
Oleh: Dimas Indra Pratama
Di dunia investasi, hasil akhir seringkali cuma dinilai dari seberapa pintar atau kerasnya kerja seseorang. Padahal, kenyataannya jauh lebih rumit. Seperti yang diulas dalam buku The Psychology of Money (Housel, 2020), risiko dan keberuntungan itu ibarat dua tenaga dari luar yang sangat menentukan sebagian besar hasil dalam hidup kita, di luar usaha keras. Kalau kita paham bahwa keduanya adalah dua sisi mata uang yang sama di mana untung bisa langsung jadi buntung kita bisa punya pikiran yang lebih waras saat mengatur keuangan dan mengambil keputusan investasi.
Morgan Housel menekankan betapa pentingnya bersikap rendah hati (humility) saat menilai sukses dalam uang. Misalnya, kalau kita lihat suksesnya Bill Gates, kita pasti fokus ke otaknya yang cerdas, tapi sering lupa sama faktor hoki seperti waktu dan tempat dia lahir (Housel, 2020). Begitu juga sebaliknya, kegagalan orang lain mungkin terjadi karena risiko yang tidak bisa dihindari, bukan karena bodoh. Dengan mengakui bahwa keberuntungan punya peran besar saat untung dan risiko yang tak terduga saat rugi, kita jadi tidak sombong waktu sukses dan tidak gampang putus asa waktu rugi.
Pilihan investasi kita juga menunjukkan seberapa jauh kita paham risiko. Investasi yang paling diutamakan adalah investasi leher ke atas alias ke dunia pendidikan. Seseorang yang mau memprioritaskan skill dan pengetahuan (investasi leher ke atas) sebelum lompat ke instrumen berisiko tinggi seperti saham atau kripto, sebenarnya sedang membangun Margin of Safety yang paling kuat. Housel bilang punya skill atau gaji yang lebih baik itu aset paling mahal dengan hasil (return) yang nilainya tak terhingga (bahkan bisa sampai 10 kali lipat), karena hal itu mengurangi ketergantungan kita pada tebak-tebakan waktu pasar yang penuh risiko.
Meski investasi pada diri sendiri bisa mengurangi risiko, tetap saja tidak ada investor, bahkan sekelas Warren Buffett, yang bisa menghindari peristiwa Angsa Hitam (Black Swan) atau risiko yang tidak terduga. Karena kita tidak akan pernah bisa tahu kapan krisis atau pandemi berikutnya datang, kesalahan terbesar dalam investasi itu bukan salah pilih keputusan, melainkan tidak bisa bertahan dalam permainan (survival) (Housel, 2020). Prinsip ini menuntut kita untuk selalu mengutamakan uang kas (likuiditas), punya dana darurat, dan mengelola portofolio sedikit lebih santai agar kita punya amunisi untuk menahan guncangan besar tanpa harus terpaksa menjual aset.
Intinya, mengelola uang itu bukan cuma urusan matematika dan rumus ini adalah ilmu sosial yang tergantung pada bagaimana emosi kita menyikapi risiko dan keberuntungan. Sukses finansial dalam jangka panjang bukan milik orang yang paling cerdas, tapi milik mereka yang paling tenang secara emosional. Yaitu mereka yang mau menerima peran keberuntungan, tetap rendah hati, dan berinvestasi dengan strategi dan memastikan mereka bisa terus hidup untuk waktu yang sangat lama.
Referensi
Housel, M. (2020). The psychology of money: Timeless lessons on wealth, greed, and happiness. Harriman House.
Pondok Pesanren Darun Nun







