
Oleh Yahdil Falakhi Alkhikam
Di sebuah desa yang jauh dari hiruk pikuk kota, hidup seorang pemuda bernama Sulaiman. Orang-orang di kampung memanggilnya Leman Sakti. Julukan itu bukan tanpa alasan bukan karena ia bisa terbang, menembus dinding, atau kebal senjata, melainkan karena ketenangan dan kesabaran yang ia miliki. Di tengah masyarakat yang masih percaya pada kesaktian mistik, Sulaiman menjadi sosok yang berbeda: sakti tanpa klenik.
Suatu hari, seorang pendatang datang ke desanya. Namanya Ronggo, seorang dukun muda yang baru pindah dari daerah sebelah. Ia terkenal karena bisa “menyembuhkan” orang dengan ritual aneh dan menjanjikan kekayaan dalam semalam. Banyak warga tertarik padanya, terutama mereka yang haus akan jalan pintas menuju keberuntungan.
Sulaiman hanya tersenyum melihat perubahan warganya. Warung yang dulu ramai oleh canda tawa kini dipenuhi bisik-bisik orang yang ingin belajar “ilmu cepat kaya.” Ia tahu, tak semua bisa disalahkan. Di zaman yang serba sulit, godaan jalan pintas selalu tampak lebih mudah daripada jalan sabar dan kerja keras.
Suatu malam, Ronggo datang ke rumah Sulaiman.
“Leman, aku dengar kau dianggap sakti oleh warga sini,” katanya dengan nada meremehkan.
Sulaiman tersenyum kecil. “Entahlah. Aku hanya mencoba tidak membalas keburukan dengan keburukan.”
“Ah, jadi kau pikir kesabaran itu kesaktian?” ejek Ronggo sambil tertawa. “Ilmu seperti itu tak membuat orang kaya atau berkuasa.”
Sulaiman menatapnya lembut. “Mungkin tidak membuat kaya, tapi membuat hati tenang.”
Beberapa bulan kemudian, kabar buruk datang. Salah satu warga yang mencoba “ilmu cepat kaya” dari Ronggo justru kehilangan hartanya. Barang-barang berharga dijual untuk membeli sesajen dan benda keramat. Ketika uang habis, Ronggo menghilang tanpa jejak. Desa menjadi gaduh, sebagian menyesal, sebagian lagi marah.
Namun di tengah kekacauan itu, Sulaiman tetap tenang. Ia membantu tetangga- tetangganya yang kesulitan, tanpa pernah mencaci mereka yang dulu menertawakannya. Ia memperbaiki pagar rumah yang rusak, menemani anak-anak belajar mengaji, dan membantu para janda menanam di sawah. Ia tidak memiliki tongkat ajaib, tidak mengucap mantra, tetapi perbuatannya mengubah suasana desa menjadi lebih damai.
Lama-kelamaan, warga sadar bahwa kesaktian sejati bukan pada ilmu gaib, melainkan pada hati yang sabar dan tangan yang tulus membantu.
“Leman,” kata seorang warga tua suatu sore, “ternyata benar, sakti itu bukan berarti kebal senjata, tapi kebal dari keserakahan.”
Sulaiman hanya tersenyum. “Kesaktian sejati adalah mengalahkan diri sendiri.”
Tahun-tahun berlalu. Nama Ronggo dilupakan, tetapi kisah Sulaiman terus diceritakan. Setiap anak desa diajari bahwa sakti bukan berarti menundukkan alam, melainkan menundukkan hawa nafsu. Sulaiman tidak pernah menganggap dirinya istimewa, tapi dari keteguhan dan kebijaksanaannya, orang-orang belajar bahwa kebajikan yang konsisten jauh lebih kuat dari segala mantra dunia.
Di senja terakhir hidupnya, ia duduk di beranda sambil menatap langit jingga. Ia tersenyum kecil dan berbisik, “Bila manusia percaya pada kebaikan, dunia tak butuh lagi kesaktian palsu.”
Dan begitulah, Sulaiman dikenang bukan sebagai orang yang kebal, tapi sebagai orang yang paling kuat melawan dirinya sendiri.







