulkan doa orang tua saya
melalui mereka.
Banyak
pengalaman berharga yang saya dapatkan dipondok, berbagi macam peristiwa telah
mengajarkan saya untuk menjadi pribadi ynag kuat. Ada beberapa hal yang sanagat
menguji diri saya ketika belajar dipondok.
Pertama ketika saya dipilih menjadi ketua kamar, ketika itu saya duduk
di bangku satu aliyah. Itu adalah masa yang cukup sulit bagi saya ketika
menginjak masa putih abu-abu, masa
dimana saya harus berpisah dengan teman-teman tsanawiyyah yang tak melanjutkan
pendidikannya dipondok, masa dimana saya harus mengubah cara dan pola pikir
saya dari yang masih keanak-anakan
menjadi seorang yang lebih dewasa, masa dimana mendorong saya harus keluar dari
zona nyaman, ditambah lagi harus
berhadapan setiap hari dengan anak-anak kelas satu MTS yang baru masuk pondok. Ada rasa kesal, marah, lelah dan sedih ketika
itu. Namun pada tahap inilah mama yang selalu ada disamping saya, beliau selalu
berkata “ yang ikhlas kak, anggap itu adik-adik kaka sendiri, jadilah pelindung
dan penguat ketika mereka sedih, karena dulu kaka juga seperti itu, jangan lupa
akan amanah-amanah orang tua mereka kepada kakak, dulu mama juga berada
diposisi seperti orang tua mereka, yang selalu dikelilingi rasa rindu akan
anaknya, rasa khawatir ketika anaknya sakit ataupun ngga betah, disitulah peran
kakak sebagai ketua kamar sangat penting.
pengalaman berharga yang saya dapatkan dipondok, berbagi macam peristiwa telah
mengajarkan saya untuk menjadi pribadi ynag kuat. Ada beberapa hal yang sanagat
menguji diri saya ketika belajar dipondok.
Pertama ketika saya dipilih menjadi ketua kamar, ketika itu saya duduk
di bangku satu aliyah. Itu adalah masa yang cukup sulit bagi saya ketika
menginjak masa putih abu-abu, masa
dimana saya harus berpisah dengan teman-teman tsanawiyyah yang tak melanjutkan
pendidikannya dipondok, masa dimana saya harus mengubah cara dan pola pikir
saya dari yang masih keanak-anakan
menjadi seorang yang lebih dewasa, masa dimana mendorong saya harus keluar dari
zona nyaman, ditambah lagi harus
berhadapan setiap hari dengan anak-anak kelas satu MTS yang baru masuk pondok. Ada rasa kesal, marah, lelah dan sedih ketika
itu. Namun pada tahap inilah mama yang selalu ada disamping saya, beliau selalu
berkata “ yang ikhlas kak, anggap itu adik-adik kaka sendiri, jadilah pelindung
dan penguat ketika mereka sedih, karena dulu kaka juga seperti itu, jangan lupa
akan amanah-amanah orang tua mereka kepada kakak, dulu mama juga berada
diposisi seperti orang tua mereka, yang selalu dikelilingi rasa rindu akan
anaknya, rasa khawatir ketika anaknya sakit ataupun ngga betah, disitulah peran
kakak sebagai ketua kamar sangat penting.
Yang
kedua adalah ketika saya diangkat dan dilantik menjadi bagian dari organisasi
santri, ketika itu saya diberi tanggung jawab menjadi ketua bagian kebersihan
dan kesehatan. awalnya tak ada rasa
senang sedikit pun dalam diri saya, yang ada berbagai macam penolakan datang
bertubi-bertubi menghampiri pikiran saya. Bagaimana tidak, bagian yang selalu saya idamkan selama menjadi santri
dipondok tak bisa saya dapatkan, yaitu bagian bahasa dan yang lebih dramatisnya
ketika masuk ruang pembagian mandat, saya masuk bersama bagian bahasa dan duduk
persis disampingnya. Hal kedua yang akan dan selalu saya pikirkan adalah posisi
saya menjadi ketua, sangat tidak bisa diterima akal sehat, bagaimna tidak? Saya
berasal dari madrasah a’liyah keagamaan bukan anak IPA yang genrenya sangat
mendukung untuk bagian tersebut, ruang lingkup saya adalah bahasa bukan sains,
namun mengapa saya harus dipilih menjadi ketua. Belum lagi saya harus bisa
mangayomi anggota-anggota saya yang notabennya teman saya sendiri. Pada masa
inilah tenaga saya banyak sekali terkuras baik itu bathin maupun fisik.
Dikritik berulang kali, dimarahin, ditolak laporannya sudah menjadi makanan
sehari-hari saya dibangku kelas tiga ‘aliyah. Ketika muncul rasa kecewa, capek,
ingin marah, saya selalu teringat akan syahadat yang diucapkan ketika pelantikan
berlangsung, yang menjadi alaram bagi saya adalah pertanggung jawaban saya
bukan hanya didunia bukan hanya disaksikan oleh guru-guru dan santri lainnya,
melainkan saya akan mempertanggung jawabkannya dihadapan Allah SWT. Dan pada
akhirnya saya dapat memenuhi amanah ini. Kesimpulannya meskipun saya tak dapat
bercemgkrama baik dengan nahwu ataupun grammar sehari-harinya namun saya selalu
ditemani oleh obat-obatan serta alat kebersihan.
kedua adalah ketika saya diangkat dan dilantik menjadi bagian dari organisasi
santri, ketika itu saya diberi tanggung jawab menjadi ketua bagian kebersihan
dan kesehatan. awalnya tak ada rasa
senang sedikit pun dalam diri saya, yang ada berbagai macam penolakan datang
bertubi-bertubi menghampiri pikiran saya. Bagaimana tidak, bagian yang selalu saya idamkan selama menjadi santri
dipondok tak bisa saya dapatkan, yaitu bagian bahasa dan yang lebih dramatisnya
ketika masuk ruang pembagian mandat, saya masuk bersama bagian bahasa dan duduk
persis disampingnya. Hal kedua yang akan dan selalu saya pikirkan adalah posisi
saya menjadi ketua, sangat tidak bisa diterima akal sehat, bagaimna tidak? Saya
berasal dari madrasah a’liyah keagamaan bukan anak IPA yang genrenya sangat
mendukung untuk bagian tersebut, ruang lingkup saya adalah bahasa bukan sains,
namun mengapa saya harus dipilih menjadi ketua. Belum lagi saya harus bisa
mangayomi anggota-anggota saya yang notabennya teman saya sendiri. Pada masa
inilah tenaga saya banyak sekali terkuras baik itu bathin maupun fisik.
Dikritik berulang kali, dimarahin, ditolak laporannya sudah menjadi makanan
sehari-hari saya dibangku kelas tiga ‘aliyah. Ketika muncul rasa kecewa, capek,
ingin marah, saya selalu teringat akan syahadat yang diucapkan ketika pelantikan
berlangsung, yang menjadi alaram bagi saya adalah pertanggung jawaban saya
bukan hanya didunia bukan hanya disaksikan oleh guru-guru dan santri lainnya,
melainkan saya akan mempertanggung jawabkannya dihadapan Allah SWT. Dan pada
akhirnya saya dapat memenuhi amanah ini. Kesimpulannya meskipun saya tak dapat
bercemgkrama baik dengan nahwu ataupun grammar sehari-harinya namun saya selalu
ditemani oleh obat-obatan serta alat kebersihan.
Tak terasa
enam tahun telah saya lewati, Pada akhirnya tiba masa itu, masa dimana tak ada satu
pun diantara kita para santri yang menantikan kedatangannya, hari perpisahan.
Tak terasa sederet rentetan ujian kelulusan sudah dilewati, Kabar kelulusan
ujian nasional sudah mulai terdengar, kata syukur pun tak ada henti-hentinya
dilafdzkan karena dengan begitulah kita akan menjadi seorang hamba yang paling
bahagia dihadapan Rabnya. Tampak jelas senyum yang terukir indah dibibir
anak-anak yang masih menggunakan seragam putih abu-abu tersebut, namun siapa sangkah ada perasaan menggerumuh
didalam hati mereka, ada yang mengatakan
senyum boleh terukir indah hingga
membentuk bulan sabit namun tak selamanya hati akan secerah matahari. Karna
setiap pertemuan pasti ada perpisahan.
enam tahun telah saya lewati, Pada akhirnya tiba masa itu, masa dimana tak ada satu
pun diantara kita para santri yang menantikan kedatangannya, hari perpisahan.
Tak terasa sederet rentetan ujian kelulusan sudah dilewati, Kabar kelulusan
ujian nasional sudah mulai terdengar, kata syukur pun tak ada henti-hentinya
dilafdzkan karena dengan begitulah kita akan menjadi seorang hamba yang paling
bahagia dihadapan Rabnya. Tampak jelas senyum yang terukir indah dibibir
anak-anak yang masih menggunakan seragam putih abu-abu tersebut, namun siapa sangkah ada perasaan menggerumuh
didalam hati mereka, ada yang mengatakan
senyum boleh terukir indah hingga
membentuk bulan sabit namun tak selamanya hati akan secerah matahari. Karna
setiap pertemuan pasti ada perpisahan.
Begitulah nol
koma sekian persen cerita kehidupan saya dipondok, karena masih banyak lagi
cerita-cerita perjalanan saya dikota metropolitan ini, mungkin saya tak dapat
menceritakan kisah ini kepada seseorang namun ada secarcik kertas yang selalu
menanti tinta kehidupan saya untuk diabadikan nantinya. Karena pada hakikatnya
semua orang ingin didengarkan tapi belum tentu ingin mendengarkan.
koma sekian persen cerita kehidupan saya dipondok, karena masih banyak lagi
cerita-cerita perjalanan saya dikota metropolitan ini, mungkin saya tak dapat
menceritakan kisah ini kepada seseorang namun ada secarcik kertas yang selalu
menanti tinta kehidupan saya untuk diabadikan nantinya. Karena pada hakikatnya
semua orang ingin didengarkan tapi belum tentu ingin mendengarkan.







