Ketika Iman Menjadi Rumah Pulang

Oleh: Hanifia Laila Harisi

Desa Pandan selalu tampak tenang setiap pagi. Embun menetes di ujung daun, ayam berkokok memecah sunyi, dan suara azan subuh menggema dari surau kecil di ujung kampung. Desa ini terkenal dengan penduduknya yang sederhana namun berpegang teguh pada ajaran agama. Di sinilah lahir seorang anak laki-laki bernama Ahmad Haikal, sibungsu dari delapan bersaudara.

Sejak kecil, Haikal dikenal nakal dan usil. Di pondok pesantrennya, ia sering membuat keributan menyembunyikan sandal teman, mencoret tembok, bahkan pernah ketahuan memanjat pohon mangga di halaman kiyai. Namun anehnya, justru kiyai sangat menyayanginya. Katanya, “Haikal ini memang bandel, tapi memiliki hati yang sangat baik.” Karna kala itu kiyai sering melihat dia merawat temannya yang sakit.

Haikal tumbuh di keluarga yang hidupnya pas-pasan. Ayahnya seorang petani, ibunya menjual kue di pasar. Sejak duduk di kelas empat SD, Haikal sudah membantu orang tuanya dengan bekerja di kebun orang dan menggembala domba. Dari situlah ia belajar bahwa kemiskinan bukan alasan untuk menyerah, melainkan alasan untuk berjuang.

Namun karena kenakalannya tak kunjung reda, orang tua Haikal akhirnya memutuskan memindahkannya ke sekolah di kota yang jauh sepuluh jam perjalanan dari rumah. Di kota itu, Haikal tinggal bersama saudara jauhnya. Siang bersekolah, malam bekerja di sebuah hotel kecil sebagai tukang bersih-bersih. Keringatnya menjadi saksi perjuangan seorang anak desa yang ingin mengubah nasib.

Saat teman-temannya sibuk merencanakan kuliah dengan biaya orang tua, Haikal
hanya bisa menatap langit dan berbisik,

“Ya Allah, kalau Engkau izinkan, aku ingin belajar setinggi langit, agar aku bisa
membahagiakan orang tuaku.”

Salah seorang teman memberikan informasi penftaran di universitas al-azhar mendengar hal itu haikal berkata kepada teman-temannya untuk kuliah disana, mendengar hal tersebut semua tertawa, mengira Haikal tak akan mampu menanggung biaya kuliah di sana. Namun dengan mata yang mantap, Haikal menjawab tegas, “Aku akan mencoba. Aku punya Allah yang Maha Kaya.”

Dan benar saja, dengan usaha dan doa orang tua, Haikal diterima di Universitas Al- Azhar, Kairo. Ia menjalani masa kuliahnya dengan penuh perjuangan; siang belajar, malam bekerja di kedai roti milik warga Mesir. Kedisiplinannya membuat dosen- dosen kagum, dan pada akhirnya Haikal lulus dengan predikat sangat memuaskan.

Setelah menyelesaikan studinya, Haikal mendapat tawaran bekerja di sebuah perusahaan di Malaysia. Di negeri jiran itu, ia tinggal di sebuah kos yang ternyata dihuni oleh oknum pengguna narkoba. Namun Haikal tidak terpengaruh sedikit pun. Ia justru menjadi sosok yang Imannya kokoh, seperti pohon besar yang akarnya menancap kuat di tanah.

Tahun demi tahun berlalu. Haikal mulai menata kehidupan dan berniat menikah. Ia sempat bimbang karena ada tiga perempuan yang hadir dalam hidupnya salah satunya perempuan cerdas dan berakhlak baik namun belum berhijab. Akhirnya, Haikal memilih perempuan tersebut, atas saran dan restu ibunya.

“Nak,” kata ibunya lembut, “pilihlah yang hatinya baik.”

Pernikahan mereka berjalan sederhana namun penuh berkah. Di awal rumah tangga, Haikal kembali diuji. Ia ditipu oleh kakak kandungnya sendiri, kehilangan tabungan dan usahanya. Ekonomi keluarga terpuruk. Namun sang istri tetap setia, tidak pernah mengeluh, dan menerima Haikal apa adanya. Dari situ, Haikal semakin yakin bahwa
kesetiaan dan iman lebih berharga daripada harta.

Ketika dikaruniai dua anak, ujian belum berhenti. Ia kembali empat kali tertipu dalam usaha. Namun Haikal tak pernah menyerah atau marah. Walaupun mendapat ujian yang sedemikian rupa Haikal juga menanamkan kepada keluarganya agar tidak mencari nafkah dari hasil syubhat (tidak jelas halal-haramnya). Kesabaran dan keteguhan itulah yang akhirnya mengubah nasibnya. Perlahan, usahanya bangkit kembali. Rezeki datang dari arah yang tak disangka-sangka. Ia menjadi pengusaha sukses dan dihormati masyarakat, karena dikenal jujur dan amanah.

Tahun demi tahun berlalu. Anak-anak Haikal tumbuh menjadi hafidz dan hafidzah, hafal Al-Qur’an sejak muda. Anak laki-lakinya menjadi dosen di universitas dinegara jiran, sementara anak perempuannya menikah dengan seorang lelaki saleh dari Brunei dan juga menjadi dosen di sana.

Anak-anaknya tumbuh dengan bai katas didikan yang selalu haikal tanamnkan seperti selalu berbuat baik kepada orang lain sekalipun orang itu jahat kepada kita & jangan memberikan anfkah dari hasil syubhal apa lagi haram. Sore itu, di beranda rumahnya, Haikal memandangi langit yang mulai memerah. Angin membawa suara azan dari surau kecil yang dulu sering ia datangi sebagai anak nakal. Ia tersenyum dan menutup mata pelan, membisikkan doa,

“Ya Allah, akhirnya aku mengerti… rumah yang sebenarnya bukan di tempat aku
tinggal, tapi di dalam iman yang selalu Kau jaga.”

Pesan Cerita
Kisah Haikal mengajarkan bahwa setiap ujian hidup adalah jalan pulang menuju
Allah. Selama seseorang memegang sabar dan iman, ia tak akan kehilangan arah
karena imanlah rumah tempat kita selalu bisa kembali.

 

Pondok Pesantren Darun Nun

Author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Facebook
Twitter
WhatsApp