Oleh Rizkha Nafanda Wulandari
Senin selalu punya cara sendiri untuk menakar kewarasan manusia. Ia datang tanpa permisi, membawa gemuruh yang jamak.
Pagi itu, matahari mulai naik ketika aku melangkah membelah trotoar menuju halte. Bagiku, ritual pagi ini merupakan pembuka gerbang rutinitas. Setelah day-off tiga hari di weekend aku dipaksa bangkit untuk menjalani hari lebih produktif. Seperti biasa, setelah aku masuk ke armada yang mengantarkanku berangkat kerja, aku langsung menempelkan e-money ku ke mesin pemindai. Check-in berhasil. Aku berpindah fokus melihat sisa saldo yang tertera disana. Angka nol mutlak tampil menggelitik. Ah, top-up saldo kemarin sore rupanya menguap entah ke mana, atau mungkin sistem sedang enggan bekerja sama. Beruntung semesta bersahabat. Moda transportasi ini mengizinkan penumpangnya melenggang gratis cukup dengan check-in dan check-out yang seakan formalitas.
Singkat cerita, waktu yang dinantikan para kaum teng-go hampir tiba. Di sela-sela tumpukan tugas yang harus aku selesaikan, aku bermaksud memastikan detail pekerjaan kepada supervisorku. Jari-jemariku menari di atas papan ketik, mengirimkan pesan melali aplikasi hijau di layar laptop. Namun, belum sampai jawaban yang kutunggu datang, layar laptopku mendadak putih, melemparkanku keluar dari sistem. Mendapati itu, aku beralih mengambil ponselku.
Ketika aku mencoba membuka, aku dibuat nge-freeze seketika. Yaaa, whatsapp ku mengalami restart. Aku dihadapkan oleh amnesia paksa. Di dalam aplikasi itu, aku merawat sebuah ruang sunyi, sebuah grup berisikan aku seorang diri. Ruang itu adalah eksistensi dari otakku, sebuah diari digital tempat aku menyimpan printilan hidup. List belanjaan, nota-nota usang, catatan belajar, dokumentasi yang ingin kuabadikan, semuanya kutitipkan disana. Namun, akibat itu, segala arsip perpustakan ingatan yang belum sempat kucadangkan terpaksa hilang begitu saja.
Sembari menunggu jam pulang, aku meratapi kehilangan itu, tak lupa membujuk hatiku untuk luluh mengikhlaskan sesuatu yang fana.
Kelelahan fisik bersekongkol dengan kekosongan jiwa, merayuku untuk segera merebah beristirahat. Sehingga, aku yang terbiasa jalan kaki menuju jalan raya, memutuskan untuk memesan ojek online, memilih satu-satunya mitra roda dua yang diizinkan membelah kawasan kantorku hingga ke lobi tanpa dipungut biaya. Akses menuju kantorku mensyaratkan setiap pengunjung memiliki tiket masuk, termasuk driver ojek online yang mana ia harus menunjukkan pesanan untuk ditukar dengan tiket ber-barcode yang dapat discan untuk membuka portal di pintu keluar.
Malangnya, sore itu aku dipertemukan dengan pengemudi yang masih pertama kali mengambil orderan masuk di kawasan ini. Baginya, secarik kertas dari penjaga loket hanyalah kerta biasa. Ia meletakkan begitu saja di dasbor motor. Dan hembusan angin sore itu, menerbangkan tiket ke udara, hilang di antara deru mesin kendaraan lain.
Sehingga ketika kami tiba di pintu keluar, portal besi itu bergeming, mengadang kami yang hendak keluar. Untung saja, selain dibekali barcode digital akses pejalan kaki aku juga memiliki barcode digital akses kendaraan yang bisa aku gunakan. Namun, ironi kembali menertawakanku, aku baru saja ingat barcode itu tersemat manis di ruang sunyiku yang satu jam lalu baru saja musnah. Aku belum sempat mengunduhnya ke dalam manajer berkas ponselku. Aku dihadapkan pada kenyataan bahwa memoriku telah terhapus.
Dalam kepanikan yang mulai menjalar, aku mengetikan pesan kepada seorang rekan kerja. Beruntungnya, ia membalas dengan cepat, sebuah tangkapan layar barcode dikirimkan, dan portal besi itu akhirnya terangkat. Aku menghembuskan napas panjang, membayangkan kasur kos yang melambai-lambai di pelupuk mata.
Namun, Senin belum selesai mewarnai hariku.
Sesampainya di depan kos, gerbang besi itu terkunci rapat. Otakku mendadak buntu ketika mencoba mengingat kombinasi angka kata sandinya. Biasanya, aku hanya perlu mengandalkan arsip pesan di ponsel untuk menyontek angka-angka itu. Sekarang? Layar ponselku bersih tanpa dosa. Aku terpaksa berdiri termangu menunggu penjaga kos membukakan gerbang.
Setelah rentetan drama melelahkan itu terurai satu demi satu, dengan sisa-sisa daya yang hampir mencapai batas kritis, aku menapaki anak tangga menuju kamarku. Langkahku berat, seberat kelopak mataku.
Pip… pip… pip…
Sebuah simfoni ganjil bernada melengking menyambut kedatanganku di koridor. Suara jeritan token listrik yang sekarat. Dari sekian banyak kamar, ternyata bahwa salah satu jeritan itu berasal dari meteran listrikku sendiri. Dengan sisa tenaga yang dipompa oleh rasa lelah yang memuncak, aku segera membeli dan memasukkan digit-digit token listrik ke dalam mesin.
Seketika, suara lengkingan itu reda, digantikan oleh pendar cahaya lampu kamar yang hangat menyiram tubuhku. Aku menjatuhkan diri ke atas kasur. Senin yang carut-marut akhirnya melunak, membiarkanku terlelap di dalam kamar yang terang, meski beberapa bagian dari ingatan digital pribadiku telah menggelap tak bersisa.







