Mengapa Daerah Timur Tengah Disebut Timur ?

Mengapa Daerah Timur Tengah Disebut Timur ?
Oleh: Ahmad Mumtaaz

Ketika kita melihat peta terkhusus peta dunia, daerah yang kita kenal sebagai
“Timur Tengah” selalu berada di sebelah kanan atau sebelah timur dari Eropa. Namun,
penamaan “Timur Tengah”sesungguhnya bukanlah istilah yang lahir begitu saja dari
geografi alami, melainkan sebuah sejarah dan peran politik yang berangkat dari sudut
pandang Eropa. Pada peta-peta kuno Eropa abad pertengahan, bahkan timur sering
diletakkan di atas, karena arah matahari terbit dianggap sakral dan berkaitan dengan
Yerusalem atau Eden (Geography Realm, 2023). Seiring berkembangnya navigasi
modern, peta mulai menggunakan konvensi “utara di atas,” sehingga wilayah Asia dan
Timur Tengah secara visual berada di sisi kanan Eropa. Hal inilah yang menguatkan
kesan bahwa daerah tersebut benar-benar “timur,” padahal penamaan ini sepenuhnya
relatif terhadap posisi Eropa.

Istilah “Timur” sendiri berasal dari kata Latin oriens yang berarti “bangkit” atau
“terbit,” merujuk pada tempat matahari terbit. Dengan kata lain, “Timur” adalah istilah
hubungan, bukan istilah mutlak, ia berarti “timur dari Barat” (Wikipedia, 2024a). Dalam
perkembangan kolonial, lahirlah istilah Near East (Timur Dekat), Middle East (Timur
Tengah), dan Far East (Timur Jauh) untuk membedakan wilayah timur berdasarkan
jaraknya dari Eropa. Istilah “Middle East” diyakini mulai dipakai sekitar pertengahan
abad ke-19 di Kantor Urusan India Inggris, dan kemudian dipopulerkan oleh Alfred
Thayer Mahan pada 1902 dalam tulisannya tentang Teluk Persia (World Atlas, 2021).
Jurnalis Inggris Valentine Chirol kemudian menggunakannya dalam serial artikel “The
Middle Eastern Question,” sehingga istilah ini makin dikenal luas di awal abad ke-20
(Encyclopedia.com, 2024).

Mengapa disebut “tengah”? Karena wilayah ini dianggap berada di antara Near
East dan Far East dari sudut pandang geopolitik Barat. Inggris dan kekuatan Eropa
lainnya menganggap wilayah sekitar Teluk Persia, Laut Merah, dan Levant sebagai
kawasan strategis yang menjadi jembatan antara Eropa dan India (World Atlas, 2021).
Penamaan ini tidak netral: ia lahir dari kebutuhan kolonial untuk mengatur,
mengklasifikasikan, dan mengontrol jalur perdagangan serta militer. Setelah Perang
Dunia I dan II, penggunaan istilah Middle East menggantikan Near East hampir
sepenuhnya, dan mencakup wilayah yang kini kita kenal sebagai Mesir, Turki, Iran,
Arab Saudi, Suriah, Palestina, dan negara-negara sekitarnya (Wikipedia, 2024b).
Selain itu, istilah “Timur Tengah” juga memengaruhi cara dunia melihat identitas
budaya di kawasan tersebut. Banyak orang menganggap Timur Tengah sebagai satu
kesatuan yang homogen, padahal realitasnya sangat beragam: terdapat perbedaan
bahasa (Arab, Persia, Turki, Ibrani), perbedaan mazhab agama, hingga perbedaan
politik yang tajam. Penggunaan istilah yang menyatukan semua itu kadang

menyederhanakan kompleksitas sejarah dan budaya, membuat orang luar melihat
wilayah ini hanya sebagai “konflik” atau “minyak.” Kesadaran ini penting agar kita tidak
terjebak pada stereotip, dan mampu melihat Timur Tengah sebagai rumah bagi
peradaban-peradaban kuno seperti Mesopotamia, Mesir, dan Persia yang telah
memberi kontribusi besar bagi ilmu pengetahuan, seni, dan filsafat dunia (Farrokh,
2020).
Dengan demikian, “Timur Tengah” bukan hanya penanda geografis, melainkan
juga cerminan cara pandang dan kepentingan politik masa lalu. Istilah ini membawa
beban sejarah Euro-sentris, karena memandang dunia dari perspektif Eropa sebagai
pusat (Farrokh, 2020). Menyadari asal-usul penamaan ini membantu kita memahami
bahwa peta bukan hanya alat navigasi, tetapi juga alat kekuasaan yang membentuk
persepsi kita tentang ruang dan identitas. Mungkin sudah saatnya kita mulai
mempertimbangkan istilah yang lebih netral dan geografis, seperti “Asia Barat Daya”
(Southwest Asia), untuk menggambarkan wilayah ini tanpa membawa warisan kolonial
yang bias.

 

Referensi

Encyclopedia.com. (2024). Middle East. Diakses dari
https://www.encyclopedia.com/places/asia/middle-eastern-physical-geography/middle-
east
Farrokh, K. (2020). The Middle East: A 20th-century neologism that has run its
time. Diakses dari https://www.kavehfarrokh.com/eurocentricism/the-middle-east-a-
20th-century-neologism-that-has-run-its-time/
Geography Realm. (2023). Map orientation: North is not always up. Diakses dari

Map Orientation


Wikipedia. (2024a). East. Diakses dari https://en.wikipedia.org/wiki/East
Wikipedia. (2024b). Middle East. Diakses dari https://en.wikipedia.org/wiki/Middle_East
World Atlas. (2021). Why is it called the Middle East? Diakses dari
https://www.worldatlas.com/articles/why-is-it-called-the-middle-east.html

 

 

Pondok Pesantren Darun Nun

Author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Facebook
Twitter
WhatsApp