
Oleh: Mahrotul Fithonah
Ada cahaya yang jatuh tanpa memilih, menelusup lewat jendela, membelai wajah yang berbeda-beda dengan hangat yang sama. Seperti embun yang tak pernah bertanya di atas daun mana ia akan singgah, ia hanya hadir, memberi kesejukan.
Ada lingkaran yang tak pernah putus, tempat segala langkah menemukan jejaknya. Bagaikan api unggun di tengah malam, ia mengundang siapa saja untuk duduk melingkar, saling berbagi cerita, tanpa ada satu pun yang dibiarkan kedinginan di luar cahaya.
Ada taman yang luas, dimana mawar merah, melati putih, anggrek ungu, dan bahkan ilalang sederhana tumbuh berdampingan. Seperti kanvas yang dilukis dengan warna-warna berani, keindahannya justru lahir dari keberagaman goresan.
Ada simfoni yang tercipta dari segala nada: tinggi, rendah, berat, maupun bening. Ibarat hujan yang jatuh di atap seng, genteng tanah, dan tanah basah yang berbeda bunyi, namun tetap satu irama yang menenangkan.
Dan ada hati yang lapang seperti samudra, menampung sungai-sungai yang datang dari arah berbeda. Tidak ada sungai yang ditolak, tidak ada arus yang diusir. Semuanya diterima, dijadikan satu aliran yang luas, tempat siapa saja bisa menemukan rumah untuk pulang.
Pondok Pesantren Darun Nun







