Oleh: Muhammad Thoriq Abdul Jabbar
Kertas kertas menumpuk, tinta mengiring di pena,
Malam kian larut, suara berhening jua.
Materi tak habis, tugas tak tertepi
Raga ini lelah, pikiran pun tak terganti.
Dingin kopi hitam, teman setia bergadang,
Mimpi-mimpi esok sekakan tak terbayang.
Ucapan yang terus datang “ cepat kumpulkan,”
Hati berbisik, “semant, jangan lemah!’’
Namun fajar datang, sinarnya menyala,
Lelahku bukan sia, ia akan berharga.
Setiap tetes dari keringat, setiap tarikan nafas,
Adalah arah juang, mencari ilmu yang tulus.
Kulepas lelahku, kuganti dengan doa,
Agar ilmu tak hanya di kepala.
Menjadi bekal nanti, menjadi cahaya terang,
Semua lelahku ini, memjadi lillah yang benderang.







