
Oleh: Mahrotul Fithonah
29 Juli silam menjadi tanggal yang tak lagi sama. Hari itu, salah satu cahaya penyemangatku padam, kembali ke pangkuan Ilahi untuk diadili. Seakan langit pun ikut menunduk dan bumi larut dalam keheningan yang panjang. Awan hitam menyelimuti langit seperti turut berbelasungkawa atas kepergiannya. Udara tiba-tiba menjadi berat dan setiap hembus napas terasa sesak oleh duka yang menepuk dada. Ia adalah sosok yang ditempa oleh kerasnya kehidupan, namun hatinya tetap selembut doa yang ia bisikkan. Dari matanya aku belajar keteguhan, dari langkahnya aku mengenal arti pengorbanan, dan dari diamnya aku mengenal makna ketulusan yang sesungguhnya. Sabar telah menjadi napasnya, ikhlas telah menjadi langkahnya. Tak ada keluh, tak ada amarah hanya pasrah yang tenang dalam setiap ujian yang datang.
Didikan keras ia lewati, ujian berat ia hadapi, hingga akhirnya tubuh renta itu menyerah pada takdir dan terbaring belasan tahun lamanya. Waktu seakan terhenti disekitar tubuhnya yang lemah, namun jiwa dibalik raga itu tak pernah benar-benar rapuh. Sesekali matanya terbuka, menatap dunia dengan sorot lembut yang menenangkan. Ia tetap tersenyum seolah-olah berkata bahwa kesakitan bukan alasan untuk berhenti bersyukur.
Di tengah sunyi ia tetap teguh. Meski tubuhnya rapuh namun jiwanya kokoh. Bibirnya tak henti melantunkan kalimat-kalmat indah, tasbih lirih yang naik ke langit bersama doa-doanya. Setiap ucapannya adalah dzikir, setiap diamnya adalah bentuk ketundukan. Kesunyian tidak pernah membuatnya sendiri, sebab hatinya selalu berlabuh pada sang Ilahi. Namun, aku hanya bisa menatap dari jauh dengan perasaan yang patah. Wajahnya pucat namun damai. Dalam diamnya, ada pelajaran yang tak mampu disampaikan oleh kata-kata. Ia mengajarkan bahwa kekuatan sejati bukanlah pada tangan yang mampu menggenggam, melainkan pada hati yang sanggup melepaskan dengan lapang.
Kini setelah kepergiannya, rumah terasa berbeda. Sudut-sudut yang dulu penuh dengan nasihat dan doa kini menjadi sunyi. Tak ada lagi suara lembut yang memanggil namaku, tak ada lagi tatapan hangat yang menenangkan. Hanya rindu yang menggema, menelusuri setiap ruang dan waktu. Rindu yang tak bisa dijemput, hanya bisa dikirim lewat doa. Kini ku menyadari betapa kecil usahaku dibanding keteguhan yang ia ajarkan, betapa sempit daya upayaku saat ia begitu luas dalam kesabaran. Aku menyesal bukan karena tak sempat mencintainya sepenuh hati, tapi karena sering lupa menunjukkan cinta itu selagi masih ada. Dan kini, yang tersisa hanyalah doa yang terbata serta kenangan yang tak pernah lekang oleh waktu.
Setiap kali aku menatap langit malam, aku teringat padanya. Mungkin di sanalah kini ia beristirahat, di tempat yang tak lagi mengenal sakit dan derita. Aku percaya, Tuhan sedang memeluknya dengan kasih yang tak bertepi — kasih yang sepadan dengan kesabaran yang ia tanam selama hidupnya. Aku tidak ingin larut dalam duka. Sebab ia tidak pernah mengajarkan untuk menyerah pada kesedihan. Ia mengajarkan bahwa setiap kehilangan hanyalah cara Tuhan untuk mengingatkan kita tentang arti syukur dan keteguhan. Maka biarlah rindu ini menjadi jembatan antara bumi dan langit, antara doa dan keabadian. setiap kali aku melangkah, aku membawa sedikit dari dirinya kesabarannya, keikhlasannya, dan cintanya yang abadi. Ia mungkin telah tiada, namun ajarannya hidup dalam setiap detak jantungku. Dan di setiap sujud, aku masih menyebut namanya dalam bisikan lirih, agar Tuhan tahu betapa aku merindukan sosok yang kini telah menjadi cahaya di surga.
Pondok Pesantren Darun Nun







