Kukira Sementara, Ternyata Selamanya

Oleh Zid-li Auliyana Luthfillah

Kisah ini bermula di sebuah pertengahan bulan Mei, saat hawa dingin malam di pondok terasa lebih menusuk dari biasanya. Bukan karena cuaca, melainkan karena suasana hatiku yang telanjur anyep. Riuh suara para santriwati yang baru pulang taklim bergeming, tapi aku memilih bertapa di depan laptop.

Tiba-tiba, sebuah suara yang sangat kukenal memecah konsentrasiku.

“Nia, kamu kapan mau menggelar kasur?”

Itu suara Vivi. Pertanyaan itu terdengar begitu kasual, seolah-olah tidak ada badai yang hampir meledak di antara kami sejak kemarin. Aku bahkan tidak menoleh. Jangankan menjawab, melirik pun aku enggan. “Sumpah, ngapain juga urusan menggelar kasur harus nanya-nanya ke aku?” batinku ketus, sambil terus jemariku menari kasar di atas keyboard.

Aku bukan tipe orang yang pelit berbagi, tapi kalau kebaikanmu mulai diinjak-injak, siapa yang bisa tahan?

Semua ini bermula ketika semester baru dimulai. Sejak awal, aku memang mengajukan diri untuk tidur di ruang tengah pondok lantai dua yang luas, bukan di dalam kamar. Biasanya aku tidak sendiri, ada dua temanku yang menemani. Kami bertiga membuat sudut ruang tengah itu menjadi tempat tidur yang nyaman. Namun, semester ini terasa sepi. Teman-temanku harus pergi ke luar kota, yang satu magang, dan yang satu lagi sedang melaksanakan program Asesmen Mengajar (AM) selama satu semester penuh. Jadilah aku penguasa tunggal di hamparan karpet itu.

Suasana mulai berubah riuh sejak dua minggu lalu ketika pengasuh pondok memutuskan untuk merenovasi bangunan. Suara hantaman palu, debu semen yang beterbangan, dan derit besi menjadi makanan kami sehari-hari. Pak tukang menjebol dinding kamar lantai satu untuk dibuatkan pintu sambungan, menggeser tempat jemuran, hingga membangun sebuah tangga besi melingkar berwarna hitam legam yang menghubungkan balkon lantai dua langsung ke halaman bawah.

Karena proses renovasi tersebut, orang-orang yang biasanya tidur di bagian bangunan yang sedang dibongkar terpaksa mengungsi. Mereka pindah ke tempatku karena tempat masih sangat luas. Aku yang dasarnya fleksibel, tentu saja tidak keberatan. Ditambah lagi, belakangan ini aku juga sering menumpang tidur di kamar salah satu teman yang kebetulan sedang sepi karena salah satu anggota kamarnya juga sedang pergi mengikuti program Asesmen Mengajar (AM).

Namun, roda berputar. Ketika anggota kamar itu sudah kembali ke pondok, aku mulai merasa sungkan, aku ini hanya pendatang. Akhirnya, dimulailah petualangan tidur nomadenku. Kadang aku menggelar kasur di luar, kadang di pojok kamar orang lain, bahkan beberapa malam terakhir aku memilih tidur di balkon atas yang untungnya sudah sempat kubersihkan.

Aku mengalah demi kenyamanan bersama. Tapi ternyata, mengalah terlalu lama membuat orang lain lupa bahwa aku juga punya hak di sini.

Puncaknya terjadi pada suatu Minggu malam, tepat setelah maghrib. Aku sedang duduk sendirian di balkon, ditemani temaram lampu dan tumpukan tugas kuliah yang tenggatnya besok pagi. Dari arah ruang tengah, sayup-sayup aku mendengar suara Vivi yang sedang berbicara dengan orang-orang di sana.

“Mbak-mbak, jadi nanti tidurnya gini ya. Sama Nia juga, soalnya kasihan dari kemarin dia pindah-pindah terus. Kadang di sini, kadang di kamar, kadang di balkon. Nanti Nia ditaruh di dekat pintu jemuran aja ya,” kata Vivi dengan nada mengatur.

Tangan yang sedang mengetik diatas keyboard langsung terhenti. Dadaku mendadak sesak oleh rasa tidak percaya.

“Lah?! aku malah dilempar-lempar begini?” batinku meradang. “Mereka sadar diri nggak sih, selama ini aku yang ngalah biar mereka bisa tidur nyaman? Sekarang tukang sudah selesai dengan pekerjaannya, kok aku yang malah didepak?”

Belum sempat aku mencerna kekesalanku, suara Vivi kembali melengking dari ruang tengah, memanggil-manggil namaku untuk memastikan posisiku, “Niaaa… Niaaa… Nia? Nia dimana sih? Nia?.”

Aku mendengar setiap seruannya, tapi aku memilih membisu, menatap layar laptop dengan pandangan kosong. Tanganku mengepal. Aku sudah dongkol setengah mati, tapi aku menahannya sekuat tenaga. Aku tahu tabiatku, sekali aku membuka mulut dalam kondisi begini, kata-kata yang keluar dari bibirku bisa menusuk langsung ke jantung.

Dan aku harus menahan diri karena malam itu ada acara penampilan lomba drama yang diselenggarakan oleh MDI (Madrasah Diniyah Intelektual). Kebetulan, tim santri putri kami menampilkan drama Malin Kundang, dan Vivi ikut andil sebagai salah satu aktor yang perannya cukup penting dalam pertunjukan. Aku sengaja tidak menyemprotnya sekarang. Aku takut dia bakal ngambek dan mogok ikut kegiatan seperti kelakuannya tadi subuh.

Ya, tepat saat subuh, Vivi baru saja cekcok hebat dengan salah seorang pengurus pondok dan beberapa santriwati lain gara-gara tangga hitam melingkar yang baru selesai dibangun. Tangga itu masih kotor dan penuh debu sisa renovasi, sehingga anak-anak yang mau ke lantai satu terpaksa menggunakan sandal. Vivi yang melihat hal itu langsung menegur dengan nada tinggi.

“Hei! Jangan pakai sandal ke situ, itu suci!” seru Vivi. 

“Lah, tapi mbak-mbak dari kemarin juga pada pake sandal kok,” bela salah satu santriwati. 

“Haduh, kah mensucikan lagi kan!” gerutu Vivi sengit. 

Santri lain yang baru saja datang mencoba menengahi, “Ini loh belum di roan-in (kerja bakti), nanti kita bersihkan bareng-bareng.” 

“Nanti kapan? Mbak-mbak siapa yang mau bersihin?” cecar Vivi tak mau kalah. 

“Ya mbak-mbak pondok,” jawab pengurus itu sabar. 

“Sebut nama! Siapa?!” tantang Vivi.

Aku yang menyaksikan perdebatan subuh itu dari kejauhan hanya bisa membatin, “Walah, biarin ajalah, mulai kumat lagi.”

Bahkan setelah salat subuh di masjid, Vivi menolak aku ajak pulang bersama karena masih ngambek. Dia memilih tinggal di masjid dengan alasan mau shalat dhuha sekalian. Benar saja, sesampainya di pondok, teman sekamarnya mengabarkan kalau Vivi mengirim pesan izin tidak bisa ikut kegiatan jalan-jalan pagi dan senam bersama tanpa alasan yang jelas. Mengingat drama subuh itu, aku memilih memendam amarahku malam ini demi kelancaran panggung drama. Biarkan acara selesai dulu.

Kembali ke balkon malam itu. Ketika aku masih menatap laptop dengan sisa-sisa kekesalan, Zulfa, teman sekamar Vivi lewat bersama seorang temannya untuk keluar pondok melalui tangga besi yang baru. Kesempatan ini tidak kusia-siakan. Karena dia adalah orang yang posisi tidurnya paling dekat dengan Vivi, aku langsung mengutarakan isi hatiku.

“Mbak, kenapa nggak dia aja sih yang pindah? Kok malah aku yang dilempar-lempar? Selama ini aku diam loh mereka tidur di tempatku karena emang keadaan lagi renovasi. Sekarang tukangnya sudah selesai, kok malah aku yang diusir?”

Zulfa tertegun, sementara teman yang berada di sampingnya langsung mengangguk setuju. “Iya, dia selama ini sudah banyak mengalah.”

“Bilangin ke dia, Mbak. Males aku kalau diginiin terus,” lanjutku. Aku memang bisa tidur di mana saja, tapi bukan berarti aku bisa dimanfaatkan seolah-olah aku tidak punya perasaan. Dikira orang yang diam itu hatinya juga ikut diam?

“Aku selama ini menumpang di kamar sebelah, tapi sekarang orangnya sudah datang, ya aku sungkan. Mau balik ke tempatku yang biasanya, malah penuh sama kalian,” keluhku menumpahkan semua ganjalan.

“Iya, nanti tak bilangin ya. Emang harusnya semua balik ke tempat masing-masing sih kalau renovasi udah kelar,” jawab Zulfa menenangkan sebelum mereka melanjutkan aktivitas.

Malam semakin larut. Acara pentas drama MDI akhirnya selesai sekitar pukul sepuluh malam. Pementasan berjalan lancar, dan untungnya emosiku berhasil diredam dengan baik sepanjang acara.

Begitu kembali ke pondok, aku langsung membuka laptop lagi di sudut ruang tengah. Besok pagi aku ada jadwal presentasi penting yang bahannya belum sepenuhnya siap. Vivi belum terlihat datang saat itu.

Zulfa yang sedang bersiap-siap tidur menoleh ke arahku yang sedang konsen menatap layar. “Nia jadi tidur di mana? Sini dah, tidur bareng aku saja.”

“Bilangin dulu sama yang itu, suruh dia pindah,” ucapku dengan nada sedatar papan tulis, sementara mataku tetap terpaku pada layar laptop, jemariku mengetik tanpa putus.

“Iya Nia, udah tak bilangin tadi pas jalan balik. Kemana emang anaknya sekarang?” tanyanya. 

Aku hanya diam, malas menanggapi.

Beberapa menit kemudian, yang dibicarakan akhirnya muncul. Dengan langkah santai tanpa dosa, Vivi melangkah masuk. Tanpa rasa bersalah sedikit pun, dia berjalan mendekat dan bertanya dengan suara lantang yang terdengar sangat percaya diri, “Nia jadi tidur di mana?”

Aku tidak bergeming. Aku menganggapnya seolah-olah dia adalah embusan angin lalu. Tidak kuraba, tidak kugubris.

Namun di dalam kepalaku, aku sudah berteriak sekencang-kencangnya menjawab pertanyaan itu, “YA MENURUT LU?!”

Wajahku bertekuk asam, datar, dan dingin. Aku terus memandangi laptop, membiarkan keheningan yang canggung menjawab pertanyaannya.

Meskipun pada akhirnya malam itu aku mendapatkan tempat tidur yang layak di samping temannya, ada satu hal yang membuatku mendengus kesal sebelum memejamkan mata. “Tunggu sebentar… ini kan emang area tempat tidurku dari awal semester, kenapa kesannya aku yang dikasih belas kasihan?!”

Ego fleksibelku benar-benar diuji, dan malam itu aku belajar satu hal: mengalah memang baik, tapi pastikan orang lain tahu bahwa tempatmu mengalah bukanlah tempat sampah yang bisa mereka atur sesuka hati.

Author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Facebook
Twitter
WhatsApp