Pelataran Duka

Pelataran Duka

Oleh : Ilman Mahbubillah

Di tepi malam yang menyongsong usia, kembali kubakar dupa dari sisaku berdoa. Kurindukan sosok pemenuh dahaga dalam kubangan air mata, menari di altar luka yang bertahta. Merayakan duka atas berbagai rasa sakit, menyanjung nestapa sebagai penawar bagi cinta yang terlanjur pahit. Pada surga yang salah kita sempat jatuh cinta, hingga selami derita selama asa masih terbuka.

Kita berdua sempat berkata; “Ini adalah tanah paling damai, yang bernama Utopia” tapi naas, berbagai hujan lalu dikirimkan untuk membasahi pipi dan jiwa. Angin yang merayap di sela sunyi, bergegas membawa nama yang kini asing tanpa bunyi. Ia menjelma mantra tanpa makna, hampir tak berguna dan sia-sia. Seperti kidung yang kehilangan nadanya.

Kubuka kembali serat-serat ingatan kala bahagia, tentang genggaman yang kau berikan seiring senyummu yang merekah dengan indahnya. Kini tatapan meredup dengan paksa yang perlahan merubah cinta menjadi fana. Kini kita mati dalam keadaan saling bertanya, apakah sepucuk rindu yang patah peraduannya akan kembali saat musim semi memanggilnya?

Katamu aku tak boleh meratap, dengan suara dan syahdu matamu; tempat bagi semayamnya tatapku. Benar, aku takkan meratap! Aku hanya menyusun puing harapku sembari mengangkat gelas berisi rindumu, lalu kuminum sebagai obat kehilanganku. Kunikmati setiap teguk kenangan bersamamu lalu kubiarkan manis-pahitnya menenggelamkan hatiku.

Sebagaimana kisah gadis belia yang renta sebab derita yang menusuk relungnya. Selalu bertemu duka dan sungkawa, tak berhasil menjamah lupa karena setia. Akhirnya tanah yang tadinya ia sangka Utopia menjadi daratan derita yang ia tinggali bersama pilu dan sengsara. Aku tak berharap kejadian serupa, tapi justru kau yang malah mewujudkannya.

Namun jika nanti kau datang dan pintu itu masih terbuka, ketauhilah! Bahwa orang yang berdiri sendiri malam ini, adalah sosok yang hidupnya sempat kau buat merana. Melewati setiap lelap, mengarungi berbagai gelap, berdamai dengan harap, serta merajut kembali rasa yang lenyap. Maka, penuhi dahaganya dengan asa dan rasa, hiduplah dengan doa dan bahagia, lalu berakhir lah dengan suaka dan cinta.

Author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Facebook
Twitter
WhatsApp